Tampilkan postingan dengan label Daur ulang militan di Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daur ulang militan di Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (35)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (34)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

D. HARUN: SATU MAN USIA PENGHUBUNG KE AMIN, CIMANGGIS, DAN BANTEN

Masalahnya adalah Harun semakin radikal. Dia mulai mencari-cari kesalahan mengenai bagaimana para anggota DI yang lebih tua mempraktekkan Islam di Cigarung, menuduh mereka bid'ah. Pada awal tahun 2003, ia bertemu dengan seorang mubaligh salafi dari Jakarta yang bernama Oman Rochman alias Aman Abdurahman, yang di kemudian hari ditangkap pada Maret 2004 sehubungan dengan pelatihan membuat bom di Cimanggis. 160 Harun dan Aman pertama kali bertemu di Masjid at-Taqwa di Tanah Abang, masjid yang terkenal dengan jemaahnya yang terdiri dari para mantan anggota AMIN. Pada akhir tahun 2003, pada akhir bulan Romadhon, Harun berbicara dengan Aman tentang perlunya i'dad (persiapan jihad), termasuk penguasaan: pelatihan fisik, pelatihan senjata, pelatihan bahan peledak, dan pelatihan menyamar. Harun setuju untuk member instruksi pada beberapa pengikutnya 161 dan mulai melatih sekitar selusin orang, kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa dan pedagang donat paruh waktu, pada bulan Desember 2003 dan Januari 2004. 162Ini termasuk instruksi pembuatan bom pipa dan bom molotov. Harun mengajar murid-muridnya bahwa tujuan dari bom pipa adalah untuk menyerang orang, bukan untuk menghancurkan rumah-rumah atau bangunan. Ini adalah teknik untuk digunakan melawan kafir dan munafik ketika sarana-sarana lain gagal. 163Para muridnya mengatakan ia tidak pernah spesifik mengenai siapa yang akan mereka perangi, dia hanya mengatakan bahwa mereka harus siap ketika waktunya tiba. 164

Tapi dilaporkan, di Cigarung dia berbicara tentang menyerang Amerika Serikat dan sekutunya, dimanapun mereka berada, termasuk di Indonesia, dan termasuk penduduk sipil, baik itu perempuan maupun anak-anak. Konsep jihad Harun itu sangat bertentangan dengan konsep jihad DI Cigarung. 165 Dia memimpin pengikutnya berdiskusi mengenai Irak, Afghanistan, dan Palestina, dan mereka shalat di langgar kecil yang terpisah dari masjid yang umumnya digunakan masyarakat, agar mereka tidak dipengaruhi oleh praktek-praktek keagamaan orang tua mereka yang tidak dapat diterima.

Dia dan Kang Jaja tampaknya terus seiring-sejalan, dan Iwan alias Rois berpartisipasi dengan rekrutan-rekrutannya dalam sesi pelatihan militer yang disponsori oleh Ring Banten di Gunung Peti di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, pada Mei-Juni 2004.

Setelah polisi membubarkan kelompok Cimanggis Maret 2004 dan menangkap Aman Abdurahman, Rois tampaknya membantu Harun dan seorang pria dari Cigarung bernama Cholid (juga seorang pengikut Aman) lari ke Pendolo, ke kamp pelatihan lama di tepi Danau Poso. Laporan terakhir adalah bahwa bahkan di sana, Harun membuat kesal penduduk setempat, dan penduduk mengusir Harun dan Cholid. 166

Beberapa bulan kemudian Rois bertemu dengan dua teman JI-nya, lulusan Ngruki, yang dikenalnya di Poso. 167 Mereka mengundangnya mengambil bagian dalam operasi jihad yang ternyata berupa pengeboman kedutaan. Rois setuju dan meminta beberapa teman-temannya dari Cigarung dan anggota Ring Banten dari perusahaan kurir SMK untuk mengambil bagian juga.

Pengeboman Kedubes Australia tampaknya adalah sebuah operasi gabungan antara bagian-bagian dari struktur JI dan kelompok Banten. Sementara Azhari dan Noordin hampir pasti dalang, tidak jelas apakah ada dukungan apapun dari anggota komando pusat JI atau apakah ada konsultasi dengan komando pusat JI sepenuhnya atau tidak.

Menurut kesaksian dari beberapa orang yang ditangkap sehubungan dengan kasus itu, Rois yang ditahan pada bulan November 2004 bertanggung jawab atas survei lapangan dan koordinasi dengan Noordin, si ahli strategi, dan Azhari, koordinator lapangan dan pembuat bom, termasuk membantu mereka melarikan diri. Agus Ahmad Hidayat (dari Cianjur) yang kini ditahan memainkan peran utama dalam membantu memindahkan bahan peledak dan melindungi Noordin dan Azhari.

Rois-lah yang dilaporkan bertanggung jawab merekrut para pembom bunuh diri dari kelompok Banten untuk bergabung dengan JI — Azhari dan Nurdin telah merekrut empat orang. Heri Golun alias Agun dari Cigarung mendapatkan tugas itu. Dari tujuh rekrutan yang tersisa, tiga orang di antaranya kini telah ditangkap.168

Catatan kaki:

160Mengenai kelompok Cimanggis, Lihat Laporan Crisis Group, Mengapa Salafisme dan Terorisme Sebagian Besar Tak Berbaur , op. cit.

161 Polri Metro Jaya dan Sekitarnya, Direktorat Reserse K riminal Umum, Berkas Perkara Tentang Tindak Pidana Terorisme. Kesaksian Oman Rochman alias Aman Abdurrahman b in Ade Sudarma, 21 Maret 2004.

162 Aman menyediakan modal untuk proyek bisnis donat.

163 Polri Metro Jaya dan Sekitarnya, Direktorat Reserse K riminal Umum, Berkas Perkara Tentang Tindak Pidana Terorisme. Kesaksian Hadi Swandono alias Ubaidah dalam berkas kasus Aman Abdurrahman, 17 Mei 2004.

164 Ibid.

165 Wawancara Crisis Group, Desember 2004.

166 Tidak jelas ke mana.

167 Salah satu nya telah ditahan di sana sebentar karena penyelundupan amunisi.

168 Delapan oran itu adalah Hasan (JI); Gempur alias Jabir, sepupu al-Ghozi (JI), Chandra (JI), Ismail (JI), Agus (Ring Banten); Deni (Ring Banten); Irun (Ring Banten), dan Agun dari Sukabumi (Ring Banten).

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Minggu, 24 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (34)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (33)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

C. REKRUTAN CIGARUNG

Seorang pria muda dari benteng DI lama Cigarung, sebuah dusun di desa Kebonpedes, Sukabumi, Jawa Barat, adalah benang merah ke milisi yang digunakan dalam pengeboman kedutaan Australia. Cigarung dulu dikenal sebagai benteng Masyumi, partai Islam reformis tahun 1950-an, tapi hari ini lebih dikenal sebagai basis DI. Didi Gepeng adalah anggota DI yang terlibat dalam konflik di Poso. Dia bertemu sesama mujahidin DI dari Banten di sana, dan ketika ia kembali ke rumah — mungkin pada tahun 2001 —, ia mengundang Kang Jaja ke Cigarung.

Pada saat itu, salah seorang pria yang paling berpengaruh di kota kecil itu adalah seorang milisi DI lama, Mang Edeng, yang pernah tinggal bersama Gaos Taufik di Sumatera Utara pada dasawarsa 1950-an. Saat ia kembali dari Sumatera Utara, ia menyebarluaskan ide DI kepada para penduduk desa, seperti yang dilakukan anaknya, Kang Abad. Di antara orang-orang yang dibawa ke organisasi tersebut adalah para ayah dari tiga tersangka pemboman kedutaan: Didin Raidin (ayah Heri Golun), Sarkoni (ayah Apuy), dan Haris (ayah Uyok).

Ketika Kang Jaja tiba di Cigarung, dia langsung terkesan oleh kekuatan DI, tetapi juga oleh kurangnya pemahaman mereka tentang jihad. Dia memutuskan penduduk desa membutuhkan pembinaan. Orang yang dia bawa untuk melakukan hal itu tak lain adalah Harun, mantan pesaingnya di Poso. Jaja sendiri membeli tanah di Gunung Batu, dekat Cigarung, dan rumah yang dibangunnya di sana menjadi markas Ring Banten pada akhir 2001.158

Sembari bekerja bersama veteran Poso Didi Gepeng, Kang Jaja memberi tugas Harun untuk merekrut pemuda setempat. Sementara itu, ia menyediakan dana untuk membantu mereka secara ekonomi, mendorong mereka untuk membuat kerupuk ikan seharga Rp.15.000-25.000 (sekitar $ 1,50 sampai $ 2) per hari, dan kemudian membeli sepeda motor sehingga mereka bisa menjalankan bisnis penyewaan sepeda motor.

Namun upaya perekrutan hanya berhasil menarik sekitar tujuh pemuda, salah satunya adalah Heri Golun, pria yang menjadi pelaku bom bunuh diri pada tanggal 9 September 2004.159 Menurut sumber-sumber lokal, masalahnya ada pada Harun. Sama seperti ia berselisih dengan sesama milisi DI di Poso, ia juga tidak bisa akrab dengan para tetua DI di Cigarung, termasuk Mang Edeng. (Bersambung)

Catatan kaki:

158Benteng nya berada di Kabupaten Pandeglang, Bogor, Serang, Sukabumi, Lebak dan Karawang: Menes (Pandeglang), Cisarua (Bogor), Kasemen (Serang); Kampung Gunung Batu, Kecamatan Kebon Pedes (Sukabumi); Desa Gunung Batu, Kecamatan Penggarangan (Lebak), dan Cikampek (Karawang).

159 Yang lainnya adalah Apuy, Didi Gepeng, Uyok, Iwan alias Ibnu, Iwang alias Ijul, dan Nanang.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sabtu, 23 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (33)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (32)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

B. RING BANTEN DI POSO

Setelah pisah dengan KW9, Kang Jaja terus membangun kapasitas militer pengikutnya. Dia menjaga agar kamp pelatihan di Saketi, Banten, terus berjalan, terus mengirim kan orang ke Mindanao, dan meningkatkan rekrutmen bagi jihad lokal di Ambon, Maluku, dan Poso, Sulawesi Tengah. Di daerah yang terakhir disebutkan itu, ia bekerja sama dengan Laskar Jundullah dari Sulawesi Selatan — ia benar-benar pindah ke sana pada bulan September 2001 — dan juga bekerja sama dengan Jamaah Islamiyah. Suryadi Mas'oed dari Laskar Jundullah membantunya membeli senjata dari Mindanao.

Ilustrasi RPG Launcher
Pada tahun 2002, menurut suatu sumber, Ring Banten mendapatkan berlusin-lusin pistol dan senapan otomatis, 25.000 renteng amunisi, beberapa ratus kilo bahan peledak, dan dua RPG launcher (peluncur granat). 150

Dia juga bekerja sama dengan organisasi jihad lainnya untuk mendirikan sebuah kamp pelatihan bersama di Pendolo, di tepi Danau Poso di Sulawesi Tengah. Terinspirasi oleh cara Laskar Jundullah yang menggunakan cabang KOMPAK Sulawesi Selatan yang bergerak di bidang kemanusiaan sebagai penyamaran untuk kegiatannya, Kang Jaja mendirikan lembaga amal yang ia sebut Bulan Sabit Merah (Red Crescent) sebagai samaran untuk meraih tujuan militernya. 151Para pengikut Kang Jaja kadang-kadang dikenal di daerah Poso sebagai Milisi Bulan Sabit Merah. Di antara sekian banyak tindak kekerasan yang dilakukannya, ia bertanggung jawab terhadap penembakan seorang wisatawan Italia pada bulan Agustus 2002. 152Di antara para mujahidin di Poso, Pendolo dikenal sebagai basis untuk tiga kelompok yang terpisah: JI, Laskar Jundullah, dan Darul Islam. Tapi masalahnya adalah bahwa awalnya ada dua faksi DI di sana. Yang satu dipimpin oleh Kang Jaja dan keponakannya, Iwan alias Rois. Yang satunya lagi dipimpin oleh seorang loyalis Ajengan Masduki dan anak didik Ahmad Said Maulana yang bernama Syaiful alias Fathurrobi alias Harun, yang berasal dari Cilacap, Jawa Tengah, dekat perbatasan Jawa Barat. Mereka awalnya bersaing untuk mendapatkan pengikut dari kalangan penduduk lokal, tapi akhirnya, Kang Jaja dan anak buahnya berhasil membujuk Harun untuk menggabungkan kekuatan. 153

Hubungan Ring Banten dengan JI yang meningkat di Poso pada tahun 2000-2002 telah meningkat sejak sesi-sesi pelatihan dengan para veteran Afghanistan pada tahun 1999. Mereka sebagian besar adalah orang-orang Mantiqi I, divisi regional JI yang meliputi Malaysia dan Singapura dan awalnya dipimpin oleh Hambali, karena orang Mantiqi I — Imam Samudra — adalah penduduk asli Banten, teman dekat dan bekas teman sekelas Ustadz Heri Hafidzin, anggota Ring Banten, saat mereka masih pelajar sebuah sekolah menengah. Heri yang ditahan sehubungan dengan bom Bali bekerja selama beberapa tahun di perusahaan kurir Sajira.

Kerjasama antara JI dan Ring Banten mempunyai arti bahwa Ring Banten bisa diandalkan untuk menyediakan perlindungan bagi anggota JI yang datang kembali dari Maluku atau melarikan diri pengadilan. Kerjasama ini juga mengakibatkan dukungan logistik dalam hal pembelian senjata dan pelaksanaan operasi. Misalnya, ketika pada tahun 2000 Imam Samudra membeli beberapa ton bahan peledak dari perusahaan pertambangan di Bojonegara, Cilegon, Jawa Barat, dengan dana yang disediakan oleh Zulkarnaen yang merupakan kepala operasi militer JI dan salah satu pimpinan puncak JI yang masih buron. Seorang anggota JI bernama Asep alias Darwin yang di kemudian hari kemudian terlibat dalam pemboman Atrium Mall menyerahkan bahan peledak ke Ring Banten untuk disimpan. 154

Pada tanggal 13 September 2001, tidak lama setelah pengeboman Mall Atrium di Jakarta, tiga belas pemuda ditangkap di kamp Kang Jaja di Saketi, Pandeglang, di mana mereka menjalani pelatihan militer (tadrib) dengan instruktur beberapa orang Malaysia. 155

Suryadi Mas'oed, anak didik Syawal Yasin yang telah membantu Ring Banten memperoleh senjata dari Mindanao mengatakan kepada polisi bahwa sekitar satu bulan setelah pemboman Atrium, ia bertemu dengan kelompok Banten di rumah seorang pria bernama Tono di Menes, Banten. Disitu hadir Imam Samudra yang ia gambarkan sebagai pemimpin Ring Banten. Mereka mendiskusikan perolehan senjata dan bahan peledak dari Filipina dan memeriksa pembukaan hubungan dengan Libya. Suryadi mengatakan ia menerima tugas dari Imam Samudra dalam pertemuan ini untuk meledakkan fasilitas asing di Makassar atau di tempat lain di Sulawesi Selatan. 156

Ia juga mengatakan bahwa selain Imam Samudra, Abu Gali dari Bandung juga memimpin kelompok tersebut; Abdul Fatah (mungkin orang yang terdampar di Filipina pada pertengahan 2000) adalah pemimpin operasi militer, dan Ustadz Heri Hafidzin adalah pemimpin dakwah dan rekrutmen kader. Heri Hafidzin-lah yang memperkenalkan Imam Samudra yang adalah teman lamanya dengan para pemuda yang merampok toko emas Elita di Serang pada tanggal 29 Agustus 2002 untuk mengumpulkan dana bagi bom Bali. 157 Ia juga memberikan pengarahan kepada Iqbal alias Arnasan alias Lacong, pelaku bom bunuh diri di Paddy's Bar, yang juga anggota Ring Banten.

Catatan kaki:

150 Wawancara Crisis Group, Desember 2004.

151Kelompok ini tidak memiliki hubungan dengan Federasi Palang Merah Internasional dan Komunitas Bulan Sabit Merah atau Bulan Sabit Merah yang lain, yang didirikan oleh Dr Basuki dari partai politik, PKS.

152 Lihat Laporan Crisis Group, Jihad di Sulawesi Tengah, op.cit.

153 Wawancara Crisis Group, November 2004. Dari titik ini, Harun berulang kali muncul dalam berbagai samaran yang berbeda.

154 Asep alias Darwin hingga tulisan ini dibuat tidak pernah tertangkap dan pada satu titik dilaporkan tinggal dengan orang buronan lain nya yang bernama Holis yang dicari -cari sehubungan dengan pemboman Malam Natal di Bandung. Asep saat tulisan ini dibuat diyakini berada di Mindanao. Holis akhirnya ditangkap di Sulawesi Utara pada bulan September 2004, dalam jaring pasca pengeboman kedutaan Australia. Pada Januari 2005, ia dikabarkan telah dilepaskan.

155Para peserta training mempelajari dasar-dasar keahlian menembak, serta bagaimana menggunakan pisau dan parang. Jalan menuju ke rumah di Saketi masih jarang digunakan oleh mobil atau sepeda motor sewaan. Bagian depan rumah itu berubah menjadi semacam bengkel, sebagian untuk tujuan kamuflase, sehingga orang-orang yang lewat tidak akan curiga ada pelatihan militer yang berlangsung di belakang nya, di tengah-tengah kebun kelapa dan pisang seluas hektar. Toko ini juga menjadi tempat di mana para peserta belajar untuk membuat bom. Kelompok- kelompok pengajian tanpa pelatihan militer dimulai oleh kelompok Banten di sedikitnya lima wilayah lain di sekitar Banten saja: Menes, Ciruas, Kasemen, Benggala, dan Kramatwatu. Hampir semua kelompok pengajian tersebut merekrut para remaja/ pemuda dari pesantren. Pesantren yang dipimpin oleh para kyai yang pernah terlibat Darul Islam adalah basis rekruitmen yang sangat subur. Lihat Crisis Group Asia Report N ° 43, Indonesia Backgrounder: Bagaimana Jaringan Teroris J a maah Islamiyah Beroperasi, 11 Desember 2002.

156 Dari kesaksian Suryadi Mas'ud, 2 Januari 2003 di berkas kasus Abu Bakar Ba'asyir.

157 Para perampok dan kaki tangan mereka: Andri Octavia alias Yudi ( dari Sukamanah, Malimping; alumni Ngruki ), Abdul Rauf alias Sam ( dari Poris, Pelawad Indah, Cipodoh, Tangerang; alumnus Ngruki dan Darusyahada ); Andi Hidayat alias Agus Amin; Ikwan Fauzi ( dari Kasemen, Serang ) yang membantu menyimpan bahan peledak untuk Abdul Rauf; Aprianto alias Endang ( dari Kasemen, Serang ), dan Pujata ( dari Kasemen, Serang ).

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Jumat, 22 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (32)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (31)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

A. KANG JAJA

Pemimpin kelompok Banten dikenal dengan nama Kang Jaja alias Akhdam. Saat laporan ini ditulis dia berusia 50-an tahun. Dia bergabung dengan Darul Islam pada dasawarsa 1980-an, mengikuti jejak anggota keluarga. Kang Jaja relatif kaya sebagai salah satu pemilik dan manajer sebuah perusahaan pengiriman barang, CV Sajira Media Karsa - nama yang dipilih agar sesuai dengan monogram pendiri Darul Islam, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Ia menjadi donor untuk kegiatan KW9 di bawah Mahfud Siddiq dan membantu menanggung biaya pertemuan Cisarua Desember 1998.145 Awalnya, Kang Jaja mulai menyediakan pelatihan militer untuk anak buahnya secara sporadis pada tahun 1996 di Malimping, Banten melalui seseorang bernama Nurudin alias Zaid Butong, seorang ahli kung fu dari Solo. Nurudin adalah anggota dari kelas yang sama di Afghanistan seperti tokoh-tokoh JI Abu Rusdan alias Thoriquddin dan Mustofa. 146 Dia juga merupakan salah satu dari sedikit rekrutan DI yang tetap setia kepada Ajengan Masduki setelah keretakan terakhir Ajengan Masduki dengan Sungkar. Karena kesulitan melakukan pelatihan seperti ini selama pemerintahan Soeharto, program ini bukan program reguler dan tidak terorganisir dengan baik.

Jatuhnya Soeharto membuka kemungkinan baru, dan pada pertemuan Cisarua, pimpinan DI memutuskan untuk membangun kapasitas militer dengan mengirim kader-kadernya untuk pelatihan di Mindanao. Program ini di bawah pengawasan langsung dari Mia Ibrahim atas penunjukan Komandan Perang Seluruh Indonesia. Koordinasi pengiriman manusia ke Filipina jatuh ke pada para komandan KW9, dan merekalah yang meminta bantuan dari Syawal Yasin, anak seorang milisi DI Sulawesi, menantu Abdullah Sungkar, dan salah satu instruktur Indonesia yang paling dihormati di Afghanistan.

Tidak jelas siapa orang di KW9 yang membuat kontak awal dengan Syawal yang mendirikan kamp terpisah di basis MILF untuk melatih rekrutan dari Sulawesi Selatan. Tapi Kang Jaja pernah bertemu dia melalui veteran Afghanistan lainnya, Firdaus alias Azzam alias Nyong Ali. Pada awal 1999, Firdaus maupun Syawal menjadi instruktur dalam program pelatihan pertama (hasil dari pertemuan Cisarua).147 Seorang veteran JI Afghanistan yang bernama Edi Setiono alias Usman alias Abbas (yang di kemudian hari dipenjarakan karena perannya dalam pemboman Atrium Mall bulan September 2001 ) juga dibawa untuk mengajar.

Dari dua puluh orang yang mengambil bagian (termasuk Kang Jaja itu sendiri), sembilan orang dikirim ke Mindanao melalui perantara Syawal pada bulan Mei 1999. Salah satu yang dikirim itu adalah Iwan alias Rois, keponakan Kang Jaja dari pernikahannya. Pria tersebut ditangkap karena pemboman Kedutaan Australia. 148 Setelah Kamp MILF Abubakar diserbu oleh tentara Filipina pada pertengahan tahun 2000, dua anggota kelompok Banten yang bernama Abdullah dan Abdul Fatah jadi terlantar dan harus dibawa kembali ke Indonesia oleh salah satu orangnya Syawal. 149 Bantuan tersebut tidak hanya satu cara. Melalui perusahaan kurirnya, Kang Jaja membantu Syawal membawa senjata dan peralatan lain dari Mindanao. Syawal bertanggung jawab untuk mendapatkan barang-barang itu dari Filipina, lalu dikirim ke Makassar dan kemudian ke Surabaya. Sesampai di Surabaya, dikisahkan perusahaan Kang Jaja (SMK) mengambil alih kiriman dan membuat barang-barang tersebut dapat dikirimkan ke mana saja di seluruh pulau Jawa, termasuk ke Banten.

Kang Jaja berperan dalam pelatihan Mindanao, bukan hanya karena anak-anak buahnya ada di antara rekrutan pertama, tetapi juga karena ia membantu menanggung biaya dan menyediakan tempat untuk pelatihan awal di Cimelati, Pasir Eurih, Saketi, di Banten. Tapi dia kemudian bertengkar dengan Mia Ibrahim, komandan militer DI secara keseluruhan.

Sekitar tahun 2000, dengan alasan yang tidak jelas bagi anggota DI lainnya, Mia memutuskan untuk membekukan sementara pengembangan kapasitas militer dan menghentikan pelatihan Mindanao. Kang Jaja tidak senang. Baginya hal itu itu berarti ia telah menghabiskan waktu dan uang untuk sesuatu yang sia-sia. Bagi orang lain dalam DI, itu berarti DI telah meninggalkan jihad. Kang Jaja telah mengirimkan orang-orang ke Ambon serta Filipina, dan ia telah makin lama makin berkomitmen terhadap ideologi jihad salafi dari beberapa teman-teman barunya, seperti Syawal Yasin. Ia memutuskan hubungan dengan struktur komando KW9, dan Ring Banten menjadi independen dari DI.

Catatan kaki:

145 Wawancara Crisis Group, November 2004. Mahfud Siddiq adalah pemimpin KW 9 faksi fisabilillah; Panji Gumilang alias Abu Toto, pemimpin pesantren Al-Zaytun di Indramayu, Jawa Barat, pernah menjadi pemimpin KW9.

146 Dia dipanggil Butong karena aliran seni bela diri yang dia gunakan , Butongpay. Zaid Butong dilaporkan dekat dengan Yoyok, mantan pemimpin Condet.

147 Firdaus membantu mem asok amunisi untuk Poso melalui saudaranya , seorang kepala polisi Ternate waktu itu . Firdaus juga s eorang relawan untuk badan bantuan medis Islam MER-C . Firdaus ditangkap dengan cepat ditangkap setelah pemboman Marriott.

148 131 Iwan alias Rois menikah dengan anak perempuan dari saudara Kang Jaja. Dia baru mulai menggunakan nama Rois saat bersiap-siap untuk pengeboman kedutaan Australia dan semua rekan-rekannya DI mengenalnya sebagai Iwan. Pada bulan Februari 2000, beberapa rekrutan Kang Jaja tertangkap di kepulauan Sangihe-Talaud , lepas pantai Menado . Mereka sedang dalam perjalanan pulang dengan membawa senjata dan amunisi. Syawal Yasin ditangkap bersama dengan mereka. Mereka dihukum delapan bulan lima belas hari dan bebas pada tahun 2000 akhir. Mereka itu termasuk Agus Sugandi bin Abdul Rasyid alias Suganda dari Pangarangan, Lebak, Banten; Hadi bin Sahmat alias Hadidi dari Kedung, Bogonegoro, Banten, dan Burhanuddin alias Burhan dari Limuncang, Jawa Barat.

149Suryadi Mas'oed sekarang di penjara karena pemboman Makasar Desember 2002

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kamis, 21 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (31)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (30)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

IX. RING BANTEN DAN BOM KUNINGAN

Bom 9 September 2004 di depan kedutaan besar Australia di kawasan Kuningan Jakarta menjalin benang-benang dari AMIN, Poso, dan Darul Islam Sulawesi Selatan dan Jawa Barat. Bom itu menewaskan dua belas jiwa, melukai lebih dari ratusan orang, dan menerbangkan kaca keluar dari gedung perkantoran sejauh yang dapat dilihat mata. Polisi dengan cepat memutuskan bahwa dua orang yang paling dicari di Asia Tenggara terlibat, keduanya warga negara Malaysia Azhari Husin dan Noordin Mohammad Top, keduanya anggota JI. Tapi dengan hampir sama cepat nya dengan hal itu, jelas pula bahwa mereka berdua bekerja sama dengan pecahan DI lain nya yang umumnya dikenal sebagai Ring Banten, atau kelompok Banten, karena basis mereka adalah kawasan barat Jakarta. 144

Ring Banten belum pernah menjadi bagian dari JI dan tidak menjawab struktur komando JI, tetapi pemboman 9 September itu bukan pertama kali anggota JI dan kelompok Banten bekerja sama. Sejak tahun 1999, kelompok ini telah menjalankan kegiatan pelatihan militer sendiri di Pandeglang, Banten . Pada latihan itu, anggota JI kadang-kadang diundang sebagai instruktur. Ring Banten juga mengirimkan mujahidin ke konflik komunal di Ambon dan Poso, dan kelompok itu mempunyai orang-orangnya sendiri yang dilatih di Mindanao.

Catatan kaki:

144Sejak tahun 1999, Banten telah menjadi propinsi yang terpisah. Sebelumnya Banten termasuk propinsi Jawa Barat.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Selasa, 19 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (30)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (29)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

D. RELEVANSI UNTUK HARI INI

Beberapa pelajaran dapat ditarik dari pengalaman Kompi F/ AMIN. Dua yang pertama adalah jelas:

  • Program pelatihan, entah itu Afghanistan, Mindanao, atau pun program pelatihan lokal seperti Cijeruk, selalu merupakan tempat di mana ditempa ikatan-ikatan yang baru dan dibuat pertemanan yang erat. Alumni dari sebuah program pelatihan dapat memanggil sesama alumni untuk membantunya pada saat dibutuhkan dengan cara yang dapat memperkuat jaringan dukungan logistik.
  • Konflik-konflik komunal lokal seperti konflik Ambon dan konflik Poso menjadi insentif penting untuk mengaktifkan jaringan lama dan menghidupkan kembali kelompok-kelompok jihad. Ini merupakan alasan satu lagi untuk berupaya mencegah mendidihnya ketegangan dari erupsi ketegangan menjadi kekerasan.

Yang ketiga adalah bahwa mujahidin berlatar belakang preman yang kemudian kembali ke premanisme adalah elemen sangat membahayakan nyawa orang lain karena campuran antara preman dan mujahidin itu. Mereka tidak ragu menggunakan kekerasan, dan ketika motivasi baru untuk jihad muncul, mereka memiliki insentif yang sangat kuat untuk bergabung, yaitu: ampunan, penerimaan, dan kesempatan untuk memamerkan keterampilan bertarung.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Senin, 18 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (29)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (28)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

C. AKSI-AKSI LAIN DI JAKARTA

Setelah kelompok rekrutan AMIN sudah berada di Ambon, Asadulloh terus mengkomando anggota-anggota lainnya dari basis Jakarta. Pada tanggal 5 Maret 2000, bertindak atas perintah Asadullah, beberapa anggota kelompok itu menyerang dengan parang Matori Abdul Jalil yang di kemudian hari menjadi ketua partai PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), kemudian menteri pertahanan. Serangan tersebut jelas merupakan usaha pembunuhan. Asadullah kenal Matori secara pribadi, dan Matori dilaporkan sebelumnya membantu Asadulloh secara finansial dari waktu ke waktu. Tapi sekitar tahun 1999, bantuan keuangan Matori berhenti, dan Asadulloh memutuskan bahwa Matori telah mengkhianati gerakan Islam dan berpaling. Aksi pembunuhan itu dilaporkan direncanakan di rumah anggota Kompi F/ AMIN lain yang bernama Zulfikar, lebih dikenal sebagai Pikar, seorang alumnus Mindanao.

Serangan terhadap Matori yang menyebabkan penangkapan terhadap seorang anggota Kompi F/ AMIN bernama Tajul Arifin alias Sabar alias Pipin mengakibatkan perpecahan antara Asadulloh dan Yoyok yang mencari perlindungan pada Gaos Taufik. Yoyok dan Asadulloh tak ditangkap, keduanya melarikan diri.

Tapi AMIN muncul kembali. (Bersambung)

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (28)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (27)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

B. AHMAD SAYID MAULANA

Ahmad Sayid Maulana adalah perpustakaan berjalan mengenai evolusi DI dan Islam radikal di Indonesia. Dia dibesarkan di daerah Pejompongan Jakarta dan pertama kali bergabung dengan Darul Islam pada tahun 1994 setelah ia lulus dari sekolah menengah. Pada saat itu, Broto adalah komandan DI Jakarta, dan Maulana dibai'at oleh salah satu anak buah Broto dalam sebuah acara bai'at masal bersama dengan 40 orang lain di Cisaat, Sukabumi. Maulana menjadi peserta reguler pengajian yang diselenggarakan di sebuah masjid DI yang berada di belakang department store Sarinah 138 di Jalan Thamrin, salah satu jalan utama yang selalu ramai di Jakarta. 139

Setelah konflik Ambon meletus, Maulana meninggalkan kelompok Broto untuk bergabung dengan Kompi F/ AMIN dan pergi ke Ambon bersama Abu Dzar. Para anggota DI menghormati Maulana dan Abu Dzar secara bersama-sama karena menciptakan dan membangun kekuatan mujahidin di Ambon. 140

Maulana menjadi dekat dengan para milisi Sulawesi di sana dan hampir diadopsi oleh Agus Dwikarna. Melalui Agus Dwikarna, Maulana menjadi anggota Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII), sebuah kelompok sempalan DI yang berbasis di Makassar. Kelompok ini memandang dirinya sebagai pewaris republik yang diproklamasikan oleh Kahar Muzakkar pada tahun 1962. Bagaimanapun, dia mempertahankan keanggotaannya di AMIN, dan dalam kapasitas sebagai anggota AMIN itu dia pergi ke Poso dengan para anggota AMIN lainnya pada bulan Agustus 2000. Mereka merampas tujuh senapan dan tujuh revolver dengan menyerang depot senjata Brimob di Ambon pada bulan Juni 2000. Di Makassar, di mana mereka berhenti dalam perjalanan, Agus Dwikarna memperkenalkan mereka dengan Agung Hamid, pemimpin Laskar Jundullah, dan memberi mereka nama-nama kontak lokal di Poso.

Melalui keterlibatannya di Ambon dan Poso, Maulana mengenal Arismunandar, anggota JI dan sebagai kepala kantor KOMPAK 141 Solo, salah satu penyandang dana JI .142 Dia mengunjungi Solo pada tahun 2002 di mana ia bertemu pembom Bali, yaitu: Dulmatin dan Umar Patek, dan melalui mereka, ia pergi ke Mindanao untuk pelatihan militer (tadrib) pada tahun tahun itu juga. Ketika ia kembali ke Indonesia, ia bekerja mencari nafkah dengan menjual VCD tentang Islam dan konflik Muslim di stasiun kereta api Depok. Pada bulan Februari 2003, ia didekati oleh Umar Patek agar membawanya ke Mindanao, karena pada saat itu, Maulana dilaporkan telah menjadi cukup mahir bahasa Maguindanao yang merupakan bahasa lisan di sekitar kamp-kamp pelatihan yang digunakan oleh MILF dan juga akrab dengan salah satu rute utama yang aman untuk pergi ke sana. Asadulloh berkata agar Maulana mengambil Umar Patek ke Tarakan dengan pesawat, lalu menyeberang perbatasan ke Tawau di Sabah, Malaysia. Di Tawau, seorang Filipina akan mengantarkan mereka ke Zamboanga. Setelah dengan aman mengantarkan Umar Patek ke Filipina, Maulana kembali ke Indonesia. Dia lalu diminta oleh Dulmatin pada bulan April 2003 untuk membawanya ke Mindanao juga, setelah penangkapan-penangkapan di daerah Poso-Palu di mana Dulmatin mengungsi.

Tidak jelas apakah Maulana tinggal di Mindanao setelah mengantarkan Dulmatin atau kembali ke Indonesia dan berangkat ke Mindanao lagi, tetapi pada bulan September 2003, ia berada di sebuah kapal yang dihentikan oleh patroli laut Malaysia di lepas pantai Sabah. Dia mengatakan pada penyidik Malaysia bahwa dia baru saja menyelesaikan kursus pembuatan bom dan berencana untuk kembali ke Jakarta untuk meledakkan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.143 (Bersambung)

Catatan kaki:

138Catatan penterjemah: nampaknya bukan kebetulan bila pidato Barack Obama di UI pada tanggal 10 November 2010 seolah secara sambil lalu menyebut Sarinah .

139Ustadz di masjid Sarinah tersebut adalah seorang laki-laki yang bernama Abu Bakar dari Flores Timur, keponakan laki-laki Abdullah Umar.

140Wawancara Crisis Group, November 2004.

141Catatan penterjemah: KOMPAK pernah sangat menghebohkan Indonesia pada tanggal 30 Oktober 2005 karena keberingasannya memenggal kepala 3 remaja ABG putri yang sedang berangkat ke sekolah mereka, yaitu: Theresia Morangke (15), Alfita Poliwo (17) and Yarni Sambue (17) ( http://en.wikipedia.org/wiki/2005_Indonesian_beheadings_of_Christian_girls ). Para pelaku tidak dihukum mati dan diubah jadi hukuman penjara 14 tahun dan 20 tahun karena keluarga korban memaafkan para pelaku.

142Lihat Laporan Crisis Group, “Jihad di Sulawesi Tengah” , op. cit.

143 Leslie Lopez, " Asia menghadapi resiko baru dalam militansi Islam — Pakar terorisme menyingkapkan kelompok kekerasan sempalan dari kelompok Jama'ah Islamiyah", Asian Wall Street Journal, 4 Maret 2004.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kamis, 14 April 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (27)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (26)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

A. Asadullah dan Batalyon Abu Bakar

Konflik Ambon tersebut memunculkan perdebatan dalam Darul Islam, seperti juga dalam JI, tentang apakah kekerasan tersebut merupakan penyebab untuk jihad. Sikap diam dari para pimpinan DI, termasuk Tahmid dan Broto, menulikan telinga, dan beberapa anggota yang lebih militan jadi marah karena ketidakmunculan fatwa yang menyatakan bahwa jihad di Ambon adalah wajib bagi semua Muslim. Militan-militan ini termasuk:

  • Yoyok alias Danu, pemimpin geng dari Ring Condet;
  • Zulfikar, dari Tanjung Priok, direkrut ke dalam DI oleh Yoyok dan dikirim ke Mindanao;
  • Abdullah, seorang veteran Mindanao, dan
  • Asadullah alias Yahya alias Ahmad Riyadi, yang mengikuti Yoyok ke dalam struktur kepemimpinan JI Jawa Barat -Jakarta.

Asadullah memiliki reputasi yang sangat menakutkan. Pada tahun 1997, ia pergi ke Mindanao dengan bantuan Syawal Yasin, seorang veteran Afghanistan yang berbasis di Makassar yang telah menikahi anak tiri Abdullah Sungkar.126

Sekitar pertengahan 1999, empat pria memutuskan untuk putus hubungan sepenuhnya dengan kepemimpinan DI lama dan membentuk Batalyon Abu Bakar, dengan tujuan merekrut dan melatih pejuang untuk Ambon. Mereka didukung oleh Haris Fadillah alias Abu Dzar, kemudian lebih dikenal sebagai mertua Omar al-Faruq, dan seorang pria bernama Edy Rianto alias Amir127, lulusan dari sebuah sekolah kejuruan teknik di Jakarta Timur, yang mengkhususkan diri pada reparasi peralatan listrik.128

Bersama-sama mereka membentuk enam Kompi, yaitu dari Kompi "A" hingga Kompi "F", yang melibatkan sekitar 60 orang.129 Batalyon tersebut memutuskan untuk memulai kampanye fa'i untuk menggalang dana, dan disini lah Kompi F berhasil. Keberaniannya menarik begitu banyak orang baru sehingga Kompi F ini berubah nama menjadi Angkatan Mujahidin Islam Nusantara (AMIN) dan menjadi sebuah organisasi tersendiri.130

Semua anggota yang paling radikal dari Batalyon Abu Bakar — beberapa orang di antara mereka adalah mantan preman Tanjung Priok atau wilayah Tanah Abang Jakarta — dikelompokkan ke dalam Kompi F AMIN, termasuk Yoyok.131 AMIN lah yang bertanggung jawab untuk perampokan cabang Bank Central Asia (BCA) dan ledakan kecil yang hampir serentak di wartel (warung telekomunikasi) di dekat Plaza Hayam Wuruk di Jakarta pada tanggal 15 April 1999, pemboman Masjid Istiqlal di Jakarta empat hari kemudian, dan perampokan sebuah pompa bensin di Lampung.

BCA dilaporkan dijadikan sasaran karena para pelaku percaya hal itu menyediakan dana untuk operasi militer, dan mereka berharap hasil aksi itu akan menutupi biaya pembelian senjata untuk Ambon.132 Interogasi terhadap para tersangka dengan cepat menyingkapkan bahwa mereka tinggal dan dilatih di sebuah komunitas terisolasi di luar kota, desa Warung Menteng, Cijeruk, Bogor, sekitar 80 km barat daya Jakarta, di kaki gunung berapi berusia tua bernama Gunung Salak. Awal tahun 1998, beberapa orang dalam komunitas tersebut membangun rumah sederhana dan kemudian juga sebuah mushola seluas delapan belas meter persegi yang mereka sebut Musholla Al-Muhajirin.133 Beberapa rumah tangga menghidupi diri mereka dengan pertanian subsisten, sedangkan para wanitanya berjualan keripik singkong dan makanan ringan lainnya di terminal bis Bogor. Interaksi pertetanggaan kebanyakan dilakukan oleh para wanita yang berpakaian lebih konservatif dari pada norma umumnya; para pria kebanyakan ngelaju ke Jakarta, dan tidak ada penduduk setempat yang tahu dengan sangat jelasnya mengenai apa yang kelompok itu lakukan. Setiap hari Minggu, sekitar selusin orang berangkat menggunakan mobil van untuk pelatihan militer di area terbuka di dekat Bukit Roke, di lahan yang dulu milik Perusahaan Umum Kereta Api.134

Polisi Indonesia dengan segera memutuskan bahwa mereka berhadapan dengan sekelompok kecil orang yang dipimpin oleh Edy Rianto. Kelompok itu mungkin terdiri dari dua lusin pria, termasuk Naiman (salah satu perampok bank yang pekerjaannya adalah staf administrasi sebuah sekolah menengah di Jakarta), Edy Taufik ( perampok seorang lagi yang adalah seorang buruh harian dan juga kadang-kadang jadi tukang becak untuk mendapatkan uang ekstra), dan Suhendi (juga seorang buruh biasa yang istrinya menjual ubi jalar dan pisang untuk menambah pendapatan keluarga).135 Dalam perampokan bank itu, ketiga orang itu bekerja dengan Rojak (seorang anggota geng dari Tanah Abang ) dan seorang pria bernama Mustaqim.136

Tapi AMIN lebih besar dan bertahan hidup lebih lama daripada yang bisa ditebak polisi. Pada bulan Desember 1999, kelompok pertama orang-orang yang direkrutnya diberangkatkan ke Ambon di bawah komando Abu Dzar.137 Termasuk dalam kelompok pertama itu adalah dua orang anggota DI (Daeng dan Rudi) dan seorang pemuda bernama Ahmad Sayid Maulana, yang nantinya ditangkap dari pantai Malaysia pada bulan September 2003. (Bersambung)


Catatan kaki

126Lihat Laporan Crisis Group N°63, Jemaah Islamiyah di Asia Tenggara: Telah dihancurkan tapi masih berbahaya, 26 Agustus 2003.

127Juga dikenal sebagai Umar

128 Edy Rianto berasal dari Jatinegara, Jakarta. Dia bukan Rianto kelompok Condet dan Lampung yang terkenal itu yang berasal dari Pemalang, Jawa Tengah.

129Kompi A dikomandani oleh Usman; Kompi B dikomandani oleh Adam; Kompi C dikomandani oleh Bashar; Kompi D dikomandani oleh Abu Robbi; Kompi E dikomandani oleh Ahmad; dan Kompi F dikomandani oleh Umar alias Amir alias Edi Rianto.

130 Alasan nama tersebut dipilih adalah sebagai berikut: Yoyok sebelumnya belajar Quran dengan seorang pemimpin ke agama an kontroversial dari Riau bernama Syamsuri, yang mengaku diri sebagai Kahar Muzakkar, pemimpin pemberontakan Darul Islam di Sulawesi Selatan. Kahar telah ditangkap dan dibunuh oleh tentara tetapi keberadaan makamnya tidak pernah di publik asikan , begitu juga mayatnya tidak pernah terlihat. Kyai Syamsuri memanfaatkan ini untuk tindakan nya. Syamsuri dibawa ke ibukota Jakarta oleh seorang pensiunan perwira angkatan laut, Yanwir Koto, yang memperkenalkannya dengan Jaka, anggota DI Flores. Jaka kemudian memperkenalkannya kepada anggota DI Sulawesi yang tinggal di Jakarta dan ia mulai menarik banyak pengikut — menurut laporan termasuk Syawal Yasin. Dalam khotbah-khotbahnya, Kyai Syamsuri (yang dari jauh tidak terlihat seperti Kahar Muzakkar) menekankan pentingnya syari'at Islam dan mengatakan bahwa apa yang dibutuhkan adalah terwujudnya angkatan bersenjata bernama AMIN (Angkatan Mujahidin Islam Nusantara). Dia menyebutkan nama “ AMIN ” secara khusus dalam sebuah ceramah di Bandung pada tahun 1998. Yoyok belajar dari ceramah itu dan mengadopsi nama AMIN untuk Kompi F.

131 Anggota lain nya termasuk Tajul Arifin alias Sabar alias Pipin ( Banten ), Zulfikar , Mustaqim , Rozak, Ali Mudin, Ikhwan, Darma, Yusuf, Edi Junaedi, Ahmad Said Maulana, dan Sarmo. Yang terakhir disebutkan itu dipukuli sampai mati oleh massa setelah ia mengambil bagian bersama dengan Tajul dalam serangan terhadap Matori Abdul Jalil (tokoh Nahdatul Ulama (NU) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sebuah partai underbow NU ) .

132Wawancara Crisis Group, January 2004.

133Artinya: mushola orang-orang yang hijrah

134" 'Mujahidin' dari Bukit Roke?", Tempo, No.8/XXVIII, 27 April-3 May 1999.

135"Ikhwan Diciduk, Amir Masih Buron", Tempo , No. 8/XXVIII, 27 April-3 May 1999.

136Mustaqim adalah nama yang umum. Mustaqim dalam kasus ini bukan Mustaqim yang mengepalai pelatihan militer JI di Filipina dan juga bukan Mustaqim yang mengajar di pesantren Darus Syahada di Boyolali.

137Lihat Laporan Crisis Group, “ Kelompok Jama'ah Islamiyah di Asia Tenggara” , op. cit., hal. 24-25.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sabtu, 26 Maret 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (26)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (25)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

VIII. AMIN DAN BATALYON ABU BAKAR

Kerusuhan Ambon meletus pada tanggal 19 Januari 1999 (19/1/1999) 124. Keinginan DI dan JI untuk membela umat Islam yang ada di bawah serangan125 menyebabkan munculnya milisi baru yang kemudian akan dimasukkan ke dalam kaleidoskop kelompok dan aliansi yang selalu berubah. Beberapa kelompok ini bekerja dengan JI atau bersinggungan dengan JI, termasuk dalam pengeboman pada tanggal 9 September 2004 di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. (Bersambung)


Catatan kaki

124 Catatan penterjemah: Angka 19/1/1999 hanya terdiri dari kombinasi angka 1 dan angka 9. Kaitkan hal ini dengan ramalan yang tersebar di kalangan DI pada sekitar tahun 1990 (baca "Komando Jakarta Pecah") yang berisi: bila tahun dengan angka Alif (angka "1") bergabung dengan angka "9", maka sebuah peristiwa besar akan terjadi. DI akan bangkit lagi, lebih kuat daripada sebelumnya . Bila hanya diambil angkanya saja, maka tanggal 19/1/1999 dituliskan 1911999. Angka tersebut dapat dituliskan menjadi kode telefon sebagai berikut: 1-911-999.

19/1/1999 ‎→‎ 1911999 ‎→‎ 1-911-999

Angka 1 adalah kode telepon internasional untuk Amerika Serikat

Angka 911 adalah nomer panggilan darurat di Amerika jaman sekarang (baca "911")

Angka 999 adalah nomer panggilan darurat di Amerika jaman dulu. Sampai sekarang, nomer 999 masih dipakai sebagai nomer telepon darurat di Inggris, Irlandia, Polandia, dan Hongkong.

Disini kita bisa melihat adanya 3 buah kebetulan.

  • Kebetulan muncul ramalan di kalangan DI/ JI yang melibatkan angka 1 dan 9
  • Kebetulan tanggal meletusnya tragedi kemanusiaan konflik Ambon adalah tanggal 19/1/1999
  • Kebetulan tragedi kemanusiaan WTC yang jatuh di Amerika (kode 1) pada tanggal 9 November (9/11) yang berkode telepon darurat 911 dan 999 (1-911-999).

Tiga buah kebetulan itu memunculkan tanda tanya besar bagi kita sekalian. Tiga kebetulan ini kelihatannya mengindikasikan bahwa tragedi kemanusiaan di Ambon sudah direncanakan bertahun-tahun sebelumnya oleh kelompok fundamentalis teroris (DI, JI, dan organisasi-organisasi pecahannya atau afiliasinya). Dan bila kita melihat kronologi pecahnya konflik Ambon, maka indikasi ini makin lebih kuat lagi. Tanggal pecahnya konflik Ambon seolah mengandung pesan "Ambonisasi Amerika dan Inggris (negara-negara Barat)". Tentu saja kita harus ingat bahwa ini adalah sebuah pengandaian yang ditarik berdasarkan 3 buah kebetulan di atas.

125 Catatan penterjemah:

Kronologi awal pecahnya konflik Ambon (sumber: http://www.fica.org/hr/ambon/idKronologisKerusuhanAmbonSept1999.html; 26 Maret 2011):

  1. Preman pemuda Bugis NS tidak segan-segan mengeluarkan badiknya untuk menikam pemuda Ambon J.L .
  2. J.L sempat menangkisnya dengan mendorong pintu mobilnya.
  3. Merasa dirinya terancam, pemuda J.L langsung pulang ke rumahnya mengambil parang (golok) dan kembali ke terminal Batu Merah. Disana ia masih menemukan pemuda Bugis NS bersama temannya T . Ia kemudian memburunya, dan NS kemudian berlari masuk ke kompleks pasar Desa Batu Merah.
  4. NS kemudian ditahan oleh warga Batu Merah, dan ketika ia ditanya apa permasalahannya, maka ia (NS) menjawab bahwa , "ia akan dibunuh oleh orang Kristen".
  5. Jawaban J.L ini kemudian yang memicu kerusuhan Ambon

Jawaban preman itu memunculkan alasan "DI dan JI untuk membela umat Islam yang ada di bawah serangan". Bila dikaitkan dengan 3 kebetulan di atas (terkait angka 1 dan 9, maka kemungkinan besar awal pecahnya tragedi kemanusiaan Ambon adalah buah rekayasa para petinggi kelompok DI/ JI, dan/ atau sejenisnya.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Jumat, 25 Maret 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (25)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (24)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

C. RAPAT CISARUA, DESEMBER 1998

Dalam keadaan kelembagaan yang sedang gempar inilah temu akbar Darul Islam terjadi di Cisarua pada Desember 1998. Rapat tersebut diajukan sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah kepemimpinan dan menyatukan tiga wilayah komando utama: Aceh-Sumatera, Jawa-Madura, dan Sulawesi-Kalimantan. Peserta datang dari sebelas provinsi, menurut ingatan salah seorang peserta, dan sebagian besar yang hadir adalah orang lama yang sudah senior. 116

Isu utama yang dibahas adalah yang memegang posisi teratas Adah Djaelani atau Ajengan Masduki. Keputusannya agak rumit, yaitu Darul Islam harus mematuhi prinsip struktur 1979, tetapi karena Adah di tahun-tahun intervensi telah menyimpang dari konstitusi DI dan ajaran Al-Qur'an pada beberapa hal, ia tidak akan dipanggil kembali sebagai imam. Sebaliknya Tahmid Kartosoewirjo akan dipasang sebagai kepala staf, dan akan terserah padanya untuk mengundang rapat dewan eksekutif guna memilih seorang imam.

Para pengikut Ajengan Masduki keberatan dan mengatakan bahwa jika posisinya sebagai imam dipertanyakan, dewan yang menjadikannya imam pada tahun 1987 harus diundang bersidang kembali. Hal ini ditolak. Tahmid dan para pendukungnya menguasai hari itu. 117Tak seorangpun menyarankan Tahmid menjadi imam, tetapi semua kekuatan DI seharusnya diserahkan kepadanya selaku seorang koordinator sipil atas apa yang pada dasarnya adalah organisasi militer. 118

Para pendukung Masduki yang sangat kesal. Bukan hanya Karena pemimpin mereka didorong keluar dari kekuasaan, namun juga karena ajudan nya yang setia, Broto, menyeberang ke kubu Tahmid dan diberi posisi sebagai wakil Mia Ibrahim. Pembelotan ini mengejutkan kubu Masduki, dimana Ajengan dan Broto telah dianggap tak terpisahkan bagaikan "gula dan rasa manisnya ". 119

Sedikit orang merasa senang dengan hasil pertemuan itu. Secara luas, Tahmid dianggap lemah, tanpa dasar kekuasaan sendiri yang nyata. Cisarua secara efektif berarti tidak ada lagi kepura-puraan hanya ada pemimpin tunggal. Masduki memper tahan kan sekelompok kecil loyalis inti yang dikenal sebagai Kelompok 87, sebagian besar berbasis di Lampung. 120

Para anggota DI muda secara khusus kecewa. Seorang peserta mengatakan kepada Crisis Group, "Cisarua tidak memutuskan apa-apa bagi kami, sehingga kami terpaksa mengambil inisiatif dan mengembangkan kelompok-kelompok baru berdasarkan kami sendiri" 121Seorang loyalis Masduki berkata, " Saya bisa bekerja dengan Kelompok 87 tapi dengan segala macam kelompok lain juga bisa. Saya hanya memilih orang-orang terbaik dalam kelompok dakwah saya, dan membuat mereka sebagai pasukan saya. " 122

Periode 1998 dan seterusnya kemudian dikenal di kalangan DI sebagai " jaman ada banyak imam". F enomena baru muncul, yaitu : kelompok-kelompok para anggota DI tanpa afiliasi struktural sama sekali. Mereka berbeda dari "Rings" semisal Ring Condet yang beroperasi di luar wilayah geografis mereka tetapi terus berafiliasi dengan KW tertentu. Kelompok-kelompok baru ini loyal kepada individu, menganggap diri mereka DI, tetapi beroperasi sepenuhnya di luar organisasi formal.

Adalah konflik Ambon yang segera muncul setelah pertemuan Cisarua. Konflik itu memberikan kesempatan kepada para anggota muda DI untuk memimpin dan melakukan apa yang telah didoktrinkan melalui usroh selama dua puluh tahun sebelumnya. Konflik itu meremajakan dan meradikalisasi gerakan.123


Catatan kaki

116Termasuk Gaos Taufik (komandan militer Aceh-Sumatra), Ale A.T. (komandan militer Sulawesi dan Indonesia Timur), Mia Ibrahim (komandan militer Jawa-Madura), Ajengan Masduki, dan Tahmid dan Dodo Kartosoewirjo. Wawancara Crisis Group, November 2003.

117Para pendukungnya termasuk Fachrur Rozi dari KW7, Mahfud Siddiq dari KW9, and Yusuf dari KW1.

118 Semua ini terjadi pada masa setelah jatuhnya Soeharto. A da kemungkinan gagasan kontrol sipil terhadap militer mungkin telah menembus DI.

119Broto marah pada Masduki karena alasan-alasan pribadi. Wawancara Crisis Group, December 2004.

120Wawancara Crisis Group, Januari 2004

121Ibid.

122Wawancara Crisis Group, January 2004.

123Dua hal tersebut adalah keuntungan besar bagi kaum fundamentalis yang diperoleh dari konflik Ambon — Penterjemah

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kamis, 24 Maret 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (24)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (23)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

B. KOMANDO JAKARTA PECAH

Komplikasi baru terjadi selama diskusi-diskusi ini terjadi — perpecahan di dalam KW9 pada Oktober 1996.

Sebagaimana dicatat di atas, KW9 berdiri pada tahun 1975 atau 1976, dengan kepala administrasi seorang pria bernama Abi Karim alias Karim Hasan dan dengan komandan militer Seno alias Basyar. Para pemimpin lainnya termasuk Haji Rais, Nurdin Yahya, Ahmad Sobari , dan Ahmad Sumargono, yang hari ini lebih dikenal sebagai pendiri organisasi KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) pada tahun 1986. Banyak di antara orang-orang ini, termasuk Abi Karim, ditangkap pada tahun 1980 sehubungan dengan Komando Jihad, dan dijatuhi hukuman penjara yang lama .

Ketika pemimpin mereka masuk penjara, anggota KW9 yang tersisa menggunakan Korps Muballigh Jakarta (KMJ) sebagai samaran untuk melanjutkan dakwah DI. KMJ menyediakan para mubaligh untuk khutbah sholat Jumat bagi banyak masjid Jakarta, dan dengan aktif dalam KMJ, anggota DI bisa memastikan mereka akan memiliki kesempatan untuk khutbah dan merekrut anggota baru.

Ketika ini terjadi, Panji Gumilang alias Abu Toto, pendiri pesantren Al-Zaytun, memulai karir DI-nya. Dia telah bergabung dengan KW9 pada tahun 1978 tetapi baru beberapa bulan bergabung , ia ditangkap karena mengambil bagian dalam demonstrasi GPI dan ditahan selama delapan bulan di Bandung, di mana ia satu sel dengan Mursalin Dahlan. Pada tahun 1981, setelah banyak pemimpin puncak DI Jawa Barat ditangkap, ia melarikan diri ke Sabah, Malaysia, dengan bantuan dari Dewan Dakwah Islam Indonesia, di mana ia bekerja sebagai khotib, yang didukung oleh Liga Muslim Dunia (Rabitah al-Alam al-Islami). Ia sering kembali ke Banten selama periode ini, tiketnya dilaporkan dibayar oleh Haji Sanusi, mantan menteri yang kemudian harus ditangkap dalam plot terhadap Soeharto.113

Pada tahun 1983-1984, sementara Abu Toto masih di Malaysia, sebagian pemimpin KW9 dibebaskan dari penjara. Hampir segera perpecahan berkembang diantara mereka. Beberapa orang yang mengetahui Adah Djaelani ada di penjara memutuskan bahwa mereka tidak bisa terus berada di Darul Islam, jika seseorang dengan karakter yang meragukan menjadi pemimpin. Mereka meninggalkan KW9 dan KW9berada di bawah kendali tiga orang, yaitu: Abi Karim, Nurdin Yahya, dan Haji Rais.

Ketika Abu Toto kembali dari Sabah, ia kembali bergabung dengan KW9 dan melekatkan dirinya pada Abi Karim. Semenjak tahun 1987, ke manapun Abi Karim pergi, Abu Toto hampir bisa dipastikan menemaninya. Dia juga melakukan kunjungan rutin ke Adah Djaelani yang masih ditahan dan yang jadi sangat senang dengan penggalangan dana secara kreatif yang dilakukan Abu Toto.114 Pada tahun 1990, dengan dukungan dari Adah Djaelani dan Abi Karim, Abu Toto menjadi kepala staf untuk KW9.

Suatu ramalan beredar di Banten pada waktu itu, yaitu bahwa bila tahun dengan angka Alif (angka "1") bergabung dengan angka "9", maka sebuah peristiwa besar akan terjadi. Mereka menafsirkan ini bahwa pada tahun 1991, DI akan bangkit lagi, lebih kuat daripada sebelumnya. Untuk mempersiapkan hal itu , mereka menata ulang organisasi KW9 dari atas hingga bawah dan meningkatkan sumbangan wajib dari anggota. Dalam proses tersebut, Abu Toto mengambil peran yang semakin penting.

Abi Karim meninggal dunia pada tahun 1992, dan Haji Rais mengambil alih hanya untuk ditangkap karena aktivitas DI/ NII selama setahun berikutnya — ada yang bilang melalui intrik Abu Toto yang kemudian menjadi kepala KW9 dan terus membuat dirinya menonjol dengan penggalangan dana. Ketika Adah Djaelani akhirnya dilepaskan pada tahun 1994, mereka berdua menjadi sangat dekat, dan pada bulan Oktober 1996, tanpa konsultasi apapun, Adah mengeluarkan dekrit mengganti Tahmid dengan Abu Toto sebagai kepala staf DI.

Keputusan tersebut membuat berang banyak anggota senior DI, termasuk Gaos Taufik dan Mia Ibrahim, belum lagi Tahmid itu sendiri. Mereka memutuskan bahwa karena ia telah melanggar peraturan DI dengan tidak melakukan konsultasi dengan Dewan Imamah, mereka tidak lagi mengakui dirinya sebagai pemimpin. Para anggota veteran DI Ahmad Hussein dan Ules Sudjai mendukung Adah, dan faksi Tahmid-Gaos memasang Mahfudz Siddiq sebagai kepala KW9. 115 (Bersambung)


Catatan kaki

113"Riwayat Abu toto: Syaykh ‘Resmi' Al Zaytun" diambil dari artikel karya Umar Abduh, 27 November 2004, http://zaytun.blogspot.com/2004_11_01_zaytun_archive.html

114 Abu Toto menyelenggarakan iuran tahunan wajib bagi anggota KW9 dari Rp.10, 000 hingga Rp.50, 000, dan memaksakan deretan pungutan baru yang luar biasa. Anggota diminta untuk ber- shodaqoh, ketika mereka bergabung, ketika mereka ingin menebus dosa, ketika mereka menikah, bahkan ketika mereka pulang ke rumah untuk merayakan Ramadhan. Dibandingkan dengan KW -KW lain, KW9 bergelimang dengan uang.

115 Mahfudz Siddiq adalah mentor Kang Jaja, pendiri kelompok Banten yang bertanggung jawab atas bom September 2004.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (23)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (22)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

A. Masduki menjadi imam

Pada tahun 1984, ketika dia dibebaskan, sebagian besar pemimpin DI senior lainnya masih di penjara, termasuk imam DI, Adah Djaelani. Selama dua tahun berikutnya, beberapa orang anggota pasukan khusus Gaos Taufik dibebaskan, termasuk beberapa orang yang menetap di sekitar Babakan Ciamis, Kotabumi, Lampung. Mereka mulai membangun kembali kehidupan mereka, memulai usaha dan menghidupkan kembali DI. Reputasi DI dan Warman adalah sedemikian rupa sehingga tak seorang pun berani menentang mereka.

Orang DI yang mendirikan perusahaan kontraktor yang membangun jalan-jalan di Lampung mengatakan dengan kebanggaan yang jelas, "tidak ada yang menghalangi jalan kami. Tentara dan preman takut pada kami Mereka mengatakan, kami adalah bagian dari kelompok Warman".101

Pada tahun 1986-an, orang-orang ini memutuskan bahwa kekosongan dalam imamah yang disebabkan oleh penangkapan-penangkapan Komando Jihad harus diisi, karena DI berada dalam keadaan lumpuh. Nama Ajengan Masduki pun muncul. Semua setuju ia adalah pilihan yang paling sesuai, paling tidak dalam kapasitas sebagai pengurus. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, naik kapal feri ke Jawa, dan pergi ke Cianjur untuk menemui kandidat mereka. Ajengan Masduki mengatakan ia akan melakukan apa saja untuk melayani para mujahidin. "Jika mereka kehilangan prajurit, saya akan menjadi seorang prajurit Jika mereka kehilangan orangtua, saya akan menjadi ayah bagi mereka. Jika mereka telah kehilangan imam mereka, saya siap untuk memimpin mereka, sepanjang semuanya dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan", kata orang yang ingat perkataannya.102

Oleh karena itu, pada suatu waktu pada tahun 1987, atas desakan orang-orang Lampung dan Ajengan Masduki, Dewan Fatwa DI mengeluarkan keputusan menyerukan diadakannya Majelis Syuro, badan legislatif tertinggi Negara Islam Indonesia103, yang terdiri dari kabinet dan perwakilan DI dari setiap KW.104

Pada tanggal 4 November 1987, di Babakan Ciamis, Majelis Syuro bersidang dan mempertimbangkan tiga kandidat, yaitu: Abdul Fatah Wirananggapati (seorang komandan asli Jawa Barat ), Abdullah Sungkar (mewakili generasi muda), dan Masduki.105

Tapi Masduki tidak pernah mempunyai oposisi serius. Bukan hanya dia sendiri menjadi anggota komite persiapan untuk pertemuan itu, tapi ia sebelumnya juga telah berkonsultasi dengan Gaos Taufik dan Ale AT, tampaknya dalam upaya untuk memastikan bahwa DI Sumatra dan DI Sulawesi akan menerima pencalonannya. Beberapa versi menekankan bahwa ini dilakukan dengan sepengetahuan penuh Adah Djaelani dan dengan persetujuannya karena ada kebutuhan untuk pemimpin di luar penjara, paling tidak dalam kapasitas sebagai kuasa usaha (bahasa Indonesia lama) atau pemangku jabatan (bahasa Indonesia modern), sampai dia ke luar penjara.106 Bagaimanapun juga, beberapa pemimpin DI tidak senang dan menuduh Masduki merebut kekuasaan.

Setelah memilih kuasa usaha atau pemangku jabatan imam, Masduki menempatkan orang-orangnya sendiri di posisi kunci, termasuk Mamin alias Ustadz Haris sebagai sekretaris negara dan Abu Bakar Ba'asyir sebagai menteri hukum DI. Abdullah Sungkar bertanggung jawab untuk urusan luar negeri, khususnya mencari dukungan politik dan dana dari luar negeri107. Mia Ibrahim menjadi komandan Jawa-Madura.

Tujuan utama kabinet Masduki adalah membangun dukungan internasional dan penguatan kapasitas militer DI. Sungkar berfokus pada penggalangan dana dari Arab Saudi dan Rabitah, sedangkan Broto, sebagai salah satu anggota papan atas staf Mia Ibrahim, ditugasi dengan melancarkan pengiriman rekrutan DI ke Afghanistan.

Pada tahun 1988, demi kepentingan tujuan-tujuan yang lebih jauh, Masduki bersama delegasi DI pergi ke Pakistan dan Afghanistan. Mereka ini termasuk Abdullah Sungkar, Abu Bakar Ba'asyir, dan dua orang lainnya. Sungkar dilaporkan menggunakan kunjungan tersebut untuk memperkenalkan Masduki kepada Abdul Rasul Sayaf yang kamp-nya di Sada melatih para rekrutan DI, kepada Abdullah Azzam yang merupakan seorang ideolog terkemuka jihad salafi, dan kepada komandan mujahidin senior lain.

Delegasi itu meninggalkan kesan yang mendalam karena salah seorang orang Indonesia yang ikut serta. Ia mengatakan bahwa walaupun sudah tua, Ajengan Masduki adalah orang tua yang paling kuat dan berhasil mencapai kamp di Khost utara, lima kilometer ke dalam pegunungan, dengan kekuatannya sendiri. Sementara mereka ada di sana, daerah itu dibom oleh pesawat Soviet, dan sebagian besar yang hadir berlari ke gua. Masduki tinggal di luar sambil mengatakan "Ini bagus, mengingatkan saya pada masa lalu!"108 Keberanian nya mendatangkan kekaguman padanya, bukan hanya dari orang Indonesia tetapi juga dari orang Afghanistan. Satu-satunya masalah adalah Masduki bersikeras kesana-kemari dengan mengenakan celana pendek, meskipun peraturannya adalah bahwa semua orang disitu harus memakai celana yang menutupi lutut. Seorang Indonesia di sana mengatakan,"ia tampak seperti turis Kami ingin mengatakan padanya bahwa dia tidak bisa melakukan hal ini. Tapi ia imam kami..." Yang l ebih mengkhawatirkan adalah khotbahnya yang dari perspektif salafi termasuk Ilmu laduni109.

Perjalanan ke Afghanistan memiliki konsekuensi yang tidak terduga. Kelompok Sayyaf mulai mempengaruhi beberapa pemikiran Masduki dalam kaitannya dengan khalifah sebagai tujuan utama mereka, bukan hanya tujuan sempit Negara Islam Indonesia. Mereka kemudian mulai memikirkan kembali perjuangan mereka selama tenggelam dalam perjuangan nasionalis parokial. Tetapi, ketika mereka pindah ke pandangan yang lebih internasionalis, DI yang lain melihat Masduki dan anak buahnya menyimpang dari pedoman Kartosoewirjo dan perlu untuk dibawa kembali ke jalurnya.

Perjalanan tersebut juga menimbulkan gesekan dengan cara lain. Ada orang dalam delegasi itu marah karena dalam pertemuan dengan Sayyaf, Abdullah Sungkar yang terus berbicara, bukannya Masduki. Masduki tidak bisa berbahasa Arab, dan dia telah meminta Sungkar untuk berbicara atas nama kelompok — tetapi kesan yang ditinggalkan adalah: Sungkar sengaja disisihkan oleh Masduki.

Ketika perpecahan Sungkar-Masduki terjadi pada tahun 1992, maka jelas di antara kedua orang itu ada persaingan dominasi dalam gerakan tersebut, walaupun ada juga faktor-faktor lain yang terlibat. Sungkar, seorang salafi puritan, menuduh Masduki ber kecenderungan sufi atas dasar ia terlihat merujuk kepada beberapa ajaran yang disebutkan di atas dan merujuk kepada latar belakang Nahdlatul Ulamanya.

Masduki dan beberapa orang di sekitarnya, mempertanyakan pertanggungjawaban Sungkar mengenai dana yang digunakan untuk pelatihan di Afghanistan110. Mereka juga mengatakan, dia telah mempersonalisasikan sumpah setia Darul Islam yang lama kepada dirinya, sehingga rekruitan baru lebih bersumpah setianya kepadanya bila dibandingkan kepada organisasi111. Selain itu, kata mereka, Sungkar bersikeras bahwa semua veteran Afghanistan yang telah kembali tetap berada dibawah kendalinya, bukannya kembali ke KW asal mereka.

Akhirnya, orang-orang DI di Malaysia yang setia kepada Ajengan Masduki atau Gaos Taufik mendapati arogansi Sungkar dan orang-orangnya, terutama pada masalah agama. "Mereka mengatakan kami tidak tahu apa-apa tentang Islam karena kami tidak mengutip Quran setiap kali kami membuka mulut kami", kata salah seorang dari mereka112. Perpecahan tampaknya tak terelakkan.

Jama'ah Islamiyah lahir pada tanggal 1 Januari 1993, dan Ajengan Masduki menggunakan pembelotan Sungkar sebagai alasan untuk mengkonsolidasikan jajarannya. Satu peristiwa yang menarik dari perpecahan itu adalah bahwa semua santri Pondok Pesantren Ngruki yang orangtuanya setia kepada Masduki pindah ke pondok pesantren lain, yaitu pondok pesantren Nurul Salam di Ciamis.

Adah Djaelani dibebaskan dari penjara pada tahun 1994, dan selama empat tahun berikutnya, sebagian besar sisa pemimpin tertinggi Jawa Barat juga dibebaskan. Mereka mulai mengadakan pertemuan sporadis di mana masalah utama adalah apakah Masduki akan terus sebagai imam atau posisi itu akan kembali ke Adah, dan apakah struktur DI seharusnya menjadi imamah tahun 1974, 1979, atau 1987, dengan beberapa perubahan yang sudah diterapkan Masduki. (Bersambung)


Catatan kaki

101Wawancara Crisis Group, November 2004.

102Ibid

103Wawancara Crisis Group, November 2004. Maklumat Dewan Fatwa No.1/87 dikeluarkan oleh Abdul Haq asy-Syuja', kepala Dewan Fatwa, yang baru saja dilepaskan dari dari penjara

104Komite persiapan untuk Majelis Syuro didirikan dengan Rasyid Ibrahim sebagai ketua dan Ajengan Masduki bersama-sama dengan beberapa orang Lampung sebagai anggota.

105 Gaos Taufik yang baru saja dibebaskan dari penjara tetapi tidak diizinkan untuk meninggalkan kota Medan seharusnya menjadi pesaing yang kuat. Tetapi walaupun ia dicintai oleh rekan-rekan DI - nya, khususnya rekan-rekan DI yang di Lampung, ia dianggap terlalu impulsif dan ilmu agama nya dianggap kurang dalam untuk menjadi imam.

106 Menurut versi ini, pada tahun 1987, Adah Djaelani diam-diam menulis surat ke Ajengan Masduki meminta dia untuk mengambil alih kepemimpinan DI. Surat itu disaksikan oleh Tahmid Kartosoewirjo dan dipercayakan kepada Abi Karim alias Karim Hasan untuk diberikan kepada Ajengan Masduki. Tapi Abi Karim yang datang dari latar belakang Muhammadiyah ber keberatan dipimpin seorang pemimpin ber latar belakang Nahdlatul Ulama (NU). Ajengan Masduki tidak pernah tahu keberadaan surat itu sampai terungkap dalam pertemuan DI di Jakarta pada tahun 1996.

107Gelarnya adalah Kuasa Usaha Komandemen Tertinggi

108Wawancara Crisis Group, November 2004

109 ilmu yang langsung berasal dari Allah tanpa melalui proses belajar (semacam karunia ghoib makrifat dalam Alkitab) — 1 Korintus 12:8 (Kepada yang seorang, Dzat Al Qudus mempercayakan karunia untuk berkata-kata dengan hikmah, dan kepada yang lain, Dzat Al Qudus yang sama mempercayakan karunia untuk berkata-kata dengan ma'rifat) dan 1 Korintus 13:8 ( Kasih tidak akan lenyap. Nubuat-nubuat akan berakhir, karunia bahasa-bahasa ghoib akan berhenti, dan ma'rifat pun akan berakhir )

110Wawancara Crisis Group, November 2003.

111Wawancara Crisis Group, July 2004.

112Wawancara Crisis Group, July 2004.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (22)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (21)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

VII. AJENGAN MASDUKI DAN KERETAKAN BARU

Dalam studi Jama'ah Islamiyah, Ajengan Masduki dikenal sebagai orang yang berbeda dengan Abdullah Sungkar. Perbedaan tersebut mengakibatkan Abdullah Sungkar menyempal dari kelompok DI (Darul Islam) dan mendirikan kelompok JI (Jama'ah Islamiyyah) pada tahun 1993 . Namun sepanjang dasawarsa 1980-an dan 1990-an, ia memainkan peran penting sebagai mentor bagi banyak orang yang terlibat dalam tindak kekerasan yang sering terkait JI atau atau yang beraliansi dengan JI, kalaupun pun tidak langsung di bawah komando JI. Dia mengutus orang-orangnya sendiri ke Afghanistan dan Mindanao, dan sementara banyak orang menyeberang ke Sungkar, beberapa orang tetap setia kepadanya. Masduki seperti halnya setiap orang dalam sayap militer Darul Islam (fisabilillah) tetap ada bersama-sama di Indonesia, sementara Sungkar dan Ba'asyir berada di Malaysia. Dan, sementara ia dan Sungkar tetap berselisih sampai meninggal dunia pada tahun 1999, ada lebih banyak komunikasi dan interaksi di antara para pengikut mereka. Orang-orang yang loyal pada Masduki dengan demikian adalah kolam operatif sumber pelaku jihad.

Ajengan Masduki lahir di Ciamis. Dikenal sebagai salah satu ulama Islam sejati DI. Menurut laporan, dia telah hafal Al-Quran saat berumur enam belas tahun. Dia adalah satu dari sangat sedikit pemimpin Darul Islam yang berlatar belakang Nahdlatul Ulama. Dia sempat bertempur melawan Belanda saat berada dalam di Hizbullah dan pada tahun 1946 ikut pertemuan Cisayeung, Jawa Barat, yang meletakkan dasar bagi pendirian kelompok Darul Islam tiga tahun kemudian. Ia menjadi camat DI pertama di Gunung Cupu, Tasikmalaya, dan menurut salah satu sumber, dia adalah komandan level kecamatan pertama yang ditugaskan oleh Kartosoewirjo. Ia menjadi anggota Dewan Fatwa (Dewan Fatwa) di bawah Daud Beureueh, dan pada tahun 1979, ketika Adah Djaelani menjadi imam, dia menjadi kepala deputi Dewan Fatwa itu.

Masduki ditangkap pada tahun 1982, salah seorang yang ditangkap pada penangkapan terakhir dalam penumpasan pasca Komando Jihad dari 1979-1982. Dia ditahan selama dua tahun dan ketika dilepaskan, dia kembali ke Cianjur, Jawa Barat daerah. (Bersambung)

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Rabu, 23 Maret 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (21)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (20)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

C. RELEVANSI MASA KINI

Mungkin ada pelajaran di sini bagaimana kelompok-kelompok sempalan dari JI muncul: para anggota muda subdivisi JI (wakalah) yang barangkali diilhami oleh tindakan berani JI yang sebelumnya dapat merencanakan dan melaksanakan operasi atas nama JI tanpa dukungan dari kepemimpinan JI dan tanpa tingkat keahlian yang sama. Perbedaannya adalah bahwa di Lampung, satu-satunya senjata yang dimiliki oleh kelompok Hidayat Nur adalah panah; siapa pun yang bertindak atas nama JI hampir pasti memiliki akses ke senjata api dan bom.

Ada dua poin lain yang patut dicatat dalam kaitannya dengan JI. Pertama, ciri dari berbagai upaya untuk menghidupkan kembali Darul Islam itu adalah bahwa banyak dari antara mereka yang telah dipenjarakan setelah kegagalan pemberontakan itu sekurang-kurangnya tidak kapok dan akan mencoba lagi ketika mereka keluar, kadang-kadang dalam bentuk yang berbeda, kadang-kadang dengan sekutu yang berbeda. Ini berarti bahwa kelompok-kelompok jihad tahu — atau sekurang-kurangnya percaya — bahwa kelompok orang-orang yang telah dipenjarakan karena kegiatan di sepanjang lini ini mungkin tersedia untuk operasi masa depan dan nampaknya mempunyai sedikit keseganan dalam menghubungi mereka. Nur Hidayat mengaku dikontak agar berpartisipasi dalam operasi pemboman Malam Natal 93 tapi ia menolak, dan ia bukan satu-satunya yang dikontak94.

Kedua, perlu dicatat seberapa sering Lampung muncul sebagai basis DI-JI yang penting. Pada tahun 1976, itu adalah panggung pementasan upaya membangkitkan kembali Darul Islam melalui Komando Jihad. Abdul Qadir Baraja, yang bukunya tentang jihad beredar di Ngruki pada sekitar waktu ini, adalah seorang pemimpin DI saat itu dan terus beroperasi keluar dari Lampung sampai dengan hari ini 95. Musa Warman dari Komando Jihad dari DI memulai karirnya di Lampung pada tahun 1987, seperti yang akan terlihat di bawah ini, para pemimpin DI bertemu di Lampung untuk memutuskan imam baru (atau yang bertindak sebagai imam baru). Orang-orang yang melarikan diri dari tindakan keras terhadap gerakan usroh di Jawa menemukan keamanan di antara para migran Jawa di Lampung. Timsar Zubil, pria yang ditangkap pada 1977 sehubungan dengan kekerasan Komando Jihad, menetap di Lampung setelah dibebaskan dari penjara pada tahun 1999.

Nilai penting Lampung pun berlanjut. Tidaklah jelas kapan JI mendirikan wakalah di sana, tapi DI Lampung juga dipengaruhi oleh perpecahan Sungkar-Masduki pada tahun 1991-1992. Faksi ProMasduki yang dipimpin oleh Abi Surachman, karyawan PT Cipta Niaga yang menggantikan Baraja sebagai pemimpin DI Lampung setelah Baraja ditahan sehubungan dengan pengeboman Candi Borobudur tahun 1985. Iliyas Liwa termasuk dalam faksi yang memisahkan diri yang menjadi JI. Dia berasal dari Sulawesi, dan dialah yang menjadi kepala wakalah pertama. Utomo alias Abu Faruq menggantikan dia pada sekitar tahun 1997, juga beberapa lainnya. Perpecahan tidak hanya terjadi karena pemimpin mana yang lebih diinginkan, melainkan juga karena ajaran agama. Anggota DI Lampung menyatakan bahwa selama seseorang tinggal di wilayah musuh, maka dia tidak diwajibkan untuk berdoa lima kali sehari, tapi itu karena alasan taktis. Orang dapat menggabungkan shalat subuh dan shalat zhuhur, misalnya. Bagi sekelompok anggota DI yang telah memperoleh perspektif yang lebih salafi, ini adalah haram. Mereka meninggalkan DI dan bergabung dengan beberapa pengikut Sungkar di Solo untuk menjadi inti JI Lampung 96.

Salah satu anggota JI Lampung yang menonjol, Utomo alias Abu Faruq, berasal dari Trenggelek, Jawa Timur. Pada tahun 1985, ketika dia sedang belajar di Solo - di universitas yang sama di mana Warman telah menembak asisten rektor enam tahun sebelumnya - ia bertemu dengan Abu Fatih, yang kemudian menjadi pemimpin Mantiqi II JI. Abu Fatih membujuknya untuk bergabung dengan DI. Abu Fatih juga mengatur agar ia pergi ke Afghanistan. Di Afghanistan, ia menjadi dekat dengan Thoriquddin alias Abu Rusdan. Setelah kembali dari Afghanistan, ia pergi ke Solo, tetapi pada tahun 1988 ini disarankan oleh teman-teman di sana untuk hijrah ke Lampung karena Jawa Tengah tidak lagi aman 97.

Kita tahu bahwa orang-orang dari Lampung dikirim ke Kamp Hudaibiyah di Mindanao pada tahun 1999 98, bahwa wakalah itu berfungsi di sana pada tahun 2002 99, dan bahwa pada tahun 2003, Lampung masih merupakan kubu JI paling penting yang ketiga, setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur 100. Pada akhir 2002-awal 2003, beberapa anggota seksi militer wakalah Lampung dikirim untuk melatih di unit pasukan khusus JI yang baru yang dibentuk oleh Mantiqi II, dan beberapa pertemuan-pertemuan penting untuk merencanakan pengeboman Marriott dilaksanakan di Lampung pada bulan Juni 2003. (Bersambung)


Catatan kaki

93Bom Natal tahun 2000. Baca juga: Daftar gereja target bom Natal 2000 dan jumlah korbannya, Bom Natal dan JI

94 Rakyat Merdeka, 29 Januari 2001

95 gerakannya untuk mengembalikan kekhalifahan (Khilafatul Muslimin) memiliki alamat Lampung, dan ia sendiri melakukan perjalanan antara Lampung dan Sumbawa (tempat asalnya) secara teratur.

96 Wawancara Crisis Group, November 2004. Kelompok ini mencakup Yasir, Madrus, Idris, dan Ilyas.

97 Tempat hijrah juga menjadi titik-titik interaksi antara orang-orang dari berbagai latar belakang dan daerah.

98 Para peserta asal Lampung berada dalam satu kelas yang berlangsung selama tiga bulan di Camp Hudaibiyah pada tahun 1999 termasuk Supri alias Anas; Edi Suprapto alias Yasir alias Tsalabah (bendahara wakalah tahun 2002) dan Naufal. Lihat pernyataan interogasi Ilham Sopandi alias Husni dalam Berkas Perkara No Pol BPI 07./XII/2003 / Dit-VI Tersangka Solihin als Rofi, Jakarta Desember 2003.

99 Kepala wakalah Lampung pada akhir tahun 2002 adalah Utomo alias Abu Faruq. Dia mengirim dua anak buahnya, yaitu Samuri Farich Mustofa dan Tsalabah, ke pelatihan unit pasukan khusus JI yang baru. Lihat kesaksian saksi ahli Lobby Loqman SH, 12 Desember 2003 dalam kasus Solihin als Rofi, Perkara No Pol BPI 07./XII/2003/Dit-VI.

100 Wawancara Crisis Group, Januari 2004

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book