Tampilkan postingan dengan label kasus terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasus terorisme. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Mei 2011

Mertua Noordin Dituntut 6 Tahun Penjara - KOMPAS.com

Rumah panggung tempat persembunyian Baridin di Desa Banyuasih, Kecamatan Cikelet, Garut, Jawa Barat.

Mertua Noordin Dituntut 6 Tahun Penjara - KOMPAS.com:

JAKARTA, KOMPAS.com - Terdakwa Bahrudin Latif alias Baridin alias Muhtar alias Usmani, mertua Noordin M Top, dituntut jaksa penuntut umum (JPU) dengan hukuman enam tahun penjara. JPU menilai Baridin terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme, yakni menyembunyikan gembong teroris Noordin.

"Menuntut majelis hakim menjatuhkan pidana berupa penjara selama enam tahun," ucap Firmansyah, salah satu JPU, saat membacakan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (13/9/2010).

JPU menilai seluruh unsur dalam pasal 13 huruf b UU Nomor 15/2003 tentang Terorisme terpenuhi. Tuntutan itu diberikan setelah mendengar keterangan 10 saksi, dua ahli, serta terdakwa dipersidangan.

JPU menjelaskan, Noordin pernah berkunjung kerumah terdakwa di Cilacap, Jawa Tengah, sebanyak tiga kali. Dalam pertemuan, Noordin menyampaikan keinginan untuk menikahi anak Baridin. Setelah itu, Baridin lalu menghubungi anaknya, yakni Arina Rahma yang sedang kuliah di Yogyakarta untuk pulang ke Cilacap.

Arina lalu dinikahi Noordin. Setelah menikah, Noordin tinggal di rumah terdakwa. Kepada Baridin, Noordin berpesan agar keberadaannya jangan sampai diketahui pihak kepolisian. Baridin juga meminta anaknya yang lain, Ata Sabiq Alim yang berada di Poso kembali ke Cilacap untuk menjaga Noordin.

Baridin juga pernah memberikan uang kepada Noordin sekitar Rp 100.000 hingga Rp 500.000 serta Rp 1 juta untuk kegiatan jihad. Baridin sempat melarikan diri kebeberapa tempat ketika diburu tim Densus 88 Anti Teror. Dia bersembunyi di Ngawi dan Garut hingga akhirnya ditangkap pada 24 Desember 2009 bersama anaknya, Ata.

Dalam pertimbangannya, JPU menilai hal yang memberatkan terdakwa yakni menyembunyikan gembong teroris yang melakukan pengeboman di Indonesia. Sedangkan hal yang meringankan yakni terdakwa kooperatif.

"Noordin M Top yang disembunyikan itu adalah suami anak terdakwa," jelas JPU.

Enhanced by Zemanta

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Polri: Pola Rekrutmen Teroris Berubah! - KOMPAS.com

Polri: Pola Rekrutmen Teroris Berubah! - KOMPAS.com:

JAKARTA, KOMPAS.com — Polri menilai telah terjadi perubahan pada pola rekrutmen anggota teroris saat ini. Pola itu terbaca setelah Polri melihat para tersangka teroris yang ditangkap terkait aksi-aksi teror di Cirebon, Jawa Barat; Klaten, Jawa Tengah; ataupun Serpong, Tangerang."

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, untuk menjadi seorang yang militan dan radikal tak lagi membutuhkan waktu lama dan pelatihan khusus seperti pada kelompok teroris dahulu.

"Dapat diperoleh dengan sangat mudah. Hanya dengan memilih orang-orang yang memiliki keberanian dan berlatar belakang pemikiran yang sempit," ucap Anton di Mabes Polri, Sabtu (14/5/2011).

Anton mengatakan, kelompok teroris saat ini memilih para aparat negara, salah satunya anggota Polri, sebagai sasaran teror. Contohnya, seperti aksi bom bunuh diri yang dilakukan M Syarif di Masjid di Mapolresta Cirebon, Jawa Barat.

"Sebagai bentuk pembalasan kelompok teroris terhadap pengungkapan para pelaku sebelumnya," kata Anton.

Seperti diberitakan, Tim Densus 88 Antiteror Polri menangkap 14 orang terkait aksi teror di Cirebon dan Klaten. Dua di antaranya tewas tertembak, yakni Sigit Qurdowi dan pengawalnya, Hendro.

Adpun Sigit adalah pemimpin kelompok yang menamakan diri Tauhid Wal Jihad. Dia yang melatih para tersangka untuk membuat bom. Salah satu yang dilatihnya adalah M Syarif.

Terkait kelompok yang dipimpin oleh Sigit ini, Polri belum merinci umur, pendidikan, pekerjaan, serta latar belakang lainnya dari setiap tersangka yang ditangkap. Selain keterlibatan masing-masing, Polri baru menyebut nama-nama mereka, yakni Edi Tri Wiyanto, Hari Budiarto, Ari Budi, Arifin Nurharyono, Achmad Basuki, Arief Budiman, Andri Siswanto, Musolla, Ishak Andriana, Ibrohim, Ferdiansyah, Zulkifli, Sigit, dan Hendro.

Enhanced by Zemanta

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Senin, 02 Mei 2011

Obama: Ini Bukan Perang Melawan Islam, Osama Juga Bukan Pemimpin Islam

Gagah Wijoseno - detikNews

Jakarta - Presiden AS Barack Obama mengumumkan tewasnya pimpinan Al Qaeda Osama Bin Laden. Perburuan atas Osama selama 10 tahun berakhir sukses. Namun Obama menegaskan kembali perang atas Al Qaeda dan Osama bukan perang melawan Islam.

"Perang itu bukan perang melawan Islam, Osama juga bukan pemimpin Islam," kata Obama dalam pidatonya di Gedung Putih, seperti dikutip CNN, Senin (2/5/2011). Statemen Obama ini seperti pernah disampaikan oleh pemerintahan Bush sebelumnya.

Perang yang dilakukan terhadap Osama dan kelompoknya adalah tindakan yang harus dilakukan. "Osama melakukan tindakan pembunuhan," ujar Obama.

Dalam melakukan penyergapan di sebuah rumah di Pakistan, tim kecil dari tentara AS melakukan penyerbuan dengan bantuan pihak Pakistan. Dalam kontak tembak yang menewaskan Osama itu tidak ada pasukan AS yang terluka.

"Keadilan telah ditegakkan," kata Obama.

Sumber: http://us.detiknews.com/read/2011/05/02/111317/1630145/1148/obama-ini-bukan-perang-melawan-islam-osama-juga-bukan-pemimpin-islam?nd992203topnews

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Ayman al Zawahiri Diduga Gantikan Osama Pimpin Al Qaidah

Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat memastikan Osama Bin Laden telah tewas dalam operasi intelijen AS di Pakistan. Pengganti Osama di struktur tertinggi kepemimpinan Al Qaeda (Al Qaidah) pasti segera ditunjuk. Salah satu yang berpotensi menjadi pengganti adalah Ayman al Zawahiri.

"Paling cepat Ayman al Zawahiri karena itu wakilnya," ujar pengamat terorisme, Noorhuda Ismail, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (2/5/2011).

Ayman lahir di Mesir pada 19 Juni 1951 ini pernah didakwa atas keterlibatannya dalam pengeboman Kedubes AS di Dar es Salaam, Tanzania, dan Nairobi, Kenya pada Agustus 1998. Pada akhir 1996 dia dikabarkan ditahan di Rusia selama enam bulan oleh Dinas Keamanan Federal Rusia atas dugaan upaya perekrutan jihadis di Chechnya.

Menurut Wikipedia, Ayman adalah 'emir' kedua dan terakhir Jihad Islam Mesir, menggantikan Abbud al-Zummar yang dipenjara seumur hidup. Zawahiri konon adalah doktor bedah berkualitas yang memperlihatkan pemahaman radikal dan mendalam atas ajaran dan sejarah Islam. Pria yang dapat berbicara bahasa Inggris, Arab dan Perancis ini berada di bawah embargo dunia atas Resolusi 1267 Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa lantaran berafiliasi dengan Al Qaeda.

Pria ini sering kali digambarkan sebagai orang kepercayaan Osama, meskipun penulis buku biografi Osama menyebut dirinya sebagai 'otak sebenarnya' Al Qaeda. Pada 1998 dia secara resmi menggabungkan Jihad Islam Mesir ke Al Qaeda. Berdasar laporan mantan anggota Al Qaeda, Ayman telah bekerja di organisasi Al Qaeda sejak awal dan menjadi anggota penting Dewan Syuro.

Pada 23 Februari 1998 dia bersama Osama mengeluarkan fatwa berjudul "Front Islam Dunia Menentang Yahudi dan Tentara Salib". Diduga, dialah sosok intelektual di balik fatwa tersebut, dan bukannya Osama.

Menurut Noorhuda, Osama adalah pemimpin yang karismatik. Gerakannya didukung oleh para pengikutnya yang setia. Selain Ayman, ada lagi sosok yang penting Al Qaeda yakni Anwar Al-Awlaki. Al Awlaki ini konon mempromosikan pesan-pesan radikal melalui internet.

"Penggantinya akan ada. Kalau dikatakan dia mati lalu tidak ada penggantinya, terlalu segera," ucap Noorhuda.

Osama tewas di pinggiran Islamabad, Pakistan. Pria kelahiran Arab Saudi itu tewas dalam operasi intelijen AS yang menargetkan sebuah gedung di pinggiran Islamabad dengan luka tembak di kepala.

Osama telah diburu Angkatan Bersenjata AS sejak serangkaian serangan terhadap target-target Barat termasuk serangan 11 September 2001 di New York dan Washington. (vit/nrl)

Sumber: http://us.detiknews.com/read/2011/05/02/125453/1630290/10/noorhuda-duga-ayman-al-zawahiri-akan-gantikan-osama-pimpin-al-qaeda

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Rabu, 27 April 2011

Abdullah Sonata Divonis 10 Tahun Penjara

Catur Nugroho Saputra

Rabu, 27 April 2011 14:37 wib

JAKARTA – Terdakwa kasus terorisme, Abdullah Sonata, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara oleh hakim dalam sidang vonis di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Sonata dinilai hakim terlibat dalam aksi terorisme di Aceh. “Menjatuhan terdakwa dengan hukuman 10 tahun penjara dikurangi masa tahanan,” kata Hakim Ketua Suhartoyo saat membacakan vonis, Rabu (27/4/2011). Menurut Suhartoyo, Sonata terbukti melakukan tindak pidana percobaan aksi terorisme dengan memberikan bantuan senjata. Selain itu, Sonata juga dituding telah menyembunyikan informasi. Sebagaimana diketahui, Sonata ditangkap petugas di Desa Jalijunto, Aceh Besar, NAD. Dia ditangkap karena buntut bentrokan antara kelompok teroris dengan aparat kepolisian yang menewaskan tiga personel brimob dan melukai 11 orang. Menyikapi putusan ini, kuasa hukum Sonata dari Tim pembela Muslim, Achmad Michdan, berencana akan melakukan banding. Dia menilai, putusan tersebut terlalu berat karena Sonata tidak terlibat dalam bentrokan tersebut. “Beliau memang punya senjata tapi bukan untuk aksi teror. Lagipula saat bentrokan di Aceh itu, beliau sudah keluar dari jaringan tersebut dan tidak aktif lagi,” tukas Michdan. (teb)

Sumber: http://international.okezone.com/read/2011/04/27/337/450538/abdullah-sonata-divonis-10-tahun-penjara

Catatan SCN:

  1. Tapi kan karena senjata itu sehingga para teroris bisa melakukan perlawanan bersenjata yang menyebabkan hilangnya nyawa.
  2. Penyebutan para pengacara kelompok teroris dengan TPM (Tim Pembela Muslim) ini justru menyesatkan, karena justru memberi kesan keliru seolah-olah muslim itu teroris. Untuk menghindari kesan keliru itu, bukankah sebaiknya TPM berganti nama jadi TPT (Tim Pembela Teroris) saja?

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Al Chaidar : Ada Persaingan Antar Kelompok Teroris

Awaludin

Sabtu, 23 April 2011 06:16 wib

JAKARTA- Teror bom di Indonesia kian marak. Dipastikan para pelaku bom adalah pemain-pemain baru yang belajar dari buku dan internet. Sejumlah kelompok berupaya untuk menampilkan diri dan menunjukkan eksistensinya kepada polisi dan masyarakat.

Diakui pengamat teroris Al Chaidar, hal itu membuktikan adanya persaingan di antara para kelompok jamaah Jihad yang ada Indonesia. Masing-masing kelompok memiliki aksi sendiri.

“Ini memang ada persaingan antar kelompok jamaah teroris,” Ujar Al-Chaidar, saat dihubungi okezone

Al-Chaidar melanjutkan, memang kelompok Jamaah teroris di Indonesia terbagi menjadi tujuh kelompok. Masing-masing memperebutkan Jamaah, dan barang siapa yang unggul (menang) dalam aksi pengeboman, itulah yang menjadi imamnya. “Bagi yang menang itu akan menjadi imamnya dan akan merekrut para Jamaaah dengan sendirinya dan secara otomatis akan mendapatkan dana,” kata Al-Chaidar

Al-Chaidar menambahkan, memang belum banyak yang mengetahui adanya persaingan antar kelompok teroris dan kelompok yang benar-benar sudah diketahui adalah kelompok Darul Islam, Negara Islam Indonesia dan Jamaah Islamiyah. Dan yang saat ini berkuasa adalah Jamaah Islamiyah.(ugo)

Sumber: http://international.okezone.com/read/2011/04/23/337/449080/pengamat-ada-persaingan-antar-kelompok-teroris

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Azyumardi Azra: Rekrutmen Sel Radikal di Kampus

Azyumardi Azra Guru Besar Sejarah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Terorisme dan radikalisme masih akan berada di sekitar kita hingga hari-hari nanti, entah sampai kapan.

Radikalisme dan terorisme cenderung kian meruyak: menampilkan jaringan dan sel-sel baru lebih kecil yang tampak bergerak terpisah seolah-olah tanpa komando pemimpin puncak jaringan atau inti sel lebih besar yang sudah terekam dalam berkas Polri. Ini terlihat dari indikasi Muhammad Syarif, pelaku bom bunuh diri saat shalat Jumat di Masjid Adz-Dzikro, Markas Polresta Cirebon, 14 April 2011.

Kecenderungan ini sangat mencemaskan karena sel-sel yang relatif kecil, terpisah, dan independen bisa jadi lebih cepat menyebar dan sulit terdeteksi Densus 88. Sangat boleh jadi gejala baru ini merupakan konsekuensi tak diharapkan ketika jaringan kelompok teror lama telah banyak dilumpuhkan aparat kepolisian.

Gejala baru lain yang mengejutkan adalah keterlibatan sejumlah sarjana, khususnya PF dari Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2001). Menurut Polri, PF merupakan otak rencana aksi pengeboman di Serpong, 21 April 2011, yang digagalkan polisi.

Dalam waktu berbarengan terjadi kehebohan tentang menghilangnya sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Sebagian besar sudah kembali. Mereka telah terekrut dan berbaiat kepada jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Yang terjadi di UMM ini hanya puncak gunung es lebih besar. Kasus seperti itu dapat ditemukan dalam skala berbeda di banyak perguruan tinggi.

Beragam penelitian dan pengakuan mereka yang keluar dari sel-sel radikal dan ekstrem mengisyaratkan, mahasiswa perguruan tinggi umum lebih rentan terhadap rekrutmen daripada mahasiswa perguruan tinggi agama Islam. Gejala ini berkaitan dengan kenyataan bahwa cara pandang mahasiswa perguruan tinggi umum, khususnya bidang sains dan teknologi, cenderung hitam-putih. Mahasiswa perguruan tinggi agama Islam yang mendapat keragaman perspektif tentang Islam cenderung lebih terbuka dan bernuansa.

Sasaran rekrutmen

Jelas tak pas mengaitkan teror alumni yang 10 tahun lebih meninggalkan kampus dengan almamaternya atau mengaitkan mahasiswa yang terkesan begitu mudah terekrut ke jaringan NII dengan perguruan tingginya. Dengan kebebasan akademis dan kebebasan sosial di kampus, sangat sulit bagi pemimpin perguruan tinggi mengontrol mahasiswa mereka, apalagi alumni yang telah menyebar.

Maka, kampus sebagai ranah publik dengan mahasiswa dan alumni terkait kealmamateran bisa tak imun terhadap berbagai pengaruh serta infiltrasi paham, wacana, dan gerakan dari luar. Dari masa ke masa di lingkungan kampus hampir selalu ada kelompok radikal dan ekstrem, baik kanan maupun kiri.

Sejak akhir 1970-an sel-sel ekstrem kanan sangat giat merekrut mahasiswa: membentuk kelompok dan sel NII—lazim dikenal sebagai usrah (keluarga)—yang menolak keabsahan pemerintahan Soeharto yang mereka sebut thaghut. Penolakan ini ditandai dengan bakar KTP dan menikah lewat wali amir mereka tanpa melalui kantor urusan agama.

Zaman kebebasan dan demokrasi pasca-Soeharto membuka ruang amat lapang bagi beragam kelompok berideologi ekstrem kiri dan kanan kembali ke kampus. Kelompok kiri tak mampu bertahan lama sehingga memberi ruang sangat besar bagi kelompok dan ekstrem radikal Islam sejak NII sampai sel-sel radikal lain. Kelompok dan sel dengan pemahaman keagamaan yang beda jauh dengan arus utama Islam segera terlibat pelanggaran hukum: penculikan, pencurian, perampokan, terorisme, dan upaya makar terhadap NKRI.

Menghadapi radikalisasi

Ideologi radikal dan teroristik tak bisa dihadapi hanya dengan wacana, bahkan tindakan represif aparat hukum sekalipun. Ia harus dihadapi dengan kontraideologi dan perspektif keagamaan keindonesiaan yang utuh. Tak perlu redesain kurikulum menyeluruh karena hal itu mengganggu stabilitas akademis-keilmuan. Yang mendesak dilakukan adalah revitalisasi mata kuliah yang bersifat ”ideologis”: Pancasila, Pendidikan Kewargaan, dan Agama.

Pancasila yang marjinal sebagai dasar negara sejak masa reformasi juga terjadi di perguruan tinggi. Mata kuliah Pancasila di beberapa perguruan tinggi diganti dengan Filsafat Pancasila atau dihapus sama sekali. Filsafat Pancasila lebih sebagai wacana akademis daripada ideologis. Padahal, hanya dengan memahami Pancasila tumbuh semangat kebangsaan-keindonesiaan dan kewargaan bertanggung jawab.

Kewarganegaraan atau Pendidikan Kewargaan merupakan pengganti Kewiraan yang dihapus setelah Soeharto yang militeristik jatuh. Silabus dalam Pendidikan Kewargaan mengandung penguatan paham kebangsaan-keindonesiaan dalam berbagai aspeknya.

Agama semestinya tak hanya mengulangi ajaran teologis-normatif agama, tetapi juga penguatan perspektif keagamaan-kebangsaan dan diorientasikan untuk penguatan sikap intelektual tentang keragaman agama sekaligus toleransi intraagama dan antaragama serta antara umat beragama dan negara.

Pembelajaran ketiga mata kuliah itu jelas tak bisa dilakukan secara indoktrinatif ala penataran P4. Perlu terobosan baru yang dialogis, partisipatif, analitis, dan kritis yang memungkinkan internalisasi ke dalam diri para mahasiswa.

Yang tak kurang penting: revitalisasi lembaga, badan, dan organisasi kemahasiswaan intrakampus dan ekstrakampus. Dalam beberapa tahun ini organisasi intrakampus, seperti BEM, lebih terlibat dalam aktivisme politik: demonstrasi dan protes lain terkait isu politik dan pemerintahan. Dua tahun terakhir aktivisme mahasiswa sangat menurun. Banyak kalangan menduga disorientasi kemahasiswaan disebabkan faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, bahkan keagamaan.

Hal yang sama terjadi pada organisasi mahasiswa ekstrakampus. HMI, PMII, IMM, KAMMI, GMNI, PMKRI, dan GMKI tak lagi aktif dalam kaderisasi anggotanya. Ada kecenderungan kuat, keanggotaan sebagian besar organisasi merosot secara signifikan. Padahal, beberapa penelitian PPIM dan CSRC di UIN Jakarta menunjukkan, keanggotaan dan aktivisme organisasi merupakan faktor penting untuk mencegah terjerumusnya seseorang ke dalam gerakan radikal dan ekstrem.

Sebaliknya, terdapat gejala kuat para mahasiswa nonaktivis dan kutu buku sangat mudah terkesima sehingga segera dapat mengalami cuci otak dan indoktrinasi pemikiran gerakan radikal dan ekstrem. Mereka cenderung naif dan polos karena tak terbiasa berpikir analitis dan kritis, seperti lazim dalam dunia kaum mahasiswa aktivis.

Rekrutmen ideologis kelompok radikal, ekstrem, dan teroristik hampir bisa dipastikan terus berlanjut. Sudah saatnya langkah itu jadi prioritas pihak terkait.

2011/04/27

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/.../Rekrutmen.Sel.Radikal.di.Kampus

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Bubarkan Kelompok Kekerasan Bermerek Agama

KEKERASAN BERAGAMA

Judul asli: PBNU: Bubarkan Kelompok Radikal

Jakarta, Kompas - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama meminta pemerintah harus bersikap lebih tegas terhadap kelompok-kelompok Islam yang mengajarkan radikalisme dan sering melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Jika perlu, pemerintah melarang keberadaan kelompok-kelompok yang anti terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj di Jakarta, Selasa (26/4), mengatakan, selama ini pemerintah cenderung tak tegas dalam memperlakukan kelompok-kelompok Islam yang mempromosikan kekerasan dan ajaran-ajaran intoleransi dalam kehidupan beragama. Bahkan ada kecenderungan pemerintah melalui Kementerian Agama malah melindungi kelompok tersebut.

Menanggapi hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian terhadap siswa SMP-SMA dan guru agama di Jakarta yang menyatakan, mayoritas pelajar bersedia terlibat aksi kekerasan terkait agama dan moral, Said mengatakan, seharusnya survei itu menjadi peringatan keras bagi pemerintah. ”Maraknya radikalisme dalam Islam itu karena kegagalan Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia. Kami sering tidak sependapat dengan Menteri Agama, seperti dalam penanganan soal Ahmadiyah. Agama itu mestinya jadi solusi konflik, bukan malah jadi sumber konflik,” tutur Said.

Menurut Said, ketegasan pemerintah juga dituntut dalam menghadapi kelompok radikal yang sering melakukan kekerasan atas nama agama. Tindakan ancaman melakukan kekerasan yang sering diungkapkan lewat berbagai unjuk rasa seharusnya sudah bisa menjadi peringatan dini bagi aparat keamanan untuk bertindak. ”Polisi itu sebenarnya tahu demonstran yang anarkis dan mana yang tidak,” katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imdadun Rahmat mengatakan, dukungan NU agar pemerintah membuat perangkat perundang-undangan yang bisa mencegah terorisme dan menangkal radikalisme agama pada dasarnya untuk kepentingan keutuhan bangsa. ”Kami mau memberikan kewenangan luas kepada negara untuk kepentingan menyelamatkan bangsa,” ujar Imdadun.

Menurut Said, pada dasarnya bangsa Indonesia memiliki budaya yang jauh dari radikalisme. Namun, pengaruh ideologi radikal dari luar, terutama dari Timur Tengah, membuat sebagian kelompok Islam di Indonesia justru berseberangan dengan cita-cita pendirian Republik Indonesia sebagai negara bangsa. (BIL)

2011/04/27

Sumber: http://cetak.kompas.com/read/.../PBNU.Bubarkan.Kelompok.Radikal

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Pria Berjenggot di Bilik Sembilan

SEPASANG suami-istri datang ke warung Internet di lantai dua rumah toko Multiplus di Pamulang, Banten, menjelang tengah hari, Selasa pekan lalu. Sang suami yang menyewa komputer. Istrinya keluar lagi, menuju Salon Rinova di kompleks ruko yang sama.

Seorang berperawakan tinggi besar dan berjenggot datang beberapa menit kemudian. Ia segera ke lantai dua toko itu, mengambil tempat bilik komputer nomor sembilan. Sidik, petugas Multiplus yang berjaga di lantai satu, mengenalinya. ”Dia sudah tiga kali ke sini,” kata pemuda 20 tahun ini.

Tak berapa lama, datang lagi seorang pria. Ia pun menuju warnet, tapi segera turun dan keluar. Tak lama ia datang lagi bersama tujuh orang bersenjata lengkap. Mereka menyerbu. Sidik mendengar suara tembakan beberapa kali. Ia diam ketakutan. Belakangan ia mengetahui, pria berjenggot itu tewas ditembak anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Kepolisian.

Dialah pria yang tinggal di Jalan Asem, sekitar 300 meter dari Multiplus. Kepada para tetangga, ia mengaku bernama Yahya Ibrahim, bekerja di ruang pamer mobil dan sepeda motor. Tapi sehari kemudian, Kepala Kepolisian RI Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengumumkan Yahya adalah Dulmatin, tersangka teroris yang diburu sejak 2002. ”Tingkat kesalahannya 1 dibanding 100 ribu triliun,” katanya.

DUA pemuda duduk di halte bus Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Yang pertama Fathurrahman al-Ghozi, veteran Afganistan asal Madiun, Jawa Timur. Yang lain Abdul Jabar, pemuda 33 tahun. Suatu siang pada Juli 2000, mereka mengamati target serangan: rumah Duta Besar Filipina.

Jabar bertanya tentang alasan pemilihan sasaran. Yang ditanya balik bertanya, ”Kau tahu kamp Abubakar?” Jabar mengaku pernah melihat berita televisi tentang serangan tentara Filipina ke kamp pelatihan militer kelompok Jamaah Islamiyah di Mindanao, wilayah selatan negara itu. Ghozi menetap di kamp Abubakar sejak 1996, dan baru tiba di Jakarta beberapa hari sebelum pengamatan. ”Kamp itu sudah lenyap,” Ghozi menjelaskan.

”Kita akan membalas dendam untuk itu.” Mereka mengamati sasaran hingga sore, dan menemukan fakta penting: setiap tengah hari Duta Besar pulang untuk makan siang. Pada saat yang sama, Amrozi, 37 tahun, yang tinggal di Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur, sibuk mencari mobil pembawa bom. Dalam waktu singkat, ia mendapat Suzuki van merah.

Ia mengikis nomor kerangka mobil itu. Di tengah kesibukan, ia menerima telepon dari Dulmatin, yang menyuruhnya membeli bahan kimia untuk membuat bom: 200 kilogram potasium klorat, 25 kilo sulfur, dan 25 kilo bubuk aluminium.

Mobil dan bahan pesanan itu segera dibawa ke rumah Dulmatin di Pekalongan, Jawa Tengah. Bom segera dirakit. Tuan rumah mencampur bahan kimia dengan tangan: sembilan kilo potasium klorat untuk setiap tiga kilo sulfur dan tiga kilo bubuk aluminium. Tiap porsi dimasukkan ke wadah plastik, dilubangi atasnya buat memasukkan detonator. Dulmatin lalu memasukkan tas ke mobil, berisi detonator jarak jauh yang dimodifikasi. Walkie-talkie bekas dipakai untuk memicu ledakan dari jarak maksimal 500 meter.

Dulmatin, Amrozi, dan enam orang lainnya bergegas menuju Jakarta. Di Ibu Kota mereka bertemu dengan Abdul Jabar dan Usman, anggota komplotan lainnya. Waktu serangan telah diputuskan, 1 Agustus 2000. Sisa hari sebelum tanggal itu mereka manfaatkan buat memasang sumbat dan kawat peledak.

Pada hari serangan, Usman memarkir mobil bom di dekat gerbang rumah Duta Besar Filipina. Pada pukul 12.30, Mercedes Duta Besar Leonides Caday tiba. Ghozi berjalan di trotoar mendekati sasaran agar mencapai jarak 500 meter. Klik, ia menekan handy talkie. Dalam sedetik, bunyi gelegar membahana. Caday yang duduk di kursi kiri belakang terluka: empat tulangnya patah, darah mengucur dari tubuhnya yang dihantam pecahan kaca. Tapi ia selamat. Bom membunuh seorang petugas satpam dan seorang perempuan pejalan kaki. Belasan orang lainnya luka-luka.

Inilah ”karya” pertama Dulmatin dalam curriculum vitae terorismenya. Tetap menjadi perakit bom, ia bergabung kembali dengan Usman dan Abdul Jabar pada akhir tahun yang sama. Dalam proyek pengeboman malam Natal, mereka memilih tiga gereja Katolik dan tiga gereja Protestan di seluruh penjuru Jakar ta. Serangan kali ini gagal karena Ab dullah, si pembawa bom, keta kutan sehingga bom-bom ia letakkan dan meledak di luar kompleks gereja sasaran. Se telah serangan, mereka lari ke Jawa Tengah. Esok paginya, mereka menonton televisi di rumah Dulmatin di Pekalongan yang mengabarkan peledakan.

Sumber: http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/dulmatin/

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Terorisme Anak Muda

Sunan Gunung Djati - Kalau disebut-sebut jaringan teroris semacam Noordin M Top lebih senang merekrut anak muda, saya (agak) setuju. Kenapa?

Karena sebagai anak muda, saya pernah mengalami setidaknya dua tindak terorisme atas nama agama. Hal tersebut saya alami ketika pertama kali mengenal Kota Bandung.

Saya, yang datang dari kota biasa –untuk tidak bilang dari lembur—menyesuaikan diri di kota baru ini dengan bergaul dengan teman sebaya. Karena, saya tak punya keluarga yang dekat atau teman lama. Mungkin hal tersebut yang membuat seorang senior mendekati saya seolah-olah mau mengenalkan dunia baru bagi saya. Itulah kiranya tindakan meresahkan atas nama ideologi yang saya alami pertama kali.

Lelaki itu cukup perhatian. Ia memberi petunjuk, seperti apa dunia kuliah, seperti apa hidup di Bandung, seperti apa bergaul dengan orang-orang di Bandung, dan banyak lagi. Akhirnya, ia pun nge-kos di dekat kos saya. Lama-lama ia banyak diskusi dengan saya, termasuk diskusi mengenai Islam.

Hal sama juga dilakukan seorang teman yang saya kenal pertama saat ujian masuk kampus ini. Setelah lulus, ia menawari saya mengikuti pengajian di daerah Cicaheum. Anehnya, ia wanti-wanti agar saya tidak mencurigai ajakannya. Katanya, pengajian itu cuma pengajian Al-Quran biasa. Tak perlu pakaian khas orang mengaji, tak perlu berpenampilan gaya ikhwan. Loh, karena ia bilang begitu malah saya jadi curiga!

Berbulan-bulan kedua teman itu banyak mengajak diskusi. Apalagi senior saya yang lebih intensif berkunjung ke kos, banyak bicara ini-itu. Hingga suatu saat, ia banyak berdiskusi masalah Islam. Karena latar belakang keilmuan saya mayoritas adalah sekolah umum, yang porsi keagamaan sangat minim dan pendidikan agama sepenuhnya jadi tanggung jawab ortu, saya tak banyak tahu soal-soal yang menjadi bahan diskusinya.

Singkatnya, kedua doktrin yang mereka tawarkan pada saya adalah konsep suatu masyarakat yang mereka sebut masyarakat Islam—iseng-iseng saya menerjemahkan ke dalam Bahasa Arab Jamaah Islamiyah—yaitu masyarakat yang berpegang pada hukum-hukum Allah. Denga menyitir surat Al-Maidah ayat [44], mereka menyebut bahwa saat ini, kita sedang dalam kuasa yang kafir yang tidak menjalankan hukum-hukum Allah. Maka, saat itu saya masih kafir, lantas kedua ortu saya masih kafir, teman sekitar yang tidak masuk golongan ini juga kafir yang halal darah dan harta bendanya.

Walau sebagai remaja yang awam dalam hal tersebut, saya dapat meyakini tawaran mereka bukanlah kebenaran bagi saya. Saya menggugat konsep mereka dengan argumen-argumen semampu otak saya berpikir. Hingga satu kawan mundur teratur.

Namun, karena keingintahuan saya akan kemana akhir dari tawaran ini, saya sengaja mengikuti rangkaian cerita dakwah ini. Senior saya mengajak saya untuk memasuki dunia baru itu dengan proses baiat. Sebuah perjanjian mengikat yang jadi syarat wajib mengenal masyarakt Islam tersebut. Di malam hari, saya ikuti kemana kita akan melaksanakan ruwatan baiat itu.

Situasi makin kacau saat saya harus intensif mengikuti pengajian yang dilaksanakan di Bandung wilayah utara. Pengajian itu wajib hukumnya diikuti walau mengabaikan perkuliahan, waktu yang mepet ke shalat maghrib, dan meski kita lagi bokek. Parahnya, lambat laun kantong makin mengering akibat desakan untuk berinfak. Konon, makin lama infak akan semakin diwajibkan dan besarannya ditentukan. Saya makin muak dengan apa yang mereka yakini itu benar. Setelah tahu sedikit apa yang ada di dalamnya, saya rasa harus mulai lari dan menjauh dari komunitas ini, yang belakangan saya tahu komplotan ini ingin mendirikan negara Islam di Indonesia. Lari, namun sulit menghindar dari teror-teror yang mengusik saya di hari-hari pertama. Fisik, psikis, lewat handphone, email, bahkan mengejar langsung hingga ke kos!

Tindakan meresahkan atas nama ideologi yang kedua datang saat saya sudah cukup mikir. Saat saya masih kuliah di semester lima. Kondisi psikologis yang cukup rumit dijelaskan menyebabkan saya mengenal seorang teman yang nampak seperti juru selamat. Kata-katanya seperti motivasi yang berupa obat hingga saya dapat berdiri, bangkit dari keterpurukan.

Di tengah gundah, konflik batin selama ini atas beragam pencarian, seorang teman banyak bicara mengenai hakikat Tuhan dan kebahagian hidup. Semula saya pikir ia pandai berfilsafat hingga saya tertarik untuk belajar padanya. Suatu saat, ia menawari saya mengikuti suatu pengajian yang saya lupa namanya, di Bandung wilayah kota. Katanya, di pengajian itu kita akan mendapat pencerahan spiritual dan mengetahui hakikat kebahagiaan.

Saya yang merasa sangat bodoh saat itu begitu takluk di depannya. Rasanya, saya tak ingat bahwa apa yang ia katakan bukan selalu berarti benar. Jujur, saat itu saya begitu tunduk dalam kata-katanya. Saat saya menulis ini, saya bisa menggugat. Tapi, saat itu saya begitu terbuai dengan ucapan-ucapannya yang banyak menyitir ayat Al-Quran. Bahkan ia menafikan hadits Rasul.

Suatu saat, saya diminta untuk meneguhkan diri menjadi pengikut perguruannya. Perguruannya ada di wilayah Jatinangor. Doktrin yang paling melekat pada diri saya saat itu, bahwa penyebab semua masalah yang saya hadapi adalah karena keraguan saya pada Allah. Keraguan itu berupa penghambaan saya pada makhluk, seperti orangtua, teman baik, bahkan mungkin kekasih. Dan, untuk menebus kesalahan itu, maka saya perlu banyak uang infak sesuai dengan dosa besar yang saya lakukan itu.

Saat itu pula, saya berusaha mendapatkan uang agar bisa mencerahkan diri dan membebaskan jiwa dari mahadosa yang saya perbuat. Akhirnya, terjadi proses pembaiatan dan ada perjanjian hitam di atas putih. Saya akan melaksanakan seluruh persyaratan sesuai tertulis di atas surat yang bermaterai itu. Gilanya, saya rasa saya melakukan itu semua di luar kendali, di luar kesadaran saya! Hingga, saya kembali dan merasa betul bahwa hal tersebut adalah kebohongan besar.

Demikian, dua kisah kebodohan seorang anak muda yang diperalat oleh teror-teror atas nama agama. Saya malah merasa, kedua “aliran” tersebut lebih layak disebut penistaan terhadap Islam dan penyimpangan pada ajaran-ajarannya. Namun, saya tak mau terjebak pada bahaya laten khawarij, mudah mengkafirkan dan menyalahkan keyakinan sesama manusia. Hanya saja, saya merasa kedua paham itu meresahkan dan merugikan setidaknya bagi saya pribadi. Bagi Anda, silakan menjadi refleksi bersama..[ REZA SUKMA NUGRAHA , Tim Susur Facebook www.SunanGunungDjati.com ]

Sumber: http://umum.kompasiana.com/2009/09/02/terorisme-anak-muda/

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Senin, 25 April 2011

Teks Baiat (Sumpah Setia) Anggota NII

Demi Allah, 1) Saya menyatakan baiat ini kepada Allah di hadapan dan dengan persaksian komandan tentara pemimpin negara yang bertanggung jawab. 2) Saya menyatakan baiat ini sungguh – sungguh karena ikhlas dan suci hati lilahita `ala semata – mata dan tidak sekali – kali karena sesuatu di luar dan keluar daripada kepentingan Agama Allah,Agama Islam,dan Negara Islam Indonesia. 3) Saya sanggup berkorban dengan jiwa, raga, dan nyawa saya serta apapun yang ada pada saya berdasarkan sebesar – besar taqwa dan sesempurna – sesempurna tawakal Allalloh bagi : a). Mentegakkan kalimatilah li`ilahi kalimatilah b). Mempertahankan berdirinya Negara Islam Indonesia hingga hukum Syariat Islam seluruhnya berlaku dengan seluas-luasnya dalam kalangan Umat Islam Bangsa Indonesia di Indonesia. 4) Saya akan taat sepenuhnya kepada perintah Allah, kepada perintah Rosulullah, kepada perintah ulil amri saya dan menjauhi segala larangannya dengan tulus dan setia hati. 5) Saya tidak akan berkhianat kepada Allah, kepada Rosulullah dan kepada Komandan Tentara serta Pemimpin Negara dan tidak akan pula akan berbuat noda atas Umat Islam Bangsa Indonesia. 6) Saya sanggup membela Komandan-Komandan Tentara Islam Indonesia Dan Pemimpin-Pemimpin Negara Islam Indonesia daripada bahaya, bencana dan khianat darimana dan apapun juga. 7) Saya sanggup menerima hukuman dari ulil amri saya sepanjang keadilan hukum Islam bila saya ingkar daripada baiat yang saya nyatakan ini. 8) Semoga Allah berkenan membenarkan pernyataan baiat saya ini serta berkenan pula kiranya ia melimpahkan tolong dan kurnianya atas saya sehingga saya dipandaikannya melakukan tugas suci ialah hak dan kewajiban tiap-tiap mujahid menggalang Negara Karunia Allah, Negara Islam Indonesia.Amien.... 9) Allahu akbar,Allahu Akbar,Allahu Akbar."

Sumber: http://www.bi2t.com/2011/04/isi-naskah-baiat-sumpah-setia-anggota.html

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Minggu, 24 April 2011

Organisasi Kematian Nurdin M Top

Selasa, 28 Juli 2009 17:59:12 WIB

Jakarta, (tvOne)

Menyuruh orang bunuh diri, tentu bukan perkara gampang. Tetapi, Noordin M. Top ‎— ‎teroris yang paling dicari aparat di republik ini ‎— ‎ bisa melakukannya. Entah kharisma apa yang ada pada diri warga Malaysia ini, sehingga selalu saja ada orang yang direkrutnya hanya untuk mati.

Dia adalah pemimpin Pondok Pesantren Lukmanul Haqiem, Johor, Malaysia, menggantikan Mukhlas, warga Indonesia yang juga pernah menjadi pemimpin di pondok yang sama. Dicurigai menjadi sarang teroris, pemerintah Malaysia membredel pesantren itu awal 2000-an.

Alumni Lukmanul Hawiem kebanyakan mengungsi ke Indonesia, seperti Noordin M. Top, Azhari Husin, Mukhlas (Ali Gufron) dan sejumlah teman-temannya. Berada di pulau Sumatera dan Jawa, kemudian menebar teror ke seantero republik. Sejak 2000 itu pula, teroris di Indonesia paling populer dengan aksi bom bunuh dirinya yang sebelumnya belum pernah terdengar.

Kelompok Noordin ini memang memiliki tim sendiri untuk merekrut orang yang rela mati. Salah seorang tokoh perekrutnya adalah Iwan Dharmawan alias Rois. Komandan lapangan pengeboman kantor Kedutaan Besar Ausralia, Kuningan, Jakarta Selatan, ini mendirikan kamp pelatihan di Gunung Peti, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

Menurut temuan polisi, tempat ini dirancang untuk memilih pelaku bom bunuh diri. Rois ditangkap pada November 2004 di Bogor, dia dijatuhi hukuman mati pada Juli 2005.

Tim perekrut lainnya adalah Jabir yang bernama asli Gempur Budi Angkoro. Jebolan Pondok Ngruki ini sudah terlibat sejak awal aksi terorisme bersama Noordin. Anggota Jamaah Islamiah dari Madiun inilah yang merekrut Salik Firduas, pelaku bom bunuh diri pada Bom Bali II. Jabir tewas dalam dalam sebuah penggerebekan 29 April 2006 di Wonosobo, Jawa Tengah.

Salain Jabir ada lagi Harun alias Syaiful alias Fathurrobi. Dikenal sebagai instruktur group Cimanggis, Maret 2004. Dia bersama Rois merekrut para pemuda yang kemudian ambil bagian dalam pemboman September 2004. Mujahid Ambon dan Poso ini kini sedang menjalani hukuman 9 tahun penjara.

Setelah perektrutan, pemuda-pemuda yang rela bunuh diri itu akan digembleng Baharudin Soleh alias Abdul Hadi, seorang teman dekat Noordin. Biasanya mereka akan diberi tambahan intruksi yang dikaitkan dengan agama. Pengeboman Kedutaan Besar Australia dan Bom Bali II adalah hasil gemblengannya. Soleh juga tewas dalam penggerebekan 29 April 2006 di Wonosobo, Jawa Tengah.

Buah gemblengan mereka antara lain adalah Iqbal alias Arnasan alias Lacong Pelaku bom bunuh diri di Bali 2002. Sebelum mati, Iqbal sempat meninggalkan pesan dalam sebuah video. Dia berharap kematiannya memberi inspirasi kepada yang lain untuk mengembalikan kebesaran Negara Islam Indonesia yang dicita-citakan Kartosoewirjo.

Kemudian ada Asmar Latin Sani, yang meledakkan bom berikut dirinya sendiri pada peristiwa Marriott 2003, Jakarta. Santri jebolan Ngruki 1995 diketahui sebab, setelah truk yang dibawanya meledak, potongan kepalanya ada di sebuah lantai. Selanjutnya ada Heri Golun, pelaku bom bunuh diri pemboman Kedutaan Besar Australia, Kuningan, Jakarta Selatan, September 2004.

Setelah itu muncul pula Misno, pelaku bom bunuh diri di Café Manega, Jimbaran, Bali 1 Oktober 2005. Putra penggarap ladang di Cilacap yang cuma berpendidikan sekolah dasar ini tewas dalam usia 23 tahun. Di hari yang sama, ikut ambil bagian Salik Firdaus yang meledakkan dirinya di Café Nyoman, Jimbaran, Bali 1 Oktober 2005. Dia seorang ustad yang mengajar di pesantren al-Mutaqien, Cirebon.

Bom bunuh diri juga yang meledak di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlon, Mega Kuningan, Jakarta, pada Jumat 17 Juli 2009. Dua pelaku ini hingga hari ini belum diketahui identitasnya. Polisi masih mencari tahu siapa mereka sebenarnya.

Adapun mereka yang pernah mendapat gemblengan untuk aksi bunuh diri namun kemudian dibatalkan adalah Anif Solchanudin. Dia direkrut sebagai pelaku bom bunuh diri yang keempat untuk Bomb Bali II. Belakangan ditangkap pada November 2005, dengan tuduhan menampung Noordin.

Kemudian Apuy ‎— ‎ Syaiful Bahri ‎— ‎ anggota Ring Banten dari Cigarung, Sukabumi, terlibat dalam bom Kedubes Australia 2004. Dia juga awalnya terpilih sebagai calon pelaku bom bunuh diri. Ditangkap November 2004 di Bogor, dijatuhi hukuman 10 tahun penjara, September 2005.

Nasib setupa juga dialami Chandra alias Farouk. Diduga awalnya dia direkrut untuk bunuh diri. belakangan batal, dia hanya menampung Noordin dalam pelariannya. (Vivanews.com)

Sumber: http://www.tvonenews.tv/www/berita/18973/organisasi_kematian_nurdin_m_top.html

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sabtu, 23 April 2011

Tali-temali di Seantero Negeri

POLISI terus memburu tersangka pelaku terorisme di Nanggroe Aceh Darussalam. Sekitar 30 tersangka dilumpuhkan. Mereka berasal dari daerah dan latar belakang berbeda. Ada pegawai negeri, bekas polisi, pedagang, dan preman pasar. Orang Aceh juga ada yang turut dalam pelatihan militer di Bukit Jalin, Aceh Besar.

Dulmatin membangun kekuatan baru di Aceh dan mengendalikannya dari Pamulang, Banten. Ia menyatukan faksi kelompok Islam, bekas tentara Poso, serta alumnus Filipina dan Afganistan. Mereka bergabung dengan bendera Tanzim Al-Qaidah Serambi Mekah. Kelompok ini masuk melalui pintu relawan korban tsunami 2004.

Dulmatin juga merangkul aktivis yang sudah dipenjara, seperti Abdullah Sunata. Masuknya Sunata ini cukup mengejutkan. Ketika Noor Din M. Top masih hidup, Sunata belum bergabung karena ada perbedaan pandangan jihad. Ketika itu, Sunata menganggap wilayah jihad adalah Ambon, Poso, dan Aceh.

Upaya melebarkan sayap sebenarnya sudah dilakukan Noor Din karena stok aktivis Jamaah Islamiyah kian menipis setelah tewasnya Azahari Husein serta eksekusi trio bomber Imam Samudra, Amrozi, dan Ali Gufron. Ketua perwakilan wilayah atau wakalah (ishobah) juga sudah banyak yang tewas.

Kelompok Noor Din membangun jaringan untuk merancang bom-hit and run. Dulmatin yang merupakan alumnus Afganistan itu menggodok anggotanya dengan kemampuan militer dari berbagai latar belakang. Target teror masih belum dimatangkan. Aceh menjadi awal membangun kekuatan dan jaringan baru.

Mereka yang tertangkap di Aceh dan dikendalikan Dulmatin.

ACEH - Iwan Suka Abdullah - Marzuki alias Tengku - Yudi Zulfari - Azzam alias Imanudin - Surya alias Abu Semak Belukar

MEDAN - Hendra Ali - Taufik - Ahmad Gema

LAMPUNG - Sumamen alias Suleh - Abu Batok alias Ali Heru

PANDEGLANG - Sapta Adi Robert Bakri alias Ismet Hakiki alias Abu Sidik alias Syailendra alias Abu Mujahid - Ibnu Sina - Zaki Rahmatullah alias Zainal Mutain alias Abu Zaid - Adam alias Adi

JAKARTA - Sutrisno - Tatang - Abdi - M. Yunus alias Anton - Muchtar - Sofyan Tsauri (Depok) - Agus Wasdianto alias Hasan alias Nasib (Depok)

BANDUNG - Enceng Kurnia alias Arham - Pura Sudarma alias Jaja - Adi Munardi - Deni alias Fariz (Karawang)

BOYOLALI - Zainudin alias Joko Sulistyo

SULAWESI - Laode Hafid alias Adib alias Hafiz alias Abu Hazwh

Anggota Jamaah Islamiyah yang telah ditangkap sebelumnya.

PEKANBARU DAN MEDAN Ketua Wakalah Pekanbaru adalah Datok Raja Ame -ditangkap Mei 2003. Sedangkan Ketua Wakalah Sumatera Utara buron. Aksi mereka adalah peledakan bom di 15 lokasi di Pekanbaru dan Medan pada malam Natal 2000; penembakan sopir pendeta, Chaleb Situmorang; serta perampokan money changer di Dumai, 2002, dan nasabah bank Lippo, Mei 2003. Anggota kelompok lain yang ditangkap: Mantan kapten Yasid Safaat (Malaysia), Indra Warman alias Tomy Togar, Fadli Sadama alias Acin, Purwadi alias Sony, Ramli alias Tono alias Regar, Syahrudin Harahap alias Aan alias Ramses alias Chandra, Tatang alias Aryo alias Jono, Ramli alias Gogon alias Agus, Mustafa alias Hendra, Bima Ary Surjanto alias Karyo, dan Imbalo Hasibuan.

BENGKULU DAN PADANG Kelompok Bengkulu dan Padang sebelumnya merupakan sel tidur, yang belakangan diaktifkan oleh Dr Azahari, Noor Din M. Top, dan Dulmatin. Di ring ini ada Mohamad Rais (tertangkap) dan Asmar Latin Sani (eksekutor JW Marriott I).

JAKARTA Tokoh kelompok ini adalah Abdul Jabar dan Asep alias Darwin , yang pernah aktif di Gerakan Pemuda Islam. Abdul Jabar ditangkap di Nusa Tenggara Barat pada 2003. Kelompok ini, bersama Amrozi (kelompok Lamongan) dan Fathur Rohman al-Ghozi (Madiun), melakukan aksi peledakan rumah Duta Besar Filipina untuk Indonesia di Jakarta pada Agustus 2000 dan bom malam Natal 2000. Anggota lain yang ditangkap: Amrozi bin Nurhasyim dan Farihin. Kelompok ini masih aktif karena masih ada yang belum tertangkap, seperti Asep alias Darwin alias Abdullah.

BANTEN Tokoh ring Banten adalah Abdul Azis alias Imam Samudra , yang tewas dieksekusi. Di bawah pimpinannya, kelompok ini merampok toko emas Elita, Serang, dan melakukan latihan militer di Saketi, Pandeglang. Imam Samudra menjadi otak peristiwa Bom Bali 2002.

Tokoh lain: - Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir (warga Kuningan, tewas ditembak di Ciputat, Oktober 2009) - Ibrohim, adik ipar Zuhri (tewas ditembak di Temanggung, Jawa Tengah, 7 Agustus 2009) - Nana Ikhwan Maulana (salah satu pengebom bunuh diri Ritz-Carlton asal Pandeglang) - Dani Dwi Permana (salah satu pengebom bunuh Ritz-Carlton, warga Perumahan Telaga Kahuripan, Parung) - Kang Jaja, alumnus Mindanao 1999, Poso 2000-2001 (Maret 2010 tewas di Aceh) - Saptono, paman dari istri Rois, alumnus Mindanao 1999 bersama Rois (Saptono merupakan instruktur di kamp pelatihan militer yang dibentuk Rois di Gunung Peti, Cisolok, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, 2004, dan dikabarkan sedang diburu di Aceh) - Iwan Dharmawan alias Rois (ditangkap November 2004 di Bogor dan dijatuhi hukuman mati Juli 2005) - Aer Setiawan, 28 tahun, dan Eko Sarjono alias Eko Peyang, 21 tahun (keduanya tewas ditembak di Jatiasih, Bekasi) - Bagus Budi Pranoto atau Urwah (tewas ditembak bersama Noor Din M. Top di Mojosongo, Solo, September 2009)

jawa barat Tokoh dari ring Jawa Barat adalah Hambali dan Fatih alias Jabir . Hambali, sekarang di penjara Guantanamo, merupakan koordinator peledakan bom malam Natal 2000 di 34 lokasi di Indonesia. Pemuda asal Cianjur, Jawa Barat, ini ditangkap polisi Thailand dan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA).

Jabir adalah kawan dekat Hambali selama di Malaysia dan Afganistan. Aksi kelompok ini adalah peledakan bom malam Natal 2000 di Bandung, Sukabumi, Pangandaran, dan Ciamis. Anggota kelompok ini yang ditangkap di Jawa Barat adalah Aceng, Roni Miliar, dan Dedi Mulyadi.

SEMARANG Mustofa adalah Komandan Detasemen Markas JI di Semarang dan pemilik tempat perakitan bom di Jalan Taman Sri Rejeki, Semarang. Dia mantan Ketua Wakalah III wilayah Sulawesi. Kemudian ia digantikan oleh Muchlas alias Ali Gufron dan Chairuddin alias Moh. Nazir Abbas.

LAMONGAN Tokoh wilayah ini adalah Amrozi dan Ali Gufron alias Muchlas dan Ali Imron . Ketiganya bekerja sama dengan Hambali dan Dulmatin meledakkan gereja di Mojokerto, Jawa Timur, malam Natal, 24 Desember 2000, dan menjadi dalang bom Bali 2002. Amrozi dan Muchlas dihukum mati pada 2008 bersama Imam Samudra. Ali Imron kini ditahan, tapi berbalik membantu polisi.

MAKASSAR Agus Dwikarna adalah Panglima Laskar Jundullah di Makassar. Dia dipenjara di Manila karena menyelundupkan bahan peledak. Tokoh lain adalah Yasin Syawal, menantu Abdullah Sungkar, yang pernah menjadi Amir Jamaah Islamiyah.

Aksi kelompok ini adalah peledakan restoran McDonald's dan ruang pamer mobil milik Haji Kala, Makassar, pada malam takbiran 2002. Anggota kelompok yang ditangkap di Sulawesi adalah Suryadi Mas'ud, Muhtar Daeng Labase, Khaerul Lukman bin Husein, Muhammad Tang, Usman Nuraffan, Kaharuddin Mustafa, dan Syaifullah alias Imam Nawawi.

PALU Chairuddin alias Mohamad Nasir Abbas -kakak ipar Muchlas alias Ali Gufron-warga negara Malaysia, menjadi Ketua Mantiqi III untuk wilayah Sulawesi. Aksinya adalah beberapa ledakan bom di Palu dan relawan jihad ke Poso dan Ambon. Anggota kelompok yang ditangkap berjumlah 12 orang, termasuk Aang Hasanuddin, Nizam Kaleb, dan Fajri.

SUMBER: PUSAT DATA DAN ANALISA TEMPO, INTERNATIONAL CRISIS GROUP, MABES POLRI

Sumber: http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/03/22/LU/mbm.20100322.LU133075.id.html

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Jumat, 22 April 2011

Densus Habisi Dulmatin

Tepergok Saat Chatting dengan Donatur, Gunakan Nama Samaran Yahya Ibrahim

JAKARTA -- Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali menunjukkan prestasi membanggakan. Kemarin, Rabu 9 Maret, personel Densus 88 berhasil menembak mati seorang tokoh teroris yang diduga sebagai Dulmatin, di Pamulang, Tangerang, Banten.

Saat tertembak di warnet Multiplus Jl Siliwangi Pamulang, tokoh yang diburu sejak Minggu 7 Maret lalu itu menggunakan nama samaran Yahya Ibrahim alias Muktamar.

Jejak Yahya yang menjadi otak utama pengiriman kader dan logistik latihan teroris di Aceh sempat terendus di Pandeglang sehari sebelum operasi di Pamulang. "Dia biang kerok yang mengirim orang ke Aceh," ungkap Kepala Densus 88 Mabes Polri, Brigjen Pol Tito Karnavian di Jakarta, Rabu 9 Maret.

Apakah benar Yahya merupakan samaran Dulmatin? "Yang jelas, dia (Yahya) tokoh besar dan punya nama besar (di kalangan kelompok militan)," kata alumnus Akpol 1987 itu.

Penggerebekan Yahya itu dimulai sejak Selasa subuh hari. Beberapa personel pendahulu dari Subden Intelijen Densus 88 Mabes Polri sudah membuntuti Yahya dari Pandeglang. Sebelum menuju warnet Multiplus, Yahya sempat mampir di rumah jalan Setiabudi nomor 15.

Setelah Yahya masuk ke Multiplus, tim pendobrak merangsek ke dalam. Manajer warnet Rinda Diana, 31, mengatakan saat penggerebekan sekitar pukul 11.10 WIB, tiga polisi lengkap dengan penutup wajah dilengkapi senjata laras panjang masuk dan menyuruh untuk tiarap semua yang ada di warnet. "Tiarap semua, ada teroris," kata Rinda menirukan personel Densus itu.

Setelah itu, Rinda mendengar tiga kali letusan. "Seperti petasan, saya tidak berani naik ke lantai dua," kata perempuan berjilbab biru itu. Dulmatin alias Yahya menggunakan bilik nomor sembilan dari 10 bilik yang tersedia.

Menurut Kadivhumas Mabes Polri, Irjen Pol Edward Aritonang, saat hendak diringkus Yahya melawan. "Dia menembak satu kali dengan revolver berisi enam peluru," katanya. Karena terancam keselamatannya, petugas melumpuhkan Yahya dengan menembak di perut dan paha.

Bekas tembakan dan selongsong peluru ditemukan di tembok lantai dua. Revolver yang digunakan Yahya berjenis Colt berukuran kecil. Revolver itu dipegang dengan tangan kanan.

Tim identifikasi dari Puslabfor Mabes Polri dan Inafis (Indonesia Automatic Fingerprints Identification System) langsung mengidentifikasi jenazah. Selain menggunakan data pembanding sidik jari dan mengumpulkan sisa lapisan kulit dan rambut, tim juga mengambil data di komputer yang sedang digunakan Yahya.

Informasi yang dihimpun Fajar dari berbagai sumber, sesaat sebelum tewas ditembak, Yahya sempat chatting (berkomunikasi dengan media internet) dengan seseorang berinisial Abu Zakaria. Mereka sempat menyinggung dana operasi Aceh.

"Kita akan kirim madu lagi ke Mekah, antum punya stok berapa," tulis Yahya sebelum meninggal sebagaimana ditirukan sumber Fajar. Madu diduga kode untuk amunisi atau peluru dan Mekah adalah kode untuk Aceh yang juga sering disebut Serambi Mekah.

Saat ini, Abu Zakaria yang sedang berkomunikasi itu masih diburu polisi. Abu Zakaria ini diduga kuat adalah salah satu donatur yang mengirimkan suplai dana. "Dia bukan orang asing, orang Indonesia, kami duga di Jawa Tengah," kata sumber Fajar. Tadi malam pukul 21.00 WIB, satu tim Subden Intelijen 88 telah berada di kota itu.

Penggerebekan Yahya juga melibatkan saksi-saksi mata di sekitar lokasi. Di antaranya sepasang suami istri yang kebetulan sang istri sedang potong rambut di dekat Multiplus. Mereka ikut diinterogasi karena si lelaki ikut berada di ruangan lantai dua Multiplus. Statusnya adalah saksi.

Setelah melumpuhkan Yahya, tim Densus 88 mengejar dua orang pengawalnya ke rumah dr Fauzi di jalan Dr Setiabudi, Gang Asem, RT 03/05, Pamulang Barat, sekitar satu kilometer dari Multiplus. "Mereka berinisial R dan H. Mereka juga melawan petugas," kata Kadivhumas Edward Aritonang.

Menurut saksi mata warga setempat, Ade Setiawan, 25, dia melihat kedua pelaku yang membawa tas hitam, jatuh dari motor Suzuki Thundernya. Lalu saat ingin ditangkap, pria yang mengenakan kaos hitam, celana perempat dan menggunakan sendal jepit merogoh pistol dari kantong belakang.

Sementara yang dibonceng meraih sesuatu dari dalam tas. "Yang kita takutkan itu tas isinya bom dan meledak," katanya. Setelah tersangka tewas, tim Gegana dengan mengenakan pakaian tertutup dan helm tertutup berusaha menyisir lokasi dekat kedua jenazah. Petugas juga menarik tas milik pelaku dengan tali.

Petugas Puslabfor Mabes Polri yang juga datang kelokasi kejadian melakukan penyidikan di lokasi tempat kejadian perkara. Jenazah pelaku kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk di visum.

Sementara petugas gabungan juga terus menjaga ketat dan memberikan tanda garis polisi di dua lokasi kejadian karena warga ingin sekali melihat kejadian itu dari jarak dekat.

Setelah itu, lima orang petugas Densus 88 masuk ke rumah berlantai dua yang berpagar warna cokelat itu dengan daun pintu yang sudah terbuka, sedang plafon juga hancur. Beberapa petugas yang menyisir seisi rumah juga tampak menenteng laptop, berbagai CD dan dua kantung plastik berisi buku-buku.

Namun Edward Ariotonang memastikan tidak ditemukan senjata api maupun amunisi dan bahan peledak di dalam rumah tersebut. "Yang jelas mereka ini (para teroris yang tertangkap dan mati) merupakan pemasok senjata dan pemasok dana para teroris," tegasnya.

Dua orang pria ditangkap di rumah ini. Kedua pria itu, DR alias H dan SB alias I, saat digiring keluar rumah hanya mengenakan celana pendek tapa berbaju.

Warga sekitar mengatakan kalau rumah itu milik pria beranak tiga bernama dr Fauzi yang sering menggelar pengajian pada setiap hari Jumat. "Bisa 50-an orang, rata-rata berjubah dan berjenggot lebat, dia muridnya Abu Jibril," kata Zaini, ketua RT setempat.

Dia mengatakan bahwa dr Fauzi dan istrinya bersama ketiga anaknya, sudah diamankan di suatu tempat oleh jajaran Densus 88 Mabes Polri.

Secara terpisah, Abu Jibril, ayah Muhammad Jibril (tersangka peledakan JW Marriott 2009) membenarkan jika dr Fauzi adalah jemaah pengajiannya. "Dia sering datang tiap hari. Tapi aktivitas di luar pengajian, saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak mengajarkan terorisme," katanya.

Teroris USD 10 Juta

Kabar kematian Dulmatin yang saat tertembak menggunakan sejumlah inisial, jelas cukup mengejutkan. Maklum, sebelumnya teroris yang kepalanya dihargai senilai USD 10 juta (Rp 9,2 miliar) oleh pemerintah AS tersebut dikabarkan tertembak tiga kali.

Kabar kematian tersebut dipastikan oleh sebuah sumber kuat di kepolisian. "Sudah A1 (tepercaya, red) itu Dulmatin. Tes DNA-nya memang belum keluar, tapi kami yakin itu Dulmatin dari ciri-ciri fisiknya," ucap sumber tersebut. Dia juga menuturkan perempuan yang ikut tertembak adalah istri Dulmatin dari Pekalongan, Ummu Aisah.

Pada Januari 2005 lalu, militer Filipina merilis kabar Dulmatin tewas dalam sebuah serangan udara. Namun, kabar tersebut tak bisa dikonfirmasi. Pada Agustus 2006, tentara Filipina merilis kabar serupa. Lagi-lagi tak bisa dikonfirmasi kebenarannya. Kemudian pada 16 Januari 2007, lagi-lagi dikabarkan Dulmatin tertembak di Jolo, Basilan.

Kali ini kabar itu tampaknya akurat. "Dia (Dulmatin, red) tidak mati, tapi tertembak dan sempat tertangkap. Fotonya ada," kata sebuah sumber di kepolisian.

Namun, tidak tahu bagaimana ceritanya, Dulmatin tiba-tiba lepas. Diduga kuat, ini merupakan bagian dari pertukaran tawanan antara kelompok militan dengan pemerintah. Di Filipina memang kerap terjadi seperti itu. Sejumlah militan Indonesia pun pernah mengalami hal serupa. Tertangkap, namun kemudian dibebaskan oleh MILF (Moro Islamic Liberation Front).

"Karier" Dulmatin di dunia militan memang cukup panjang. Dia terlahir pada 6 Juni 1970 di Petarukan, Pemalang dengan nama Joko Pitono. Anak keempat dari lima bersaudara tersebut lulus SMA pada 1992 dan merantau ke Malaysia. Tiga tahun kemudian dia pulang, menikah dengan Ummu Aisah, dan berganti nama menjadi Asmar Usman.

Di Malaysia inilah, awal persinggungannya dengan kelompok militan. Berangkat ke Afghanistan, dan sejak awal sudah bergabung dengan faksi Ali Ghufron dan Hambali di Jamaah Islamiyyah. Dia dipercaya terlibat dalam sejumlah serangkaian pemboman gereja antara 1999-2002.

Termasuk salah satu otak Bom Bali I pada 2002. Dia mempunyai banyak nama alias, yakni Joko Pitoyo, Abdul Matin, Muktamar, Djoko, dan Noval.

Selanjutnya, aktif di Poso, sebelum akhirnya Dulmatin kabur ke Mindanao dan menjadi instruktur di Kamp Hudaibiyah. Di Filipina dia dikenal dengan nama Zaid Ali. Setelah pemerintah Filipina melancarkan all out war, MILF terdesak, dan begitu pula militan Indonesia.

Sejumlah pentolan JI asal Indonesia seperti Dulmatin, Umar Patek, dan Ali Fauzi kemudian kabur ke arah daerah rawa-rawa di SK Pendaton. Di sana di tengah rawa-rawa, sekitar 20 orang militan Indonesia membangun sebuah kamp sendiri. "Tapi, kemudian berkurang satu per satu. Saya sendiri kini tak tahu bagaimana kondisi kamp itu sekarang," kata Ali Fauzi.

Beberapa saat kemudian, Dulmatin kabarnya beralih ke arah Basilan. Di sana, kabarnya Dulmatin bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf, sebuah kelompok militan dengan visi yang condong ke Al-Qaedah. Sejak saat itulah, kabar pastinya tak pernah diketahui. "Terakhir ya 2007 itu," tambahnya.

Sumber lain di kepolisian menyebutkan kembalinya Dulmatin ke Indonesia tak pernah diketahui secara pasti. Namun, yang jelas, keberadaannya sudah terendus sejak pemboman Marriott II pada 2009 lalu. "Memang masih ada Noordin Mohd Top, tapi keberadaan Dulmatin mulai terasa," ucapnya.

Rupanya, Dulmatin memang benar-benar kembali ke Indonesia, dan menyusun kembali kekuatan. "Kami memastikan Dulmatin bersama satu nama lagi yang masih buron (berinisial Mt) adalah otak kelompok yang kini berlatih di Aceh," tandasnya. (jpnn)

Sumber: http://metronews.fajar.co.id/read/85057/10/index.php

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Awas, Faksi Teroris Bersatu

14 Mar 2010

Terungkap, Dulmatin Disokong Pengebom Kedubes Australia

JAKARTA-Analisis Densus 88 Mabes Polri bahwa Dulmatin (gembong teroris yang sudah ditembak mati) disokong kelompok "mujahidin" Banten, terbukti. Satu di antara dua teroris yang tewas tertembak di Aceh Jumat lalu (12/3) adalah pimpinan mereka. Dia adalah Jaja alias Pura Sudarma alias Maman. Jaja adalah tokoh besar di dunia pergerakan teroris eks kombatan Afghanistan dan Mindanao.

"Berdasar informasi hasil investigasi yang dikorek dari teman-temannya yang ikut tertangkap dan menyerah, yang bersangkutan (Pura Sudarma) memang gurunya Imam Samudera dan terkait dengan pengeboman Kedubes Australia 2004," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang saat menjadi pembicara dalam diskusi Masih Ada Teroris di Cikini, Jakarta, kemarin (13/3).

Menurut Edward, Jaja sudah terluka parah saat disergap dalam razia di Leupung, Aceh Besar. "Dia terluka dalam operasi di pegunungan, lalu akan dibawa lari ke luar Aceh," katanya Namun, upaya menuju Belawan, Medan, melalui Meulaboh itu gagal karena tercium tim pemburu di Leupung

Saat ditemukan tewas. Jaja sebenarnya sudah luka parah. "Bahkan, mereka membeli minyak wangi dalam jumlah banyak untuk menutupi bau busuk luka-luka yang dideritanya." kata jenderal dua bintang itu. Namun, walau para anggota kelompok membenarkan bahwa yang bersangkutan adalah Jaja, polisi masih mengeceknya ulang. "Kami akan periksa secara teliti agar tidak simpang-siur." katanya.

Dengan keterlibatan Jaja dan kelompoknya, berarti Dulmatin berhasil menyatukan faksi-faksi teroris dalam satu wadah. Mereka tidak hanya dari anggota Jamaah Islamiyah (JI), tapi juga kelompok Ring Banten, faksi Darul Islam, faksi Jundulloh, faksi Angkatan Mujahidin Islam Nusantara, dan faksi-faksi lain yang masih ditelusuri polisi. Ini yang harus diwaspadai.

"Kami mendalami keterkaitan satu orang dengan yang lain. Satu kelompok dengan yang lain. Karena itu, sebenarnya prioritas polisi adalah menangkap hidup agar bisa ditanya siapa saja temannya," kata Edward. Mantan juru bicara kasus bom Bali I itu membantah kalau polisi sengaja menghabisi Dulmatin agar tidak diajukan ke persidangan. "Anggota di lapangan itu punya prosedur tetap, termasuk jika terancam jiwanya. Teroris kan memang sudah siap, melawan atau mati." ujarnya.

Jika memang hasil tes DNA dan pengecekan ciri fisik bahwa Pura Sudarma itu adalah Jaja, polisi benar-benar mendapat tangkapan kakap. "Kami sangat mengapresiasi anggota yang berhasil menyerapnya," kata Edward. Namun, kata dia. polisi baru mengkonfirmasi setelah seluruh tes lengkap.

Jaja memang bukan orang sembarangan. Lembaga peneliti terorisme dan konflik International Crisis Group (ICG) dalam laporannya menyebut bahwa Jaja adalah perekrut utama dalam kasus pengeboman Kedutaan Australia 2004. Dia bergabung di Darul Islam sejak 1985. Jaja cukup berada karena ikut memiliki dan mengelola sebuah perusahaan kurir. CV Sajira Media Karsa - nama yang sengaja dipilih karena huruf-huruf awalnya mengikuti inisial sang pendiri Darul Islam. Soekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Menurut sumber INDOPOS. Jaja mulai memberikan latihan militer secara sporadis kepada anak buahnya pada 1996 di Malimping, Banten, melalui seorang pria bernama Nurudin alias Zaid Butong, ahli kungfu dari Solo. Dia adalah rekan sekelas di Afghanistan dari tokoh JI Thoriquddin alias Abu Rusdan dan Mustofa.

"Keponakan Jaja, yakni Iwan alias Rois, adalah pelaku pengeboman Kedutaan Australia 2004. Kang Jaja juga mengirim orang ke Mindanao, juga ikut menanggung pembiayaan serta menyediakan tempat untuk memberi pelatihan awal di Cimelati, Pasir Eurih, Saketi, di Banten." kata sumber yang mantan kombatan Afghanistan itu.

Ring Banten pimpinan Jaja tidak pernah menjadi bagian dari Jl dan tidak berada di bawah tanggungjawab struktur komandonya. Namun, sejak 1999. kelompok tersebut menyelenggarakan kegiatan pelatihan militer secara terpisah di Pandeglang. Banten, yang kadang kala mengundang anggota JI untuk menjadi instruktur. Para mujahidinnya juga dikirim menuju lokasi konflik antaragama di Ambon dan Poso. Anggotanya sendiri dikirim ke Mindanao untuk mengikuti pelatihan.

Sumber INDOPOS menyebutkan, hingga 2002 Ring Banten telah membeli puluhan pistol dan senapan otomatik, 25 ribu butir amunisi dan ratusan kilogram bahan peledak, serta dua peluncur granat bertenaga roket. "Yang ditemukan di Aceh sebagian adalah inventaris Ring Banten," kata ustad itu kemarin. Jaja juga pernah mendirikan kamp pelatihan bersama di Pendolo, di pinggir Danau Poso, Sulawesi Tengah. Di antara para mujahidin di Poso. Pendolo dikenal sebagai markas bagi tiga kelompok terpisah JI. Laskar Jundullah, dan Darul Islam (DI). Ada dua faksi DI di sana. Yang satu dipimpin Jaja dan keponakannya Iwan alias Rois. Yang lain dipimpin seseorang yang setia kepada Ajengan Masduki. Dia anak didik Ahmad Said Maulana bernama Syaiful alias Fathurrobi alias Harun, asal Cilacap, Jawa Tengah. Hubungan Ring Banten dengan JI di Poso meningkat pada 2000-2002. Mereka dibina sejak dilakukannya pelatihan bersama para veteran Afghanistan pada 1999.

Sebagian besar adalah anggota Mantiqi I, divisi wilayah JI yang mencakup Malaysia dan Singapura. Awalnya mereka dipimpin Hambali, karena seorang anggota Mantiqi I -Imam Samudera-berasal dari Banten, serta teman karib dan bekas teman sekelas di SMU dengan Ustad Heri Hafidzin, seorang anggota Ring. Dalam diskusi yang sama, pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo menilai bergabungnya kelompok-kelompok di bawah komando Dulmatin itu disebabkan keterbatasan gerak dan dana mereka. "Karena itu. nama jamaah ditinggalkan dan bergabung menjadi satu untuk saling mendukung. Lagi pula ideologi perlawanan mereka sama," katanya. Bahkan, lanjut Mardigu. karena mendesaknya kebutuhan dana di kelompok gabungan para militan ini, mereka berusaha menjual ganja di Aceh. "Penjualan ganja di Aceh sangat mudah dan bisa untuk menghidupi gerakan. Mereka juga bisa merampok di Sumatera Utara," jelasnya.

Hal itu, kata Mardigu, terinspirasi oleh penjualan opium yang dilakukan beberapa faksi mujahidin di Afghanistan. "Dari pesan mereka yang di-upload di video Youtube jelas bahwa mereka dalam kondisi butuh dana dan butuh anggota baru. Mereka bahkan mengkritik anggota kelompok yang memilih tidak mengangkat senjata," ujarnya. Mantan anggota Jamaah Imran yang pernah dipenjara dalam kasus pembajakan pesawat Garuda Woyla 1981, Umar Abduh, mengaku heran jika Jaja baru ditangkap sekarang. Dia menilai polisi tebang pilih dalam menangkap teroris. "Soal Jaja itu saya pernah kasih data ke polisi, tapi tak pem.ih ditangkap Bahkan, saya konfirmasi ke komandan Dcnsus waktu itu. Kala komandan itu. biar saja, tak usah ditangkap dulu." kata Umar. Perusahaan ekspedisi milik Jaja, kata Umar, juga tak pernah diselidiki polisi. "Jadi, tebang pilih itu bukan hanya kasus korupsi, tapi juga kasus terorisme. Mereka dibiarkan saja dengan kepentingan tertentu." kata Umar yang dipenjara di era Soeharto itu. Dikonfirmasi soal tudingan Umar, Edward membantah. "Mana mungkin kami lebang pilih Justru karena berdasar hukum dan undang-undang, kami tidak bisa sembarangan. Misalnya, perusahaan itu bisnis murni, ya tidak bisa dikaitkan, atau orang ikut pengajian terus dianggap teroris, ya tidak bisa dong," katanya. Edward mencontohkan beberapa anggota kelompok Dulmatin yang disergap di Pamulang. "Apa lantas setiap warga Pamulang itu teroris? Wah, polisi bisa dihujat ribuan orang dong," katanya.

Pemilik Safe House Ditangkap

Polisi memastikan telah menangkap Fauzi Syarif yang rumahnya dijadikan "safe house" Dulmatin cs. Hal ini disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri Irjend Pol Edward Aritonang, kemarin pagi (13/3). Edward mengatakan. Fauzi masih terus menjalani pemeriksaan untuk mengetahui keterlibatannya dalam jaringan terorisme. "Yang masih dikejar itu Zulkarnaen." jelasnya di salah satu restoran di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Zulkarnaen sendiri merupakan tokoh penting teroris yang sudah bertahun-tahun masuk daflai pencarian orang (DPO) polisi. Fauzi diketahui pernah terjun dalam konflik Ambon dan Poso dan dikenal sebagai pengawal Dulmatin alias Yahya Ibrahim alias Joko Pitoyo yang baru setahun terakhir im tercatat sebagai Kabag Tata Usaha di Puskesmas Karung Tengah, Ciledug. Tangerang. Sedang Zulkarnaen dicari karena berperan sebagai penanggung jawab seluruh operasi teroris.

Amankan Dua Warga

Sehari setelah kontak tembak, tim gabungan Polri dan TNI dengan kelompok teroris di Leupung. Aceh Besar. Jumat pagi lalu (12/3). polisi kembali melancarkan razia. Bahkan, dalam razia di dua titik di Meulaboh kemarin (13/3) Polres Aceh Barat menahan dua orang dan luar Aceh yang dicurigai sebagai anggota kelompok teroris Sebagaimana dilaporkan INDOPOS Group, Polres Aceh Barat mengerahkan seluruh personel dalam razia di Simpang Mapoli, Kecamatan Panton Reu. dan Kecamatan Arongan Lambalek, perbatasan Aceh Jaya-Aceh Barat. Razia digelar sejak Jumat siang setelah muncul kabar bahwa kawasan lintas pesisir barat Aceh menjadi jalur persinggahan dan kemungkinan dilalui kelompok teroris untuk menghindari kejaran polisi.

Dalam razia itu, polisi mengamankan dua orang yang dicurigai sebagai anggota kelompok teroris Aceh saat melintas di Kecamatan Arongan Lambalek Sabtu dini hari kemarin sekitar pukul 00.30. Dua pria yang dicurigai itu adalah Ridwan asal Purwokerto dan Ranu, (rdl/ind/den/jpnn/dwi)

Sumber: http://bataviase.co.id/node/130801, http://www.pontianakpost.com/index.php?mib=berita.detail&id=31279

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kamis, 21 April 2011

Ayah M Syarif sebut mereka dajjal

Judul asli: Adik M Syarif Diduga Juga Siap Nge-bom

"Adanya pihak-pihak yang menjanjikan surga kepada anak-anak saya, sampai mereka bersedia melakukan perbuatan keji, adalah dajjal," kata ayahanda M. Syarif dengan nada suara bergetar dan kedua tangannya mengepal.

CIREBON, KOMPAS.com — Abdul Gafur, ayah M Syarif (32), pelaku bom bunuh diri di Mapolresta Cirebon, mengatakan, pihaknya sangat yakin kalau Achmad Basuki, adik Syarif, merupakan "pengantin" berikutnya yang juga siap melakukan aksi bom bunuh diri.

Menurut Abdul Gafur, yang ditemui wartawan di Cirebon, Rabu (20/4/2011), selain berdasarkan sejumlah video dan bukti lain yang ditemukan di rumah mertua Basuki, keyakinan Syarif juga didasarkan pada persamaan pemahaman agama dan ideologi antara Syarif dan adiknya.

"Kendati Basuki tidak sekeras kakaknya, tetapi soal pemahaman agama, mereka berdua memang sepaham dan seideologi," katanya.

Di sela-sela mencari-cari lokasi penguburan buat jenazah M Syarif di Kompleks TPU Jabangbayi, Cirebon, dia mengatakan, saat penggeledahan rumah H Maina, mertua Basuki di sentra batik Trusmi, di Blok Bangbangan RT 13, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, ditemukan empat unit rangkaian bom, 40 buku jihad, serta sembilan VCD dan foto-foto latihan ala militer.

Meski yakin bahwa Basuki merupakan "pengantin" berikutnya yang siap mengorbankan diri, Abdul Gafur mengaku tidak tahu sasaran ataupun target berikutnya. "Kalau soal sasaran berikutnya, saya tidak tahu-menahu," ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Gafur juga melampiaskan kemarahannya kepada pihak-pihak yang dinilainya telah meracuni dan mencuci otak kedua anaknya untuk melakukan perbuatan biadab tersebut.

"Adanya pihak-pihak yang menjanjikan surga kepada anak-anak saya, sampai mereka bersedia melakukan perbuatan keji, adalah dajjal," katanya dengan nada suara bergetar dan kedua tangannya mengepal.

M Syarif melakukan aksi bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon pekan lalu, sesaat menjelang shalat Jumat. Dia sendiri tewas seketika, sedangkan sejumlah anggota polisi, termasuk Kapolresta, mengalami cedera.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2011/04/20/21031435/Adik.M.Syarif.Diduga.Juga.Siap.Ngebom

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Teroris di Medan Residivis Bom Kedutaan Besar Australia

JAKARTA Dua dari lima tersangka teroris yang ditangkap di Medan, Sumatera Utara, adalah residivis pelaku peledakan bom Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta, pada 2004. Menurut juru bicara Markas Besar Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Edward Aritonang, kedua tersangka itu adalah Ibrahim abas Deni alias Suramto dan Japar alias Lutfi alias Upen alias Abu Musa. "Keduanya alumni Mahad Ali, Universitas Al-Mukmin, Ngruki, Solo," ujar Edward dalam keterangan persnya di Mabes Polri kemarin.

Kepolisian Kota Besar Medan dua hari yang lalu menangkap enam lelaki dengan gelagat mencurigakan. Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Inspektur Jenderal Oegroseno mengatakan keenam lelaki itu diduga anggota jaringan teroris Aceh yang diburu tim antiteror Mabes Polri. Menurut Oegroseno, polisi menangkap enam dari delapan lelaki penumpang mobil Kijang Jantan bernomor polisi wilayah Aceh itu. Dua penumpang mobil lainnya kabur. Hingga kemarin sore, mereka masih dikejar polisi.

Edward menjelaskan, lima tersangka dibawa ke Mabes Polri untuk diperiksa lebih lanjut. Sementara itu, satu orang lainnya masih berada di Medan karena menjalani perawatan. Edward menyebutkan nama dan peran para teroris yang tertangkap di Medan itu. Pertama adalah Qomaruddin abas Abu Musa alias Mustagim alias Abu Yusuf alias Hafshoh.Edward menuturkan, Qomaruddin berperan sebagai koordinator pelatihan di Aceh dan alumnus Akademi Militer Al-Jamaah, Mindanao, Filipina Selatan. Dia juga terlibat dalam kontak senjata dengan Detasemen Khusus 88 Antiteror pada Maret lalu. Tersangka kedua Pandu Wicaksono Widyan Putro sebagai peserta latihan dan ditempatkan di Regu ini. "Dia termasuk yang dicari karena ikut mengamankan Noor Din M. Top (almarhum) di Solo," kata Edward.

Sementara itu, Bayu Sena alias Budi adalah orang yang ikut merencanakan dan merakit bom untuk mengebom Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jatiasih, Bekasi. Edward mengatakan polisi masih mengejar dua teroris yang masih kabur. "Yakni Ali dan Daud alias Usman alias Gito," katanya.Dari Medan, Wakil Kepala Polda Sumatera Utara Brigadir Jenderal Syafruddin mengatakan Qomaruddin alias Abu Musa beserta tujuh anggota teroris lainnya keluar dari wilayah Nanggroe Aceh Darussalam guna mempersiapkan perencanaan aksi teror lain.Dari Magetan, Jawa Timur, keluarga salah satu tersangka teroris, Lutfi, mengaku belum menerima pemberitahuan resmi dari polisi. Keluarga juga masih belum yakin Lutfi salah satu tersangka teroris. "Sebagai orang tua, saya terkejut," kata Bukhori Burhanuddin, ayah ayah Lutfi, kemarin.

Sumber: http://bataviase.co.id/node/167265

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Pelaku Teror: "Maaf, Maafin Saya, Bu..."

JAKARTA, KOMPAS.com — Darto, salah seorang pelaku teror bom buku yang diringkus Densus 88 Antiteror Polri di rumah kontrakannya sekitar Taman Pemakaman Umum Tanah Merah, Pondok Kopi, Jakarta Timur, Kamis (21/4/2011) pukul 05.00, meminta maaf kepada tetangga sekitar rumahnya terkait penangkapan dirinya tersebut.

Ia menyatakan permohonan maafnya kepada tetangga yang selama ini sudah terbilang akrab dengannya.

"Maaf, maafin saya, Bu," ujar Darto kepada seorang tetangganya, Maryati, ketika pria tersebut digiring Densus 88 Antiteror menuju kendaraan.

Ucapan maaf dari terduga teroris itu langsung dijawab Maryati. "Iya, Ibu maafin. Tapi kok kamu bisa begitu (terlibat aksi teror)." Mendengar itu, Darto diam sejenak dan sepertintya tak tahu harus menjawab apa.

"Saya juga enggak tahu, Bu," tuturnya. Darto diringkus aparat bersama empat rekannya di rumah kontrakan mereka di Pondok Kopi, Kamis pagi. Penggerebekan itu terjadi pada saat sebagian warga masih terlelap.

Maryati baru mengetahui kehadiran Densus 88 Antiteror berada di sekitar rumahnya ketika ia sedang ziarah ke makam anaknya di TPU Tanah Merah. Seorang aparat datang menghampiri dirinya dan meminta agar ia tak kembali dulu ke rumahnya karena Densus 88 Antiteror sedang melakukan penggerebekan.

Tim Densus 88 Antiteror yang tiba di lokasi melakukan penggerebekan di dua tempat kontrakan. Tanpa perlawanan berarti, lima pria, termasuk Darto, berhasil dilumpuhkan. Mereka selama ini sudah menjadi target karena diduga sebagai pelaku teror bom buku.

Dari informasi yang dihimpun Tribun , kelima pria tersebut bekerja sebagai penjual mainan anak-anak dan lainnya ada yang menjual bubur sumsum.

Sumber: http://megapolitan.kompas.com/read/2011/04/21/14051342/Pelaku.Teror.Maaf.Maafin.Saya.Bu.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Selasa, 19 April 2011

Tak Hanya Dinanti Neraka, Aksi Bom Bunuh Itu Haram

Din Syamsudin

YOGYAKARTA (Berita SuaraMedia) - Pelaku bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon, Jawa Barat, merupakan orang yang tidak berketuhanan dan tidak berperikemanusiaan karena tindakannya jauh dari nilai-nilai ajaran agama, kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin.

"Aksi bom bunuh diri tersebut merupakan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berketuhanan dan berperikemanusiaan. Islam melarang umatnya untuk bunuh diri," katanya usai peluncuran gerakan shodaqoh sampah di Universitas Muhamamdiyah Yogyakarta (UMY).

Menurut dia, sangat keliru jika pelaku bom bunuh diri itu memiliki pemahaman bahwa aksinya tersebut akan mengantarkannya ke surga, karena bukan surga yang didapat tetapi neraka.

Apalagi, tindakan itu memakan korban saudara sendiri sesama umat Islam yang hendak beribadah. Dosa kejahatan aksi bom bunuh diri tersebut pasti bertingkat-tingkat.

Ia mengatakan, generasi muda hendaknya tidak terpengaruh dengan paham-paham sesat yang mengajarkan pembunuhan terhadap saudara sendiri atau melalui tindakan bunuh diri.

"Kami juga minta pemerintah dan aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas peristiwa tersebut, sekaligus mengungkap aktor intelektualnya," kata Din.

Menurut dia, barangkali banyak motif yang melatarbelakangi aksi tersebut, tetapi diduga tindakan itu juga dimaksudkan untuk mengganggu kehidupan keagamaan umat Muslim di Indonesia.

"Oleh karena itu, sangat mendesak bagi aparat kepolisian untuk melakukan tindakan pencegahan dan pihak intelijen harus bekerja lebih keras sehingga kejadian semacam itu tidak terulang," katanya.

Tak jauh beda, mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Hasyim Muzadi menyayangkan terjadinya aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh Muhammad Syarif Astanagarif (32) di Masjid Adz-Dzikro Mapolresta Cirebon pada Jumat (15/4/2011) lalu. Ia menilai tindakan tersebut adalah bentuk penafsiran ajaran Islam yang salah kaprah.

"Andai, jika pelaku bom bunuh diri itu memiliki keyakinan bahwa aksinya merupakan upaya membela Islam, itu salah besar. Bunuh diri itu haram hukumnya, dan nyawa itu harusnya dilindungi," kata Hasyim di Jakarta.

Menurut Hasyim, dalam peristiwa bom bunuh diri itu memang jelas bahwa pelaku menjadikan kepolisian sebagai target utama. Namun, ia menolak bila aksi terorisme tersebut sebagai aksi balas dendam bagi kepolisian yang saat ini terkesan beringas menghadapi kelompok radikal.

Justru, Hasyim menilai, kinerja kepolisian saat ini cukup memadai dalam menangani kasus terorisme. "Itu karena memang polisi musuhnya. Tetapi, bukan karena kepolisian yang bertindak keras, tetapi karena mereka (kelompok terorisme) memang harus ditindak secara keras, tidak bisa disopanin ," ujar Hasyim.

Untuk itu, ia mengharapkan agar pemerintah melakukan penanganan terorisme secara menyeluruh. Saat ini penanganan kasus terorisme yang dilakukan pemerintah, menurutnya, belum berjalan efektif sehingga kasus-kasus baru terus bermunculan.

"Kita lihat, misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) saat ini kinerjanya belum efektif. Kerjaannya cuma buat seminar-seminar saja. Itu kan tidak ada hubungannya. Seharusnya ulama yang menyampaikan di seminar-seminar," pungkasnya. (fn/ant/km)

Sumber: http://www.suaramedia.com/berita-nasional/42973-qtak-hanya-dinanti-neraka-aksi-bom-bunuh-itu-haramq.html

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Ayahanda: Dunia Akhirat Muhammad Syarif Tetap Anak Saya

Selasa, 19 April 2011 , 22:19:00 WIB Laporan: Ari Purwanto

RMOL. Meski anaknya pelaku teror bom di masjid Adz-Zikro, lingkungan Mapolresta Cirebon, Abdul Ghofur, ayahanda Muhammad Syarif tetap menganggap almarhum Muhammad Syarief sebagai anaknya.

Hal itu dikatakan Abdul Ghofur, Selasa malam (19/4).

"Dunia dan akhirat, ia (Muhammad Syarif) tetap anak saya," kata Abdul.

Itu ditegaskannya dengan ikhlas, meskipun semasa Syarif hidup, Ghofur pun kerap dizolimi dengan dikatakan sebagai kafir, karena tak sejalan dengan pemahaman Syarif.

Soal berita ia tidak mau menerima jenazah anaknya, Abdul mengatakan itu hal yang salah. Ia mengatakan tetap akan menerima jenazah anaknya, hanya saja terkendala sedikit masalah teknis.

"Bukan saya tidak mau mengambil jenazah anak saya. Tapi kan saya di Mabes Polri. Istri dan anak kan di Jakarta juga (dimintai keterangan oleh Mabes Polri). Terus siapa yang mau menerima jenazahnya," jelas Abdul saat berbincang di Metro TV. [arp]

Sumber: http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=24685

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book