Tampilkan postingan dengan label Bom Bali 2002. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bom Bali 2002. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 April 2011

Al Qaeda admits Bali blasts on Web

November 07, 2002

Islamic militant group al Qaeda has claimed responsibility for the bomb attack on a Bali nightclub in which more than 180 people died.

The group said it had targeted "nightclubs and whorehouses in Indonesia" in a Web site message which also boasted of its aim to hit inside Arab and Islamic countries which are part of a "Jewish-Crusader" alliance.

The al Neda Web site has been used in the past by al Qaeda to claim responsibility for attacks, including the synagogue fire in Tunisia in which mainly German tourists died, and strikes on two ships in Yemen. The Web site's address has been moved repeatedly.

The al Qaeda message read: "By attempting to strike a U.S. plane in Saudi Arabia and by bombing a Jewish synagogue in Tunisia, destroying two ships in Yemen, attacking the Fialka base in Kuwait, and bombing nightclubs and whorehouses in Indonesia, al Qaeda has shown it has no qualms about attacking inside Arab and Islamic lands."

The statement was translated by CNN.

"This is provided that the target belongs to the Jewish-Crusader alliance," it continues.

The synagogue bombing took place in April and killed 19 people, most of them German tourists.

The attacks on the French oil tanker off the coast of Yemen and on U.S. Marines training in Kuwait happened in October.

Several men were arrested in Saudi Arabia in June accused of plotting to shoot down aircraft, reported to have included U.S. military planes based at Prince Sultan airbase.

In an interview with CNN, Deputy Defense Secretary Paul Wolfowitz said he had also seen a translation of the statement, "It's a hijacking of Islam. It's a distortion of Islam," he said.

Wolfowitz echoed others, including President George W. Bush, in calling the Bali bombing the work of al Qaeda. "I think anybody looking at the evidence of everything that's been happening over the last 10 years, and particularly the last 18 months, would have to say this has all of the hallmarks of an al Qaeda operation," he told CNN.

"We can see it from their Web sites, that al Qaeda views this as a major target for disruption and recruitment and for conducting terrorist attacks," Wolfowitz added, saying that the Bali attack had been a wake-up call for the Indonesian government and people in the war on terrorism.

The claim came after Indonesian police said a suspect had confessed during interrogation to being part of a group which carried out the Bali bomb blasts in the October 12 attack on the Sari Club in the resort town of Kuta. (Full Story)

The man, claiming to have planted the Bali bomb, told interrogators he had left it in a minivan, National Police Chief Da'i Bachtiar said.

According to a spokesman for the international team of investigators, Amrozi was arrested on Wednesday on the main Indonesian island of Java after police identified him as the van's owner.

He was later flown to Bali for questioning.

Police are still searching for his colleagues.

-- CNN's Senior Producer Henry Schuster contributed to this report

Sumber: http://articles.cnn.com/2002-11-07/world/bali.bombings.qaeda_1_jewish-crusader-alliance-nightclubs-and-whorehouses-bali-bomb?_s=PM:asiapcf

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Jumat, 22 April 2011

“Amrozi Mengaku Sebagai Pelaku Peledakan Bom Bali”

I Made Mangku Pastika: “Amrozi Mengaku Sebagai Pelaku Peledakan Bom Bali”

I Made Mangku Pastika

Denpasar, Jakarta, Jayapura, Manila. Dalam tiga hari, I Made Mangku Pastika harus terbang ke empat kota ini dengan jadwal yang penuh padat ‎— ‎mulai dari memberikan briefing kepada tim investigasi, menemui sejumlah sumber dalam kasus bom Bali, melakukan serah-terima jabatan, hingga menghadiri konferensi internasional soal terorisme. Jadwal hidup inspektur jenderal polisi ini memang jauh lebih ketat setelah dia diangkat menjadi ketua tim investigasi bom Bali ‎— ‎menyusul peledakan bom di Kuta, Bali, pada 12 Oktober 2002, yang melayangkan lebih dari 185 nyawa.

Tak bisa dimungkiri bahwa popularitasnya pun ikut melambung ke level internasional. Penyelidikan yang dipimpinnya menjadi sorotan dunia dalam beberapa pekan terakhir: Posisi ini membuat Mangku Pastika bukan saja berhubungan dengan polisi Indonesia, tapi juga polisi dan tim penyelidik khusus dari sejumlah negara asing ‎— ‎Australia, Amerika Serikat, Inggris, antara lain. "Mereka semua di bawah kendali saya dan mereka tidak punya kewenangan untuk menggeledah atau menangkap," ujarnya tentang para penyelidik asing yang ada di Bali.

Setiap hari, sejak Kepala Kepolisian RI Jenderal Da'i Bachtiar memintanya memimpin tim investigasi tersebut, Mangku Pastika memulai jadwal kerjanya pada pukul 9 pagi di Wisma Kepolisian Daerah Denpasar. Di sana dia mengumpulkan anak buahnya untuk rapat perencanaan sebelum terjun ke lapangan. Evaluasi dilakukan pada pukul 9 malam ‎— ‎yang sering berlangsung hingga tengah malam ‎— ‎untuk membicarakan temuan-temuan pada hari itu. Untuk mempermudah koordinasi, Pastika memilih untuk tidur di wisma tersebut ‎— ‎15 kilometer dari Kuta ‎— ‎ketimbang tidur di rumahnya di Denpasar atau di hotel.

Pastika pun sering muncul di lapangan dalam baju sipil. Di setiap tempat yang didatanginya, Pastika meluncurkan perintah ke anak buahnya, menjawab pertanyaan wartawan, berdiskusi dengan penyelidik asing. Menempatkan Pastika sebagai ketua tim tampaknya keputusan yang tepat. Sebagai orang asli Bali, dia diterima oleh masyarakat di sana. Bahkan beberapa tokoh masyarakat di Bali secara terbuka menyatakan dukungannya.

Latar belakangnya sebagai reserse membuat Pastika mengaku: "… selalu bergerak berdasarkan data lapangan dari tempat kejadian perkara. Hal-hal di luar itu adalah penunjang," ujarnya kepada TEMPO. Dia mengakui, ada beragam analisis berkaitan dengan bom Bali, tapi semua itu harus dibuktikan benar, sebelum menuduh.

Sebelum bom Bali, Pastika sudah pernah menangani sejumlah investigasi yang pelik. Antara lain, kasus pembunuhan Theys Hiyo Eluay, Ketua Presidium Dewan Papua, dan penembakan warga negara asing di Timika, Papua.

Pekan lalu, dua jam sebelum terbang ke Manila, dia menerima wartawan TEMPO Edy Budiyarso di Ciracas, Jakarta Timur, untuk sebuah wawancara khusus. Berikut petikannya.

Bagaimana polisi sampai bisa menangkap Amrozi, pemilik mobil L-300 yang diledakkan di depan Paddy's Café? Semua berasal dari penyelidikan dan penyidikan di tempat kejadian perkara (TKP) bekas bom. Dari kawah (bekas ledakan) yang menganga, kami menyimpulkan di situlah bom diletakkan.

Bukankah semuanya sudah hancur lebur?

Kan mobil yang sudah hancur lebur itu dicari setiap potongannya. Akhirnya ditemukan kepingan-kepingan kecil rangka dan lantai mobil yang sudah hancur. Anak-anak anggota Laboratorium Forensik Polri bahkan menemukan kepingan mobil di lantai tiga rumah toko yang berada di sebelah Paddy's Café.

Kok bisa yakin bahwa mobil yang dipakai jenis van L-300?

Kepingan tadi kami kumpulkan sampai membentuk kerangka sebuah mobil. Dari situ kami menyimpulkan bahwa mobil itu jenis L-300. Dari rekonstruksi itu kami menemukan nomor rangka mobil. Ternyata nomor itu juga sudah distrip (dirusak dengan gerinda). Maka kami kian yakin ini memang disengaja.

Kalau nomor rangka itu sudah dirusak, dari mana polisi kemudian mendapatkan nomor tersebut?

Kami memang sempat bingung karena penyetripan nomor itu. Ada beberapa angka yang mirip sehingga kami tidak bisa membedakan angka 3, 6, dan 8. Semula kami menganggap bahwa angka pertama adalah 6, kemudian baru kami tahu bahwa itu angka 0. Menurut keterangan ahli Mitsubishi, van itu buatan tahun 1991-1993.

Mitsubishi membuat mobil sejenis sampai 6.000-an unit pada tahun-tahun itu. Bagaimana tim Anda melacaknya?

Untuk menentukan satu dari 6.000-an itu, kami mencoba melacaknya dari data lalu lintas di seluruh Indonesia. Kami kerahkan Direktur Lalu Lintas Mabes Polri untuk mencarinya. Untungnya, registrasi dan identifikasi mobil ditangani polisi, jadi kami dapat cepat mencari.

Ada berapa nomor yang mirip?

Saya lupa jumlahnya. Kalau tidak salah ada empat atau lima mobil. Semuanya kami cari. Ternyata mobilnya masih ada, berarti bukan mobil itu (mobil yang memiliki nomor rangka tersebut ‎— ‎Red.) yang dipakai untuk meledakkan. Mobil awal tahun 1990-an itu sudah dijual, pindah tangan sampai tiga-empat orang. Di sini ada kebiasaan buruk ‎— ‎orang membeli mobil tapi tidak dibaliknamakan. Ini membuat kami kesulitan mencarinya.

Lalu bagaimana mobil itu akhirnya bisa diidentifikasi?

Pada Sabtu, 2 November lalu, saya menyuruh agar dilakukan lagi pengecekan ulang potongan-potongan mobil itu. Siapa tahu ada yang kececer. Ternyata benar. Kami menemukan satu nomor kir, karena ini mobil pelat kuning, untuk penumpang umum. Kalau mobil pribadi tidak ada kirnya.

Kenapa nomor kir ini tidak bisa ditemukan selama penelusuran selama berpekan-pekan sebelumnya?

Nomor kir ini sebelumnya tertutup oleh pelat dan dibungkus kain. Dari nomor kir itulah kami mulai bergerak. Ternyata mobil itu sudah berkali-kali pindah tangan, dari si A ke si B, lalu B menjual ke si C. Si C inilah yang ternyata bernama Yudi. Dia membuka bengkel di Denpasar, Bali. Tapi kemudian pindah, karena bengkelnya dibongkar. Dia pulang kampung ke Tuban, Jawa Timur.

Lalu tim Anda menangkap Yudi?

Ya, dia ditangkap di Tuban. Tapi ia mengaku sudah menjual mobil itu kepada Anas, yang tinggal di Lamongan. Setelah kami mencari ke sana, ketemulah si Anas. Anas mengaku mobil itu sudah dijual ke Amrozi. Anas mengaku bahwa ketika mobil itu akan dibeli Amrozi, dia akan membayarnya dengan dolar Singapura dan ringgit Malaysia. Tapi Anas tidak mau menerima. Uang tersebut kemudian ditukarkan senilai Rp 30 juta.

Apakah Amrozi mengaku sebagai pemilik mobil tersebut?

Tadinya dia bilang mobil itu sudah dijual. Ketika kami desak dijual kepada siapa, dia bilang tidak tahu. Kami curiga, masak menjual mobil di kampung di Lamongan sampai tidak tahu siapa pembelinya.

Siapa Amrozi menurut versi tim Anda?

Dia mengaku punya bengkel dan berjual beli telepon genggam. Dia juga pernah bekerja di Malaysia sebagai TKI (tenaga kerja Indonesia).

Apa yang dikatakan Amrozi saat diperiksa oleh tim Anda?

Dia mengaku sebagai pelaku peledakan bom Bali. Katanya, dia pergi bersama tiga orang pada 5 Oktober lalu. Dua orang mengendarai Vitara, sedangkan ia naik L-300. Sampai di Bali, ada orang yang menjemput di sana.

Siapa orang-orang yang pergi bersama dia ke Bali?

Tidak bisa saya sebutkan karena mereka masih kami kejar dan belum tertangkap.

Apa saja yang dikerjakan Amrozi selama di Bali?

Kami sedang menyelidiki apa yang dia lakukan selama lima hari di sana.

Dari mana datangnya bahan peledak untuk bom Bali itu?

Amrozi mengaku membelinya di sebuah toko kimia di Surabaya. Ada namanya tapi tidak bisa saya sebutkan. (Petugas Bagian Reserse Ekonomi Kepolisian Daerah Jawa Timur memeriksa dua toko: Tidar Kimia di Jalan Tidar dan Aneka Kimia di Jalan Waspada, Surabaya, karena mendapat informasi bahwa Amrozi berbelanja bahan kimia di sana ‎— ‎Red.)

Pers Australia pernah menulis bahan peledak dalam bom Bali itu adalah amonium klorat yang hilang dari pangkalan militer di Jawa?

Bukan, itu tidak benar.

Bagaimana bahan peledak ini dibawa ke Bali? Lewat darat, laut, atau udara?

Pokoknya, mereka (pengebom) itu telah mempersiapkannya dengan baik.

Berapa jumlah bahan peledak yang digunakan untuk menghancurkan Legian?

Diperkirakan 50-100 kilogram. Amrozi mengaku membeli amonium klorat 100 kilogram. Ditambah bahan-bahan kimia lainnya, Amrozi menyebut berat bahan peledak mencapai 1 ton.

Ke mana sisa 900 kilogram bahan lainnya?

Sisanya ‎— ‎ 900 kilogram ‎— ‎ itulah yang berbahaya. Apalagi jika mereka belum tertangkap sampai Desember 2002. Kami sedang berusaha keras menangkap mereka.

Apakah tim Anda sudah menemukan siapa yang merakit bom Bali?

Menurut pengakuan Amrozi, bukan dia. Soal siapa yang merakit, belum bisa terungkap karena yang lain belum tertangkap.

Bagaimana polisi akan menjawab berbagai pertanyaan dengan pengakuan dari Amrozi semata-mata?

Memang masih banyak yang harus diselidiki: siapa yang mengendarai mobil L-300 sampai ke tempat kejadian, siapa yang meletakkan bom, siapa yang membawa, siapa yang meledakkannya. Ini baru pengakuan dari satu orang. Tapi mereka memang canggih. Sejak awal saya sudah menyebut pelakunya 6 sampai 10 orang.

Mengapa polisi bisa yakin bahwa Amrozi adalah tersangka bom Bali? Wajahnya tidak mirip dengan sketsa polisi.

Dia mirip dengan gambar lelaki yang berambut gondrong. (Ustad Amiruddin, pemimpin Pondok Pesantren Al-Islam, Lamongan ‎— ‎tempat Amrozi pernah nyantri ‎— ‎mengatakan dalam wawancaranya dengan SCTV bahwa lelaki gondrong dalam sketsa polisi itu hanya sedikit sekali kemiripannya dengan Amrozi ‎— ‎Red.)

Kami mendapat informasi bahwa sketsa wajah para tersangka digambar dari wajah saksi yang pernah diperiksa polisi?

Tidak benar. Sketsa itu tidak datang dari saksi di lapangan, tapi dari kegiatan intelijen polisi. Ada orang yang mendapatkan informasi dan ada orang yang mengetahui

Apakah kegiatan intelijen polisi itu melibatkan Badan Intelijen Negara?

Tidak ada. Ini semua kegiatan polisi.

Di Malang dan Medan polisi menangkapi orang yang sempat dicurigai. Adakah kaitan mereka dengan Amrozi?

Tidak ada. (Di Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Malang, polisi mengejar Abdul Wahab alias Cak Dul, 40 tahun, karena wajahnya mirip dengan salah satu sketsa polisi. Di Medan polisi menangkap Zulfan, 28 tahun, dengan alasan serupa ‎— ‎Red.)

Apa saja yang bisa Anda gali dari pemeriksaan Amrozi ‎— ‎dalam hal peledakan bom Bali?

Dia mengaku menjadi pelaku peledakan bom Bali. Dia mengaku melakukannya karena membenci orang Amerika.

Dalam jumpa pers di Bali pada 8 November lalu, juru bicara tim investigasi, Brigjen Edward Aritonang, mengatakan Amrozi mengaku bahwa dia berhubungan dengan sejumlah orang. Siapa saja mereka?

Setiap aksi besar seperti pengeboman selalu ada penggagasnya. Motivasinya bisa ideologi atau politik. Dari penyidikan di lapangan, kelihatannya yang lebih besar adalah motivasi ideologi, yaitu ingin menyerang Amerika. Tapi ini masih menurut pengakuan Amrozi. Bisa saja di tengah jalan ada kekuatan politik lain yang mendompleng. Untuk membongkar sampai ke si penggagas, amat susah dan perlu waktu. (Aritonang: "…Amrozi bisa saja berhubungan dengan orang tertentu, kelompok tertentu, bahkan negara tertentu, tapi saya tidak bisa secara spesifik mengatakannya…" ‎— ‎Red.)

Anda percaya pada konspirasi semacam itu?

Saya ini orang reserse. Saya selalu berangkat dari tempat kejadian perkara dan melengkapi bukti-bukti fisik. Bukti di luar itu hanya sebagai referensi untuk membuat penyidikan tidak melenceng terlalu jauh.

Berapa lama Amrozi belajar di Pondok Pesantren Al-Islam di Paciran, Lamongan?

Dia termasuk pendiri Pondok Pesantren Al-Islam di desa itu. Menurut Amrozi, dia pernah ikut pengajian Ba'asyir di Malaysia. Itu terjadi tahun 1980-an. Cerita lengkapnya ada. Tapi saya tidak pegang catatan itu.

Apakah Anda tahu tudingan yang menyebut bahwa polisi hanya mengkambinghitamkan Ba'asyir, agar kisah bom itu ada “lakonnya”?

Itu kan analisis. Analisis itu bisa mengutak-atik-gatuk. Kelihatannya logis tetapi belum tentu benar. Boleh saja orang membuat analisis, tapi jangan yang aneh-aneh. Mendingan si pembuat analisis itu bertemu dengan saya, nanti akan saya jelaskan.

Anda percaya semua pengakuan Amrozi?

Semua cerita dia ini masih kami cek silang lagi.

Apakah intelijen asing ikut membantu pengungkapan Amrozi?

Tidak ada. Ini semua keuletan anak-anak di lapangan.

Sejauh ini, apakah sudah ada kesimpulan tentang keterlibatan teroris internasional?

Kalau dari pengakuan Amrozi bahwa dia pernah ke Malaysia, mungkin saja ada keterlibatan teroris internasional (Jumat, 8 November, CNN memberitakan Al-Qaidah menyatakan secara resmi bahwa mereka yang bertanggung jawab di balik peledakan bom Bali ‎— ‎Red.) Tapi semua ini kan belum terungkap.

Anda berada di mana ketika terjadi ledakan di Legian?

Saya masih di Papua. Beberapa saat setelah kejadian itu, saya ditelepon Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar. Saya diminta segera kembali ke Jakarta.

Bagaimana Anda bisa ditunjuk sebagai ketua tim bom Bali?

Sesampai di Jakarta, saya tidak tahu akan ditunjuk sebagai ketua tim. Karena di Papua saya juga juga sedang menangani kasus besar seperti pembunuhan di Mile 62 Timika, kasus penyanderaan, kasus pembunuhan Theys Hiyo Eluay. Kasus-kasus Papua termasuk kasus besar karena dapat menjadi faktor pemicu disintegrasi bangsa.

Dari sekian banyak kasus yang Anda tangani, bom Bali termasuk ketegori istimewa?

Ini kasus besar yang melibatkan banyak negara. Ada Amerika, Inggris, Jerman, Jepang, Australia. Mereka negara kuat di dunia. Mereka terlibat karena ada warga negara mereka yang menjadi korban. Sehingga duta besar, konsul, intelijen, dan polisi mereka ikut terlibat untuk menyelidiki kasus ini.

Apakah mereka leluasa melakukan penyidikan?

Mereka semua di bawah kendali saya. Jika mereka saya suruh jalan, mereka jalan, kalau tidak, ya tidak. Mereka tidak memiliki kewenangan menggeledah dan menangkap.

Pernah mendengar selentingan ini: polisi kita didikte oleh intel-intel asing?

Tidak ada itu!

Sumber: http://www.tempo.co.id/harian/wawancara/waw-madepastika01.html

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Selasa, 19 April 2011

Kronologi Bom Bali-Eksekusi Mati Amrozi Cs (versi Detik)

Jakarta - Dua bom berkekuatan dasyat telah mengguncang Bali pada 12 Oktober 2002. Lebih dari 200 orang tewas akibat peristiwa tragis itu. Tak cuma itu, lebih dari 200 orang lainnya luka-luka baik ringan maupun parah.

Jika dihitung-hitung, bom yang meledak di dua tempat hiburan di Jalan Legian, Kuta, Bali itu tepat 1 tahun, 1 bulan dan 1 hari setelah bom yang mengguncang World Trade Center (WTC) Amerika Serikat. Tak cuma warga di Indonesia, dunia pun bergetar mendengar kabar ini.

Berikut kronologi peristiwa bom yang mengguncang dunia itu:

12 Oktober 2002

Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian, Kuta, Bali diguncang bom. Dua bom meleda dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu pukul 23.05 Wita. Lebih dari 200 orang menjadi korban tewas keganasan bom itu, sedangkan 200 lebih lainnya luka berat maupun ringan.

Kurang lebih 10 menit kemudian, ledakan kembali mengguncang Bali. Pada pukul 23.15 Wita, bom meledak di Renon, berdekatan dengan kantor Konsulat Amerika Serikat. Namun tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

16 Oktober 2002

Pemeriksaan saksi untuk kasus terorisme itu mulai dilakukan. Lebih dari 50 orang telah dimintai keterangan di Polda Bali. Untuk membantu Polri, Tim Forensik Australia (asal kebanyakan turis yang menjadi korban) ikut diterjunkan untuk identifikasi jenazah.

20 Oktober 2002

Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus ini menyimpulkan, bom di Paddy's Pub berjenis TNT seberat 1 kg dan di depan Sari Club, merupakan bom RDX berbobot antara 50-150 kg. Sementara bom di dekat konsulat Amerika Serikat menggunakan jenis TNT berbobot kecil yakni 0,5 kg.

29 Oktober 2002

Pemerintah yang saat itu dipegang oleh Megawati Soekarnoputri terus mendesak polisi untuk menuntaskan kasus yang mencoreng nama Indonesia itu. Putri Soekarno itu memberi deadline, kasus harus tuntas pada November 2002.

30 Oktober 2002

Titik terang pelaku bom Bali I mulai muncul. Tiga sketsa wajah tersangka pengebom itu dipublikasikan.

4 November 2002

Polisi mulai menunjukkan prestasinya. Nama dan identitas tersangka telah dikantongi petugas. Tak cuma itu, polisi juga mengklaim telah mengetahui persembunyian para tersangka. Mereka tidak tinggal bersama namun masih di Indonesia.

5 November 2002

Salah satu tersangka kunci ditangkap. Amrozi bin Nurhasyim ditangkap di rumahnya di di Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur.

6 November 2002

10 Orang yang diduga terkait ditangkap di sejumlah tempat di Pulau Jawa. Hari itu juga, Amrozi diterbangkan ke Bali dan pukul 20.52 WIB, Amrozy tiba di Bandara Ngurah Rai.

7 November 2002

Satu sketsa wajah kembali dipublikasikan. Sementara itu Abu Bakar Ba'asyir yang disebut-sebut punya hubungan dengan Amrozi membantah. Ba'asyir menilai pengakuan Amrozi saat diperiksa di Polda Jatim merupakan rekayasa pemerintah dan Mabes Polri yang mendapat tekanan dari Amerika Serikat.

8 November 2002

Status Amrozi dinyatakan resmi sebagai tersangka dalam tindak pidana terorisme.

9 November 2002

Tim forensik menemukan residu bahan-bahan yang identik dengan unsur bahan peledak di TKP. Sementara Jenderal Da'i Bachtiar, Kapolri pada saat itu mengatakan kesaksian Omar Al-Farouq tentang keterlibatan Ustad Abu Bakar Ba'asyir dan Amrozi dalam kasus bom valid.

10 November 2002

Amrozi membeberkan lima orang yang menjadi tim inti peledakan. Ali Imron, Ali Fauzi, Qomaruddin adalah eksekutor di Sari Club dan Paddy's. Sementara M Gufron dan Mubarok menjadi orang yang membantu mempersiapkan peledakan. Polisi pun memburu Muhammad Gufron (kakak Amrozi), Ali Imron (adik Amrozi), dan Ari Fauzi (saudara lain dari ibu kandung Amrozi). Kakak tiri Amrozi, Tafsir. Tafsir dianggap tahu seluk-beluk mobil Mitsubishi L-300 dan meminjamkan rumahnya untuk dipakai Amrozi sebagai bengkel.

11 November 2002

Tim gabungan menangkap Qomaruddin, petugas kehutanan yang juga teman dekat Amrozi di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. Qomaruddin diduga ikut membantu meracik bahan peledak untuk dijadikan bom.

17 November 2002

Imam Samudra, Idris dan Dulmatin diduga merupakan perajik bom Bali I. Bersama Ali Imron, Umar alias Wayan, dan Umar alias Patek, merekapun ditetapkan sebagai tersangka.

26 November 2002

Imam Samudra, satu lagi tersangka bom Bali, ditangkap di dalam bus Kurnia di kapal Pelabuhan Merak. Rupanya dia hendak melarikan diri ke Sumatera.

1 Desember 2002

Tim Investigasi Bom Bali I berhasil mengungkap mastermind bom Bali yang jumlahnya empat orang, satu di antaranya anggota Jamaah Islamiah (JI).

3 Desember 2002

Ali Gufron alias Muklas (kakak Amrozi) ditangkap di Klaten, Jawa Tengah.

4 Desember 2002

Sejumlah tersangka bom Bali I ditangkap di Klaten, Solo, Jawa Tengah, di antaranya Ali Imron (adik Amrozi), Rahmat, dan Hermiyanto. Sejumlah wanita yang diduga istri tersangka juga ditangkap.

16 Desember 2002

Polisi menangkap anak Ashuri, Atang, yang masih siswa SMU di Lamongan. Tim juga berhasil menemukan 20 dus yang berisi bahan kimia jenis potassium klorat seberat satu ton di rumah kosong milik Ashuri di Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Lamongan yang diduga milik Amrozi.

18 Desember 2002

Tim Investigasi Gabungan Polri-polisi Australia membuka dan membeberkan Dokumen Solo, sebuah dokumen yang dimiliki Ali Gufron. Dalam dokumen tersebut berisi tata cara membuat senjata, racun, dan merakit bom. Dokumen itu juga memuat buku-buku tentang Jamaah Islamiah (JI) dan topografi suatu daerah serta sejumlah rencana aksi yang akan dilakukannya.

6 Januari 2003

Berkas perkara Amrozi diserahkan kepada Kejaksaan Tinggi Bali.

16 Januari 2003

Ali Imron bersama 14 tersangka yang ditangkap di Samarinda tiba di Bali.

8 Februari 2003

Rekonstruksi bom Bali I

12 Mei 2003

Sidang pertama terhadap tersangka Amrozi.

2 Juni 2003

Imam Samudra mulai diadili.

30 Juni 2003

Amrozi dituntut hukuman mati

7 Juli 2003

Amrozi divonis mati

28 Juli 2003

Imam Samudra dituntut hukuman mati.

10 September 2003

Imam Samudra divonis mati.

28 Agustus 2003

Ali Gufron alias Muklas dituntut hukuman mati

2 Oktober 2003

Ali Gufron divonis mati.

30 Januari 2007

PK pertama Amrozi cs ditolak

30 Januari 2008

PK kedua diajukan dan ditolak

1 Mei 2008

PK ketiga diajukan dan kembali ditolak

21 Oktober 2008

MK tolak uji materi terhadap UU Nomor 2/Pnps/1964 soal tata cara eksekusi mati yang diajukan Amrozi cs.

9 November 2008

Amrozi cs dieksekusi mati di Nusakambangan. (iy/ndr)

Sumber: http://us.detiknews.com/read/2008/11/09/015608/1033710/10/kronologi-bom-bali-eksekusi-mati-amrozi-cs

Catatan SCN:

  1. Selisih waktu antara peristiwa bom Bali dan WTC adalah 1 tahun 1 bulan 1 hari (111). Kebetulankah?
  2. Andai kebetulan, mengapa menggunakan "nomor cantik" 111?
  3. Andai bukan kebetulan, mengapa bisa punya selisih "nomor cantik" 1 tahun 1 bulan 1 hari (111) semenjak peristiwa 911 (WTC)? Adakah hubungannya dengan kelompok pencetus tragedi Ambon tanggal 19/9/1999 (1911999) yang mungkin secara "kebetulan" mengindikasikan ada keterkaitan tragedi tersebut dengan tragedi 911 (peristiwa WTC; 1-911-999)?
  4. Apa makna "nomor cantik" 111 itu?
  5. Ledakan bom Bali terjadi pada pukul 11.11 WITA malam atau pukul 11.11 pagi waktu New York (lokasi tragedi kemanusiaan WTC berlangsung). Selisih waktunya adalah 12 jam. Angka tersebut paralel dengan tanggal terjadinya bom Bali, yaitu 12 Oktober 2002. Kebetulankah?
  6. 111 bila dijumlahlah menjadi 1 + 1 + 1 = 3. Angka ini digunakan untuk mengurangi angka 12, sehingga 12-3 = 9. Muncul lagi angka 9. Apakah ini kebetulan juga?
  7. Apakah angka 111 dan angka 11 berkaitan dengan 11/9/2001 yang bila angka 9 dan angka 2 dijumlahkan menjadi angka 11 sehingga 11/9/2001 menjadi 11111 atau 111-11 (111 (1 tahun 1 bulan 1 hari) setelah tragedi kemanusiaan WTC jam 11 lebih 11 menit)?
  8. Mengapa angka 1 dan angka 9 menjadi angka yang mengkaitkan peristiwa-peristiwa tersebut? Apakah ada kaitannya dengan kemunculan angka 1 dan angka 9 pada awal 1990-an dalam DI sebelum JI menyempal (baca "Komando Jakarta Pecah ")?Adakah kaitannya dengan kelompok DI, JI, dan afiliasinya yang mencita-citakan NII (Negara Islam Internasional) atau N11, mengingat angka 111 mengingatkan kita pada pola penulisan nomer darurat Amerika N11 (211, 311, 411,... 911)? N11 adalah kode untuk NII. Apakah para pelakunya adalah orang-orang atau kelompok orang yang mencita-citakan NII dan apakah melalui ledakan itu para pelaku hendak memberitahu publik dunia bahwa pelakunya adalah kelompok orang yang mencita-citakan NII? Kelompok yang mana? Tertangkapnya trio bomber beserta bukti-bukti yang memberatkan mereka hingga berakhir ke hukuman tembak mati telah menjawab pertanyaan nomer 7 ini.
  9. Mengapa menggunakan kode darurat Amerika? Apakah untuk mengancam Amerika dan memberitahu Amerika siapa yang bertanggung jawab terhadap ledakan bom Bali tersebut? Apa kaitannya dengan bom ketiga yang meledak di hari dan jam yang di dekat konsulat Amerika di Jakarta?
  10. Mengapa menggunakan kode nomor darurat Amerika dan bukannya Indonesia? Mengapa pula menggunakan singkatan dalam bahasa Indonesia (N11 adalah kode untuk NII yang bisa berarti Negara Islam Indonesia, juga bisa berarti Negara Islam Internasional/ Nation of International Islam)? Apakah untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kamp Afghanistan dipindahkan ke Indonesia pasca bombardir kamp Al Qaida Afghanistan oleh Amerika Serikat dkk? Andai memang kamp itu hijrah ke Indonesia, mengapa hijrahnya ke Indonesia dan bukannya negara-negara lain?
  11. Ada terlalu banyak kebetulan antara kronologi awal tercetusnya tragedi kemanusiaan di Ambon, tragedi kemanusiaan WTC, tragedi bom Bali, bom buku, dan bom Serpong yang gagal meledak, misalnya saja konsistensi kemunculan angka 1 dan 9. Benarkah semua itu kebetulan? Ataukah bukan kebetulan dan malah mengindikasikan bahwa jaringan yang beroperasi itu sama?

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kronologi Bom Bali yang Mengguncang Dunia (versi Bali Post)

TRAGEDI bom di Jalan Legian, Kuta, 12 Oktober lalu masih menyisakan kepedihan mendalam para keluarga korban. Kepedihan itu tampaknya terus dirasakan, walaupun para pelakunya sudah ditahan. Dampak meledaknya bom itu lebih dirasakan pahit dan getir oleh para anak dan istri serta keluarga korban. Berikut, kronologi bom Bali yang memilukan tersebut.

12 Oktober 2002

Tepat pukul 23.05 wita, sebuah bom meledak di Paddy's dan Sari Club (SC) di Jalan Legian Kuta, Badung. Lebih dari 200 nyawa melayang dalam peristiwa itu, sedangkan 325 orang mengalami luka-luka berat dan ringan. 10 menit berselang, tepatnya pukul 23.15 sebuah bom meledak di Renon, berdekatan dengan kantor Konsulat Amerika Serikat. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

16 Oktober 2002 Lebih dari 50 saksi telah menjalani pemeriksaan di Polda Bali. Pada hari itu Tim Forensik Australia tiba di Bali untuk membantu melakukan identifikasi jenazah.

20 Oktober 2002 Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian mancanegara menyimpulkan ledakan bom di bagian bangunan Paddy's Bar adalah bom jenis TNT seberat 1 kg. Sementara di depan Sari Club, bom jenis RDX berbobot antara 50-150 kg dan bom di Renon menggunakan jenis TNT berbobot 0,5 kg.

29 Oktober 2002 Presiden Megawati memberi deadline kepada pihak kepolisian agar kasus peledakan bom Kuta sudah beres akhir November 2002.

30 Oktober 2002 Tiga sketsa wajah tersangka pengebom Kuta dipublikasikan.

4 November 2002 Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol. Drs. Edward Aritonang mengatakan, polisi sudah mengetahui nama dan identitas, beserta tempat ketiga tersangka bersembunyi. Dikatakan, tersangka berasal dari Jatim, WNI, dan tidak tinggal dalam satu tempat namun masih dalam wilayah Indonesia.

6 November 2002 Tim Investigasi Gabungan menangkap 10 orang yang diduga terkait bom Bali di sejumlah tempat di Pulau Jawa. Tim Investigasi Gabungan berhasil menangkap Amrozy di Desa Paciran, Lamongan, Jatim. Amrozy adalah pemilik terakhir mobil L-300. Pukul 20.52 Amrozy tiba di Bandara Ngurah Rai dengan menumpang pesawat Bouraq Airlines BO 789 dari Juanda, Surabaya.

7 November 2002 Satu sketsa wajah lagi dipublikasikan. Sementara Abu Bakar Ba'asyir membantah kenal dengan Amrozy. Ba'asyir menilai pengakuan Amrozy saat diperiksa di Polda Jatim merupakan rekayasa pemerintah dan Mabes Polri yang mendapat tekanan dari AS.

8 November 2002 Status Amrozy dinyatakan resmi sebagai tersangka dalam tindak pidana terorisme, kasus peledakan bom di Kuta. Amrozy dibawa ke lokasi yang diduga mereka sempat mendiskusikan rencana pengeboman Kuta. Ternyata Amrozy dan kawan-kawan sempat kos di mes RS Bhakti Rahayu, Jl. Gatot Subroto II D No.11 Denpasar.

9 November 2002 Tim forensik menemukan residu bahan-bahan yang identik dengan unsur bahan peledak di TKP. Sementara Da'i Bachtiar mengatakan kesaksian Omar Al-Farouq tentang keterlibatan Ustad Abu Bakar Ba'asyir dan Amrozy dalam kasus bom adalah valid.

10 November 2002 Amrozy membeberkan lima orang yang menjadi tim inti peledakan. Ali Imron, Ali Fauzi, Qomaruddin adalah eksekutor di Sari Club dan Paddy's. M. Gufron dan Mubarok adalah yang membantu mempersiapkan peledakan. Polisi memburu Muhammad Gufron (kakak Amrozy), Ali Imron (adik Amrozy), dan Ari Fauzi (saudara lain dari ibu kandung Amrozy).

Tim gabungan menangkap kakak tiri Amrozy, Tafsir. Tafsir dianggap tahu seluk-beluk mobil Mitsubishi L-300 dan meminjamkan rumahnya untuk dipakai Amrozy sebagai bengkel.

11 November 2002 Tim gabungan menangkap Qomaruddin, petugas kehutanan yang juga teman dekat Amrozy di Desa Tenggulun, Solokuro, Lamongan. Qomaruddin diduga ikut membantu meracik bahan peledak untuk dijadikan bom.

17 November 2002 Teka-teki siapa perakit bom Kuta akhirnya terjawab, yaitu Imam Samudra, Idris dan Dulmatin. Secara resmi diumumkan enam tersangka bom Kuta, yaitu Umar alias Wayan, Imam Samudra, Ali Imron, Dulmatin, Idris, dan Umar alias Patek.

21 November 2002 Imam Samudra, satu lagi tersangka bom Bali, ditangkap di atas bus Kurnia yang sedang berada di kapal penyeberangan dari Pelabuhan Merak, Jawa Barat ke Bakahuni.

29 November 2002 Tim gabungan menggerebek rumah Utomo Pamungkas di kawasan Simo Pomahan II Surabaya. Pamungkas adalah teman tersangka Amrozy, yang diduga ikut membantu dalam perakitan bom Bali serta menjadi sopir mobil Toyota Crown milik Amrozy. Polisi mengamankan Slamet -- mertua Pamungkas -- karena Pamungkas sendiri telah kabur.

1 Desember 2002 Tim Investigasi Bom Bali berhasil mengungkap mastermind bom Bali yang jumlahnya empat orang, satu di antaranya anggota Jemaah Islamiah (JI).

3 Desember 2002 Ali Gufron alias Muklas (kakak Amrozy) ditangkap di Klaten, Jawa Tengah.

4 Desember 2002 Sejumlah tersangka bom Bali ditangkap di Klaten, Solo, Jawa Tengah. Sejumlah wanita yang diduga istri tersangka juga ditangkap. Di antaranya Ali Imron (adik Amrozy), Rahmat, dan Hermiyanto.

11 Desember 2002 Rombongan Ali Gufron alias Muklas tiba di Bali dengan pesawat carteran Merpati jenis Foker 28 MZ 6404 dari Bandara Adi Sumarno Solo. Kedelapan anggota diangkut dengan kendaraan lapis baja menuju Mapolda Bali. Sebanyak 15 tersangka sudah di Bali.

16 Desember 2002 Polisi menangkap anak Ashuri, Atang, yang masih siswa SMU di Lamongan. Tim juga berhasil menemukan 20 dus yang berisi bahan kimia jenis potassium klorat seberat satu ton di rumah kosong milik Ashuri di Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Lamongan yang diduga milik Amrozy.

17 Desember 2002 Edward Aritonang menyatakan Amrozy bukan saja sebagai pelaku peledakan bom, melainkan juga berprofesi sebagai pedagang bahan peledak. Imam Samudra adalah salah satu orang yang pernah mengorder barang di tempatnya, selain dari Ambon.

18 Desember 2002 Tim Investigasi Gabungan Polri-AFP membuka dan membeberkan Dokumen Solo, sebuah dokumen yang dimiliki Ali Gufron. Dalam dokumen tersebut berisi tata cara membuat senjata, racun, dan merakit bom. Dokumen itu juga memuat buku-buku tentang Jemaah Islamiah, kemiliteran, laporan kemiliteran, dan topografi suatu daerah serta sejumlah rencana aksi yang akan dilakukannya.

22 Desember 2002

Rekonstruksi di rumah Amrozy di Lamongan.

23 Desember 2002 Dari hasil rekonstrusi di Solo dan Lamongan, Mabes Polri menetapkan enam tersangka baru kasus bom Bali. Mereka adalah Zulkarnain alias Aris Sunarso alias Daud yang disebut-sebut hadir dalam pertemuan di rumah Hernianto di Solo, Dr. Azahari -- warga Malaysia -- diketahui sebagai orang yang membantu mempersiapkan bom melalui dokumentasi teknik-teknik pembuatan bom, dan pengajaran merakit bom, Noor Din Mohd Top -- warga Malaysia -- yang diketahui sebagai orang yang menyiapkan dan mengirimkan dana untuk peledakan, Saad Al Achmad Roishan -- warga Sayangan Kulin Laweyan, Solo -- yang rumahnya dipakai sebagai markas kelompok Imam Samudra dan di tempat itu ditemukan Dokumen Solo, Heri Hafidin -- warga Banten -- yang berperan sebagai perekrut orang-orang untuk mempersiapkan perampokan dan peledakan bom Bali, dan Utomo Pamungkas alias Mubarok -- warga Lamongan -- adalah pemilik rekening yang menerima dana untuk dikirim ke Amrozy.

6 Januari 2003 Berkas perkara Amrozy diserahkan kepada Kejaksaan Tinggi Bali. Berkas nomor Po:BP/01/I/2003 dengan tebal 1.623 halaman, dan dijadikan tiga buku.

11 Januari 2003 Disita dua pucuk M-16, satu jenis senapan automat Kalashinkov (AK-47), satu pucuk AR 15-A12, dan sepucuk lagi belum diketahui pastinya. Senpi laras pendek ada dua jenis FN-45 serta 5.080 butir peluru yang bertuliskan PT Pindad di Hutan Dadapan, Lamongan, Jawa Timur.

14 Januari 2003

Di rumah Ustad Ponpes Al Islam Syahri, B.A. di Dusun Taman, Desa Prigen, Laren, Lamongan, Jawa Timur, polisi menemukan delapan senjata laras panjang, enam pistol, empat revolver, tiga pistol yang kondisinya tidak lengkap, enam megazine, dua kerangka pistol dan satu laras pistol, satu pistol 9 mm, 12 amunisi buatan Belgia, 2.587 amunisi berbagai kaliber, lima karung bahan peledak jenis potasium klorat dan 1/3 karung potasium klorat yang sudah dicampur.

16 Januari 2003 Ali Imron bersama 14 tersangka yang ditangkap di Samarinda tiba di Bali dengan pesawat khusus, Merpati Fokker 27.

8 Februari 2003 Dilakukan rekonstruksi bom Bali, mulai perakitan, pengemasan hingga bom dibawa ke Sari Club Legian, Kuta oleh Amrozy dan Ali Imron, di Markas Polda Bali.

12 Mei 2003 Sidang pertama terhadap tersangka Amrozy.

* Pusat Data BP

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2003/5/12/f6.htm

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book