Tampilkan postingan dengan label ormas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ormas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Februari 2011

Masa Terorganisir Dari Luar Cikeusik

Ketika Kedamaian di Cikeusik Terusik

KOMPAS.com — Kondisi Kampung Peundeuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, Banten, tak ubahnya perkampungan dan pedesaan lainnya. Rimbun pepohonan dan areal persawahan mudah ditemui di sepanjang jalan menuju perkampungan yang berada di wilayah Banten sisi selatan ini.

Dibutuhkan waktu sekitar lima jam dari Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, untuk menuju ke Kampung Peundeuy di Cikeusik. Adapun untuk menuju ke ibu kota Kabupaten Pandeglang, warga Peundeuy butuh waktu empat jam dengan menggunakan kendaraan melintasi jarak puluhan kilometer, lengkap dengan lubang-lubang di sepanjang ruas jalan.

Dengan kondisinya yang relatif terpelosok seperti itu, wajar apabila suasana tenang mendominasi permukiman warga. Namun, pada Minggu (6/2/2011) pagi, suasana Kampung Peundeuy memanas menyusul terjadinya insiden kekerasan antara ribuan warga wilayah sekitar dan jemaah Ahmadiyah yang berada di rumah milik Suparman.

Korban jiwa dan luka pun berjatuhan dalam peristiwa tersebut. Tak urung, insiden Minggu pagi berikut rentetan peristiwa yang mengikuti pun sekejap menjauhkan perkampungan itu dari suasana tenang yang sekian lama melingkupi Peundeuy.

Kesaksian Eka Hermawanto, Ketua Karang Taruna Peundeuy, masyarakat setempat sempat merasa tercekam pascainsiden itu. Beberapa di antaranya malah memilih mengungsi ke luar desa karena khawatir kemungkinan terjadi peristiwa susulan.

Beberapa warga Peundeuy yang ditemui menuturkan bahwa pada saat kejadian mereka hanya menonton. Ada pula penuturan bahwa saat terjadi pengejaran terhadap jemaah Ahmadiyah, ada warga setempat yang tengah memetik sayur, membiarkannya. Warga Peundeuy itu tahu bahwa jemaah tersebut sedang bersembunyi di balik tanaman dari kejaran orang-orang.

Informasi beberapa warga Peundeuy, ribuan orang yang Minggu pagi itu mendatangi rumah Suparman berasal dari luar kampung mereka. Keterangan kepolisian setempat mengonfirmasi, orang-orang tersebut bukan hanya dari satu kecamatan, melainkan banyak kecamatan di Pandeglang.

Trauma insiden Minggu pagi terbukti tidak hanya melanda penduduk di Peundeuy secara massal, tetapi juga ke tiap warga yang berdiam di rumah-rumah mereka. Kompas sempat mengunjungi rumah Aminah, ibu Suparman, pada Senin (7/2/2011). Di dalam rumah yang dindingnya belum sepenuhnya dilapisi semen itu, terlihat cucu-cucu perempuan Aminah jongkok dengan punggung menempel di dinding sambil memandangi neneknya yang menangis.

Aminah meratapi ketidakpastian keberadaan kedua anaknya, Tarno dan Roni, yang Minggu pagi berada di dalam rumah yang dikepung banyak orang. Raut muka kebingungan dan ketakutan membayang di wajah bocah-bocah perempuan yang berusia 10 tahun kurang itu.

Sumber: http://regional.kompas.com/read/2011/02/09/08594767/Ketika.Kedamaian.di.Cikeusik.Terusik

***

Catatan StudyCycle.NET

Massa penyerbu yang datang berbondong-bondong dari berbagai daerah lain ke satu tempat dalam waktu yang bersamaan mengindikasikan bahwa massa penyerbu itu terorganisasi rapi.

Massa penyerbu yang mentaati komando mengindikasikan itu massa penyerbu terlatih.

Massa penyerbu yang membantai korban tanpa hati nurani, tanpa peri kemanusiaan dan dengan peri kebinatangan mengindikasikan bahwa itu adalah masa tersesat (semua interpretasi agama yang benar selalu membuat pengikutnya makin berhati nurani dan semakin manusiawi).

Polisi? Kita memang berharap banyak pada polisi sebagai pengayom warga. Tapi video itu memperlihatkan polisis mengkhianati harapan kita sebagai warga negara.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Senin, 30 Agustus 2010

Ini Ormas yang Kerap Lakukan Kekerasan

Ormas
Ini Ormas yang Kerap Lakukan ‎Kekerasan
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi ‎Wedhaswary
Senin, 30 Agustus 2010 | 15:23 WIB
‎‎
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
‎Kapolri Jeneral (Pol) Bambang Hendarso Danuri
‎‎

JAKARTA, KOMPAS.com ‎‎— Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memaparkan data tindak ‎kekerasan atau aksi anarkis yang dilakukan sejumlah ormas dalam rapat koordinasi ‎gabungan DPR-pemerintah terkait ormas, Senin (30/8/2010) di Gedung DPR, ‎Jakarta.

Kapolri mengungkapkan, pada medio 2007-2010 terdapat 107 ‎tindak kekerasan. Berdasarkan data kepolisian, terdapat tiga ormas yang kerap ‎melakukan kekerasan selama empat tahun terakhir.

Selengkapnya, berikut ‎data yang dipaparkan Kapolri:

Tahun 2007: 10 tindak kekerasan oleh Front ‎Pembela Islam (FPI)
Tahun 2008: 8 tindak kekerasan oleh FPI dan Forum ‎Betawi Rempug (FBR)
Tahun 2009: 40 tindak kekerasan oleh FPI, FBR, dan ‎Barisan Pemuda Betawi
Tahun 2010: 49 tindak kekerasan oleh FPI

‎‎

"Dari rangkaian peristiwa, yang disidik dan tuntas hingga P21 ada 36 kasus," kata ‎Kapolri.

Kapolri berpandangan, ormas-ormas yang kerap melakukan ‎kekerasan perlu dibekukan. Akan tetapi, sanksi terhadap ormas-ormas ini belum ‎diatur dalam UU Nomor 8 tahun 1985. Oleh karena itu, Kapolri mengusulkan ‎perlunya revisi atas ketentuan UU tersebut.

Sumber:http://sc-collection.blogspot.com/2010/08/ini-ormas-yang-kerap-lakukan-kekerasan.html

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kapolri: Ormas Berulang Kali Bertindak Anarkis Layak Dibekukan

Senin, 30/08/2010 15:54 WIB
Kapolri: Ormas Berulang Kali Bertindak Anarkis Layak Dibekukan
Lia Harahap - detikNews
Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri

Jakarta - Ormas yang berulang kali melakukan tindakan anarkis dinilai layak dibekukan. Menurut catatan polisi, ormas seperti FPI, FBR dan Barisan Muda Betawi telah puluhan kali melakukan kekerasan.

Namun pembekuan ormas itu terganjal UU Ormas No 8/1985. Oleh karena itu UU itu diminta direvisi.

"Seharusnya ormas yang telah berulang kali melakukan tindakan anarkis ditindak tegas dengan cara dibekukan," ujar Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri.

Kapolri mengatakan itu dalam rapat dengan DPR tentang ormas anarkis di Gedung DPR, Senayan, Jakarta (30/8/2010).

Kapolri menuturkan, ormas yang cenderung melakukan kekerasan adalah FPI, FBR dan Barisan Muda Betawi. Pada tahun ini, ketiganya telah 49 kali melakukan tindakan kekerasan.

"Jika dihitung dari tahun sebelumnya bahkan ormas-ormas ini sudah 107 kali lakukan kekerasan," imbuh dia.

Kapolri membantah jika pihaknya dikatakan ragu-ragu dalam menindak ormas anarkis. Apabila ada jajaran kepolisian yang ragu menindak, akan dievaluasi.

"Seperti yang pernah terjadi pada Kapolres Bengkalis yang akhirnya kami copot terkait insiden pembakaran tempat pelacuran," kata jenderal yang akan pensiun pada Oktober mendatang ini.

(nik/nrl)

Source: http://us.detiknews.com/read/2010/08/30/155450/1431266/10/kapolri-ormas-berulang-kali-bertindak-anarkis-layak-dibekukan?991101605

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book