Kamis, 17 Maret 2011

DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (4)

Lanjutan dari.... "DAUR ULANG MILITAN-MILITAN DI INDONESIA (3)"

Diterjemahkan oleh StuyCycle.NET dari Asia Report N°92 - 22 Februari 2005

Untuk koleksi Perpustakaan Online StudyCycle.NET

Efektifnya, DI jadi tanpa pemimpin selama satu dekade. Banyak penandatangan proklamasi menerima keuntungan jangka pendek untuk menopang kesetiaan mereka, seperti mobil, tanah, dan dalam satu kasus, sebuah usaha distribusi minyak tanah 5.

“Antara 1962 dan 1968”, tulis seorang pemimpin, "Negara Islam Indonesia terkubur oleh fasilitas duniawi yang musuh sediakan" 6.

Tapi tidak semua orang dikooptasi. Ahmad Sobari, bupati DI Kabupaten Priangan Timur, di sekitar kota Tasikmalaya Jawa Barat, tidak meninggalkan perjuangan. Pada tahun 1969, dia mendirikan Negara Islam Tejamaya (NIT, Tejamaya adalah daerah di sekitar Tasikmalaya) 7. Namun Sobari sendiri ditangkap pada tahun 1978, dan NIT tidak pernah mempunyai pengaruh walaupun masih ada sebagai sebuah gerakan dengan sedikit anggota di daerah Tasikmalaya.

Selama para pemimpin DI itu bertengkar, pangkat dan jabatan dan banyak hal lain dibiarkan tanpa kemudi. Perkiraan terbaik untuk Jawa Barat dan Sulawesi Selatan adalah bahwa pada puncak pemberontakan pada periode tahun 1956-1957, masing-masing memiliki sekitar 12.000 hingga 15.000 pejuang. Ada banyak pejuang yang tersedia untuk kembali direkrut 8.

Hubungan beberapa pemimpin DI Jawa Barat dengan tentara diperkuat pada kurun waktu 1965-1966 ketika mereka ditawari senjata dengan imbalan bantuan menyerang tersangka komunis (PKI) di Jawa Barat, Aceh, dan Sumatra Utara 9. Menurut laporan Danu Muhamad Hassan benar-benar percaya bahwa seorang perwira yang cepat terkenal, Ali Moertopo, menyelamatkan kepemimpinan DI dari kehancuran pada tahun 1966 dengan melakukan intervensi bersama Soeharto ketika ia berpikir bahwa yang terakhir disebut itu bermaksud menggunakan sampul pembunuhan massal tahun itu untuk menghapuskan musuh-musuh politik lainnya, termasuk Darul Islam 10.

Para pemimpin DI melihat kerjasama taktis dengan tentara untuk membasmi PKI, baik sebagai keinginannya sendiri maupun sebagai cara untuk menghindari penangkapan-penangkapan [orang-orang DI] lebih lanjut. Tapi bahkan ketika hal itu terjadi, pemimpin DI terus membahas kekosongan kepemimpinan dan kebutuhan untuk mengkonsolidasikan gerakan demi sebuah negara Islam. Beberapa orang yang berani telah melakukan upayanya konsolidasi sendiri. Seorang mantan komandan resimen DI, Opa Mustopa, mencoba menarik organisasi bersama-sama pada tahun 1967 di Rajapolah, Tasikmalaya, tapi dia gagal. Ia ditangkap dan menghabiskan waktu tiga tahun di penjara 11.

Pada akhir tahun 1960-an, pemimpin Aceh Daud Beureueh telah menjadi pesaing yang kuat untuk imam. Kartosoewirjo dan Kahar Muzakkar telah tewas. Daud Beureueh adalah salah satu pemimpin asli DI dan seorang pria yang mempertahankan otoritas yang luas di Aceh. Kadang pada tahun 1967, ia mengirim utusan ke Jawa Barat untuk menyeru pemimpin DI mengenai penyatuan kembali gerakan. Tanggapannya adalah pengiriman dua utusan — Djaja Sujadi dan Kadar Solihat — ke Aceh untuk meminta Daud Beureueh memimpin DI 12. Dia menjawab bahwa terserah kepada umat [anggota DI] untuk memilih imam, tetapi ia bersedia untuk menjadi komandan militer (KPSI) 13. Arus orang-orang terkemuka DI secara terus-menerus dan dengan kuat menuju ke Aceh setelah peristiwa itu, termasuk Aceng Kurnia, dan Haji Ismail Pranoto (Hispran) dari Jawa, dan Ale A.T., salah seorang anak buah Kahar Muzakkar, dari Sulawesi Selatan14.

(Bersambung)


Catatan kaki

5 "Pecahnya Sesepuh DI", Tempo , 30 September 1978.

6 Dokumen rahasia DI milik Crisis Group , February 2000.

7 Polisi Cianjur Ringkus 11 Pendiri NII", Harian Angkatan bersenjata, 27 Januari 1979. Ada beberapa kerancuan mengenai tanggalnya. Beberapa pemimpin DI menyatakan dalam wawancara bahwa Sobari yang tidak pernah menyerah kepada pihak berwenang itu mendirikan gerakan segera setelah kekalahan DI pada tahun 1962, tetapi sumber tertulis menyebutkan suatu tanggal dalam tahun 1969. Beberapa anggota DI percaya Sobari (yang juga dipandang sebagai seorang yang mempraktekkan Islam yang lebih murni daripada banyak pemimpin DI lainnya) telah ditunjuk oleh Kartosoewirjo untuk memimpin gerakan sampai Abdul Fatah Wirananggapati, pemimpin DI lain, dibebaskan dari penjara. Keyakinan itu didasarkan pada Emeng Abdurahman, "Pernyataan Pemerintah Nomor 001/III/1423 Tentang Keberadaan Negara Islam Indonesia Pasca 1962", pasal 9 dan 10.

8 Sejarah resmi militer Indonesia mengenai pemberontakan DI memperkirakan bahwa pada tahun 1957, pasukan DI di Jawa Barat berjumlah 13.129 dengan 2.780 senjata ringan dan 220 senjata otomatis. Pada bulan Juni 1960, jumlah tentara reguler menurun menjadi 3.270 orang, tetapi masih memiliki senjata ringan 2.307 senjata dan 182 senjata otomatis. Lihat : Tentara Nasional Indonesia, Penumpasan Pemberontakan DI / TII SM Kartosuwiryo di Jawa Barat (Jakarta, 1982), hal.112. Untuk Sulawesi Selatan, diperkirakan berkisar antara 10.000 hingga 15.000. Lihat C. van Dijk, Rebellion Under the Banner of Islam (Hague, 1981), hal. 195.

9 Wawancara Crisis Group , Oktober 2004. Pemberian senjata oleh militer untuk tugas inilah yang yang meyakinkan beberapa anggota DI satu dekade kemudian bahwa tawaran intelijen militer untuk bekerja sama mendirikan negara Islam itu sungguh-sungguh .

10 Wawancara Crisis Group , Oktober 2004. Menurut laporan Moertopo melakukan ini karena ikatan pribadinya dengan para pemimpin DI akan kembali ke hari-hari mereka bersama-sama dalam milisi Islam yang dikenal sebagai Hizbullah, sebuah kelompok yang diorganisasikan selama pendudukan Jepang di Indonesia.

11http://www.geocities.com/darul1slam/1962_1981.htm, dikonfirmasi oleh wawancara Crisis Group. (Perhatikan bahwa situs web menggunakan angka 1 daripada I untuk huruf pertama dari kata “Islam”.)

12 Al-Chaidar, "Serial Musuh-Musuh Darul Islam (1) Sepak Terjang KW9 Abu Toto (Syekh AS Panji Gumilang) Menyelewengkan NKA-NII Pasca SM Kartosoewirjo", Januari 2000, hal 24

13http://www.geocities.com/darul1slam/1962_1981.htm , dikonfirmasi oleh wawancara Crisis Group .

14 Versi lain mengatakan bahwa Daud Beureueh mengambil inisiatif pada tahun 1968, mungkin setelah kunjungannya dari para pemimpin Jawa Barat, untuk mengkonsolidasikan gerakan tersebut, termasuk pengiriman Gaos Taufik ke Sulawesi. Wawancara Crisis Group, Maret 2003.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar