Tampilkan postingan dengan label Ilmu Logika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Logika. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2011

Logika: BEDA LOGIKA DAN BAGIAN LAIN FILSAFAT

Scanned from M. Sommers' “Logika”

(Lanjutan dari "Logika: PEMBAGIAN LOGIKA")

CATATAN :

A. Tentang perbedaan antara logika dan bagian-bagian lain dari filsafat yang juga membicarakan pengetahuan.

Soal yang dipandang Logika adalah soal tentang pengetahuan. Soal ini juga dipandang oleh psykologia dan Gnoseologia, akan tetapi obyek formil berbeda: Logika memandang pengetahuan untuk mengaturnya; psykologia memandang pengetahuan untuk menerangkan perkembangannya; gnoseologia memandang pengetahuan untuk menentukan apakah sesuai dengan kenyataan (realitet).

B. Tentang Logika, sekedar logika memandang "secundae intentiones".

Logika adalah pengetahuan rasional, bukan hanya karena pengetahuan itu diperoleh dari akal budi manusia, sebab dalam arti ini semua pengetahuan bersifat rasional, karena diperoleh dari akal budi; akan tetapi karena logika memandang akal budi sendiri dalam karya-karyanya untuk mengaturnya. Akan tetapi pengetahuan (cognitio) oleh filsuf-filsuf skolastik disebut intentio, karena dengan pengetahuan manusia "tendit in" menuju ke obyek-obyek atau menangkapnya.

Intentio ada 2 :

  1. Intentio pertama atau intentio, dengan mana dikenal barang-barang.
  2. Intentio kedua atau pengetahuan, dengan mana dikenal pengetahuan itu sendiri.

Dalam logika pengetahuan bukan memandang barang­-barang, melainkan pengetahuan sendiri; ialah dalam logika kita berfikir tentang pemikiran; kita mengadakan putusan tentang putusan; kita mengerti pengertian kita. Oleh karena itu dikatakan: logika adalah ilmu pengetahuan tentang secundae intentiones (tentang pengertian-tentang pengertian (konsep), tentang putusan tentang putusan; tentang pengertian putusan; tentang putusan tentang pengertian itu sendiri).

C. Tentang pemikiran yang tidak betul dan tidak benar, sekedar dipandang oleh Logika.

Untuk mengatur pemikiran, logika harus juga memandang pemikiran yang tidak betul dan tidak benar, yang disebut pemikiran sofistis. Sebab tiap-tiap ilmu pengetahuan yang memandang obyeknya sendiri, harus juga memandang apa yang berteritangan dengan obyek itu; yang mempelajari terang, harus juga mempelajari yang gelap, dan demikian juga tentang yang panas dan yang dingin, tentang yang baik dan yang jahat, dan lain-lain.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Selasa, 22 Februari 2011

Logika: PEMBAGIAN LOGIKA

Scanned from M. Sommers' “Logika”

(Lanjutan dari "Logika: PENGERTIAN "LOGIKA'")

Disajikan 3 pemikiran :

  1. Ilmu pengetahuan patut disukai.

    Akan tetapi filsafat adalah ilmu pengetahuan.

    Jadi filsafat patut disukai.

    Dalam pemikiran pertama ini, kesimpulan itu betul, dan kesimpulan itu merupakan ucapan yang benar.

  2. Setiap manusia adalah adil

    Akan tetapi Yudas adalah manusia.

    Jadi Yudas adalah adil.

    Dalam pemikiran ke-2 kesimpulan itu palsu, akan teta­pi pemikiran itu menghasilkan kesimpulan yang tepat; sebab, seandainya setiap manusia itu adil dan Yudas itu manusia, maka Yudas itu adil; kesimpulan itu palsu, karena kalimat pertama (putusan pertama) itu palsu dan pemikiran itu maju dari ucapan (proposisi) yang pertama.

  3. Ilmu pengetahuan patut disukai.
  4. Akan tetapi filsafat adalah ilmu pengetahuan.

    Jadi Yudas rnenjadi penghianat.

    Dalam pemikiran ke-3 kesimpulan itu sendiri memang benar, tetapi tidak ada hubungan dengan putusan-putusan yang mendahuiuinya.

Maka ada 2 syarat untuk pemikiran yang sab :

  1. Putusan-putusan sendiri harus benar.
  2. Harus ada hubungan antara putusan-putusan, ialah harus ada kemungkinan pada putusan-putusan untuk mem­bimbing dengan tepat menuju ke kesimpulan.

Putusan-putusan disebut materi (bahan) pemikiran, oleh karena pemikiran itu terdiri dari putusan-putusan; hubungan antara putusan-putusan itu disebut forma (bentuk) pemikiran.

Pemikiran dapat dibandingkan dengan sebuah bangunan:

  • bagus bentuknya dan baik bahannya (pemikiran yang betul dan benar);
  • bagus bentuknya dan tidak baik bahannya (pemikiran yang betul dan tidak benar);
  • tidak bagus bentuk­nya dan baik bahannya (pemikiran yang tidak betul dan benar).

Bentuk terdapat juga, kalau putusan-putusan itu palsu; kalau begitu, kesimpulan itu palsu, bukan karena bentuk atau hubungan dengan putusan-putusan, melainkan karena putusan-putusan itu sendiri palsu.

Pemikiran, dalam mana ada bentuk, disebut pemikiran yang tepat (entah benar entah palsu); akan tetapi kalau putusan-putusan (bahan pemikiran) juga benar, terdapat pemikiran yang benar.

Logika memandang pemikiran sekedar tepat dan benar, Kalau logika memandang pemikiran sekedar tepat, maka ia melihat bentuk pemikiran; kalau logika memandang pemikiran sekedar benar, maka ia melihat bahan pemikiran.

Oleh karena itu logika dibagi :

  1. Logika formil, kalau memandang bentuk pemikiran.
  2. Logika material, kalau memandang bahan pemikiran,

Akan tetapi karena pemikiran itu terdiri dari putusan-putusan, putusan terdiri dari pengertian-pengertian, maka logika formil selain pemikiran yang tepat, memandang juga pengertian dan putusan, sekedar berguna untuk pembetulan pemikiran.

Demikian juga logika material, selain pemikiran benar, memandang pengertian dan putusan, sekedar berguna untuk pemberian pemikiran.

Bersambung ke "Beda logika dan bagian lain filsafat"

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Selasa, 15 Februari 2011

Logika: PENGERTIAN "LOGIKA"

Scanned from M. Sommers' “Logika”

(lanjutan dari "Pendahuluan dalam Logika")

Penyelesaian masalah logis diperoleh dengan ilmu pe­ngetahuan, yang memandang pemikiran (logos) dan karena itu disebut ilmu pengetahuan rasional atau logika: (logiké ­epistémé-scientia logika), dan oleh karena kata „scientia" atau ilmu pengetahuan dipakai untuk semua ilmu, maka kata "ilmu" ditiadakan dan tinggal saja kata adjektivum "logika", untuk menunjukkan ilmu tentang pemikiran. Oleh karena itu logika dapat diberi definisi: Ilmu pengetahuan tentang karya-karya akal budi (ratio) untuk membimbing menuju yang benar.

Logika adalah
ilmu pengetahuan tentang karya-karya akal budi (ratio) untuk membimbing menuju yang benar.

Uraian definisi :

  1. Ilmu peneetahuan, sebab logika merupakan keseluruhan dari hal-hal yang diketahui dan dibuktikan dengan prin­sip-prinsip, seperti pada semua ilmu lain.
  2. Karya-karya akal budi: Karya-karya akal budi (pengertian, putusan dan pemikiran) merupakan sasaran daripada logika, ialah merupakan obyek material daripada logika.
  3. Untuk membimbing menuju yang benar: logika memandang karya-karya akal budi untuk mengaturnya; logika menyajikan hukum-hukum, dengan mana akal budi memperoleh yang benar; dengan kata lain: obyek formil daripada logika ialah aturan yang harus diperhatikan pada karya-karya akal budi atau pengaturan karya-karya akal budi itu dan karena itu logika dibedakan dengan bagian-bagian filsafat yang lain tentang pengetahuan. Oleh karena itu logika merupakan keseluruhan daripada hukum-hukum untuk memperoleh yang benar dalam pemikiran kita; dan karena itu logika juga disebut teknik berpikir (techné-ars).

Sekedar logika menyajikan hukum-hukum dan membimbing pemikiran, logika merupakan teknik; sekedar logika membuktikan hukum-hukum dengan mempergunakan prinsip-prinsip, maka logika merupakan ilmu; dengan satu kata : logika adalah teknik ilmiah.

Dari yang dikatakan di atas jelaslah gunanya dan perlunya logika untuk filsafat dan semua ilmu lain; oleh karena itu dengan tepat logika disebut sarana ilmu-ilmu.

Kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam ajaran-ajaran, seringkali dapat diterangkan dengan menunjukkan, bahwa teknik yang benar dari logika tidak atau kurang diperhatikan.

Bersambung ke "Pembagian Logika"

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Minggu, 13 Februari 2011

Logika: PENDAHULUAN DALAM LOGIKA

Scanned from M. Sommers' “Logika”

Bab I. Pendahuluan Teoritis

Bab II. Pengertian Logika

Bab III. Pembagian Logika

Bab IV. Pendahuluan Historis

PENDAHULUAN TEORITIS (MASALAH LOGIKA)

Semua orang mempergunakan pemikiran untuk meya­kinkan orang lain mengenai suatu ucapan; akan tetapi orang lain itu diyakinkan, kalau pemikiran-pemikiran itu membuk­tikan dengan balk ucapan (tesis), yang harus dibuktikan; oleh karena itu timbul soal:

Bagaimana pemikiran harus disusun, sehingga orang lain diyakinkan tentang suatu ucapan? Apakah terdapat hukum-hukum untuk menyusun pemikiran-pemikiran yang sah?

Pemikiran-pemikiran yang sah merupakan syarat mutlak untuk semua orang, yang hendak meyakinkan orang lain, akan tetapi lebih perlu lagi bagi mereka yang hendak mem­berikan atau mengajarkan suatu ilmu pengetahuan; sebab tidak ada orang yang seluruhnya dan tetap diyakinkan, kecuali kalau disajikan kepadanya ucapan yang memaksa untuk menyetujui.

Kalau seseorang mau bicara atau menulis dengan tepat, harus diperhatikan hukum-hukum daripada Gramatika: de­mikian juga, kalau seorang mau berpikir dan mengajar dengan tepat, maka harus diperhatikan hukum-hukum logika

Dalam gramatika dipandang keseluruhan kata-kata (term-term) yang ada arti lengkap; keseluruhan itu dapat terdiri dari satu kalimat, tapi biasanya terdiri dari banyak kalimat, yang dibagi dalam term-term.

Dalam logika dipandang pemikiran, yang memuat pe­ngertian-pengertian yang mampu untuk membuktikan suatu ucapan; pemikiran itu terdiri dari banyak putusan, yang dibagi dalam pengertian-pengertian.

Demikian misalnya, pemikiran untuk membuktikan bahwa filsafat patut disukai :

Ilmu pengetahuan patut disukai.

Akan tetapi filsafat adalah ilmu pengetahuan.

Maka filsafat patut disukai.

Pemikiran itu mempunyai 3 putusan, yang disusun dari 3 konsep (pengertian): ilmu pengetahuan, filsafat, patut disukai.

Pemikiran (ratiocinium), putusan (iudicium), dan pengertian (conceptus) berasal dan berkembang dari akal budi dan berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu masalah logis ialah: "Bagaimana pemikiran harus diatur untuk memperoleh kebenaran?"

Bersambung ke "Pengertian Logika"

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book