Jumat, 18 Maret 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (7)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (6)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

C. RELEVANSI UNTUK HARI INI

Dalam periode awal Darul Islam ini, muncul beberapa unsur yang membantu pemikiran dan taktik JI dan kelompok-kelompok yang berpikiran serupa di Indonesia. Pertama dan paling penting tentu saja adalah mistik dari negara Islam. Kartosoewirjo, Kahar Muzakkar, dan Daud Beureueh tidak hanya berbicara tentang sebuah Negara, mereka berjuang untuk satu negara itu dan sampai hari ini tetap merupakan pahlawan bagi setiap orang yang memperjuangkan syari'at Islam di Indonesia. Sementara beberapa orang di sekitar mereka telah kehilangan kredibilitas, baik karena keyakinan keagamaan yang menyimpang atau pun karena menjual diri ke pemerintah Indonesia, banyak yang masih terus mengilhami generasi-generasi radikal yang baru. Misalnya, Ale A.T. dikatakan telah mementor Agus Dwikarna. Gaos Taufik pada usianya yang ke-74 tetap mendapatkan rasa hormat dari keluarga besar DI, meskipun dia melakukan kontak secara teratur dengan intelijen Indonesia, dan dia terus menggunakan karismanya untuk merekrut generasi muda. Banyak anggota JI yang masih mempertahankan kontak dengan para pejuang DI generasi ini.

Elemen kedua berkaitan dengan taktik. Taktik i tu adalah komandan DI di Jawa Barat pada masa awal ini mengesahkan penggunaan fa'i - merampok orang-orang yang tidak beragama Islam sebagai cara untuk mengumpulkan dana untuk berjihad, suatu praktek yang diadopsi oleh hampir semua cabang DI dan pecahannya, termasuk JI. Ketergantungan pada fa'i berarti bahwa dari awal di Indonesia telah ada hubungan simbiosis antara penjahat dan preman-preman kecil di satu pihak, dan para mujahidin di sisi lain. Yang disebutkan terakhir itu sangat diperlukan mendapatkan sumber daya, sedangkan yang disebutkan pertama dapat bertobat dan diampuni dari dosanya sewaktu menggunakan ketrampilan mereka untuk melakukan kejahatan sejenis untuk tujuan baru. Fa'i telah menjadi bagian standar dari daftar penggalangan dana JI.

Elemen ketiga berkaitan dengan konsep kawasan yang aman di mana hukum Islam dapat sepenuhnya diterapkan. Tahun 1950-an, para komandan DI membagi daerah dimana mereka berjuang menjadi D1, D2, dan D3. D1 adalah daerah tertutup berada dalam kendali penuh dan dapat mengatur administrasi negara Islam; daerah-daerah tersebut juga menjadi tempat berlindung yang aman bagi para pendukung DI yang melarikan diri daerah-daerah yang kurang aman. D2 meliputi daerah-daerah yang tidak sepenuhnya di bawah kontrol tetapi di daerah tersebut penjangkauan dapat dibawa masuk melalui dakwah (penjangkauan dan khotbah keagamaan), yang menjadi taktik penting untuk mengkonsolidasikan keuntungan militer. D3 merujuk kepada daerah yang hanya bias ditaklukkan melalui kekuatan militer. Seiring tahun 2000, beberapa pemimpin DI masih berbicara tentang perlunya untuk membangun area DI di mana umat bisa menegakkan hukum Islam dan umat yang berada di bawah tekanan musuh bisa menemukan perlindungan. Konsep ini terbawa ke doktrin JI, tetapi di JI disebut qoidah Aminah (basis aman). Hingga tahun 2003 ketika beberapa pemimpin JI di wilayah ini ditangkap, banyak di antara mereka yang berharap Poso akan digunakan untuk tujuan itu 26.

Abu Bakar Ba'asyir

Akhirnya, DI Jawa Barat lah yang meninggalkan warisan doktrin tripartit iman (iman), hijrah (emigrasi atau perpindahan), dan jihad (perang suci) kepada generasi baru. Iman tetap merupakan inti dari gerakan. Jika politik atau tekanan militer yang setia terlalu besar, mereka harus mengikuti teladan Nabi Muhammad dan bergerak dari daerah rumah mereka ke tempat yang lebih aman, di mana mereka dapat membangun kekuatan mereka untuk kembali dan melancarkan jihad pada musuh. Malaysia menjadi tempat hijrah untuk Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir pada pertengahan tahun 1980-an; Jakarta memainkan peran itu bagi para anggota kelompok studi Islam di Jawa Tengah yang menjadi target tindakan keras pemerintah pada sekitar waktu yang sama. Dan Mindanao, di antara tempat-tempat lain, mempunyai fungsi ini bagi para anggota JI hari ini. Memahami konsep hijrah, pentingnya pindah ke daerah yang lebih aman, kemudian menunggu dan mengkonsolidasikan sana sampai memungkinkan untuk melanjutkan perang merupakan hal yang penting bagi pemahaman mendasar mengenai kegiatan jihad saat ini. (Bersambung)


Catatan kaki

26 Laporan Crisis Group Asia N°74, “Latar Belakang Indonesia: Jihad di Sulawesi Tengah ” , 3 Februari 2004, hal. 15.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Posting Komentar