Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan Nasional. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Juli 2010

Pahlawan Nasional: Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy) (1783 -1817)

Kapitan Pattimura yang bernama asli Thomas Matulessy, ini lahir di Negeri Haria, Saparua, Maluku tahun 1783. Perlawanannya terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 sempat merebut benteng Belanda di Saparua selama tiga bulan setelah sebelumnya melumpuhkan semua tentara Belanda di benteng tersebut. Namun beliau akhirnya tertangkap. Pengadilan kolonial Belanda menjatuhkan hukuman gantung padanya. Eksekusi yang dilakukan pada tanggal 16 Desember 1817 akhirnya merenggut jiwanya.

Perlawanan sejati ditunjukkan oleh pahlawan ini dengan keteguhannya yang tidak mau kompromi dengan Belanda. Beberapa kali bujukan pemerintah Belanda agar beliau bersedia bekerjasama sebagai syarat untuk melepaskannya dari hukuman gantung tidak pernah menggodanya. Beliau memilih gugur di tiang gantung sebagai Putra Kesuma Bangsa daripada hidup bebas sebagai penghianat yang sepanjang hayat akan disesali rahim ibu yang melahirkannya.

Dalam sejarah pendudukan bangsa-bangsa eropa di Nusantara, banyak wilayah Indonesia yang pernah dikuasai oleh dua negara kolonial secara bergantian. Terkadang perpindahtanganan penguasaan dari satu negara ke negara lainnya itu malah kadang secara resmi dilakukan, tanpa perebutan. Demikianlah wilayah Maluku, daerah ini pernah dikuasai oleh bangsa Belanda kemudian berganti dikuasai oleh bangsa Inggris dan kembali lagi oleh Belanda.

Thomas Matulessy sendiri pernah mengalami pergantian penguasaan itu. Pada tahun 1798, wilayah Maluku yang sebelumnya dikuasai oleh Belanda berganti dikuasai oleh pasukan Inggris. Ketika pemerintahan Inggris berlangsung, Thomas Matulessy sempat masuk dinas militer Inggris dan terakhir berpangkat Sersan.

Namun setelah 18 tahun pemerintahan Inggris di Maluku, tepatnya pada tahun 1816, Belanda kembali lagi berkuasa. Begitu pemerintahan Belanda kembali berkuasa, rakyat Maluku langsung mengalami penderitaan. Berbagai bentuk tekanan sering terjadi, seperti bekerja rodi, pemaksaan penyerahan hasil pertanian, dan lain sebagainya. Tidak tahan menerima tekanan-tekanan tersebut, akhirnya rakyat pun sepakat untuk mengadakan perlawanan untuk membebaskan diri. Perlawanan yang awalnya terjadi di Saparua itu kemudian dengan cepat merembet ke daerah lainnya diseluruh Maluku.

Di Saparua, Thomas Matulessy dipilih oleh rakyat untuk memimpin perlawanan. Untuk itu, ia pun dinobatkan bergelar Kapitan Pattimura. Pada tanggal 16 mei 1817, suatu pertempuran yang luar biasa terjadi. Rakyat Saparua di bawah kepemimpinan Kapitan Pattimura tersebut berhasil merebut benteng Duurstede. Tentara Belanda yang ada dalam benteng itu semuanya tewas, termasuk Residen Van den Berg.

Pasukan Belanda yang dikirim kemudian untuk merebut kembali benteng itu juga dihancurkan pasukan Kapitan Pattimura. Alhasil, selama tiga bulan benteng tersebut berhasil dikuasai pasukan Kapitan Patimura. Namun, Belanda tidak mau menyerahkan begitu saja benteng itu. Belanda kemudian melakukan operasi besar-besaran dengan mengerahkan pasukan yang lebih banyak dilengkapi dengan persenjataan yang lebih modern. Pasukan Pattimura akhirnya kewalahan dan terpukul mundur.

Di sebuah rumah di Siri Sori, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap pasukan Belanda. Bersama beberapa anggota pasukannya, dia dibawa ke Ambon. Di sana beberapa kali dia dibujuk agar bersedia bekerjasama dengan pemerintah Belanda namun selalu ditolaknya.

Akhirnya dia diadili di Pengadilan kolonial Belanda dan hukuman gantung pun dijatuhkan kepadanya. Walaupun begitu, Belanda masih berharap Pattimura masih mau berobah sikap dengan bersedia bekerjasama dengan Belanda. Satu hari sebelum eksekusi hukuman gantung dilaksanakan, Pattimura masih terus dibujuk. Tapi Pattimura menunjukkan kesejatian perjuangannya dengan tetap menolak bujukan itu. Di depan benteng Victoria, Ambon pada tanggal 16 Desember 1817, eksekusi pun dilakukan.

Kapitan Pattimura gugur sebagai Pahlawan Nasional. Dari perjuangannya dia meninggalkan pesan tersirat kepada pewaris bangsa ini agar sekali-kali jangan pernah menjual kehormatan diri, keluarga, terutama bangsa dan negara ini. ► juka

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kamis, 08 Juli 2010

Plintar-Plintir Sejarah Kapitan Pattimura (Thomas Matulessy)

Saat ini ada strategi dari sebagian kalangan agamawan di Indonesia yang bermaksud mendirikan negara agama di Indonesia, menggunakan strategi mengubah sejarah.

Langkah strategi itu, pertama-tama adalah mengklaim bahwa para pahlawan nasional adalah umat Nabi Muhammad dan meyakinkan publik bahwa klaim tersebut benar. Langkah berikutnya yang biasanya masih disertakan dengan langkah pertama adalah meyakinkan publik bahwa para almarhum pahlawan itu dulu berjuang untuk menegakkan negara agama Islam di Indonesia (maksudnya Islam nabi Muhammad). Memang pelaku strategi ini tidak banyak. Tapi sebagian umat Nabi Muhammad termakan oleh omongan sejarah rekayasa ini. Bila dibiarkan terus, maka strategi tersebut akan menciptakan pembenaran atau justifikasi seolah-olah apa yang kelompok itu lakukan adalah kelanjutan dari para pahlawan itu. Klaim historis ini menjadi salah satu strategi untuk menegakkan Negara Islam Indonesia.

Ada banyak pahlawan yang menjadi "korban" dari strategi tersebut, salah satunya adalah Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy. Thomas Matullesy yang berasal dari marga Matullesy diaku juga sebagai umat Nabi Muhammad oleh kelompok itu. Marga Matulessy berasal dari desa Ullath yang sejarahnya beragama (lebih tepatnya bermazab) Kristen.

Kejanggalan dalam sejarah hasil rekayasa kelompok tersebut dapat adalah sebagai berikut:

  1. Menyangkal keberadaan fam atau marga Matulessy

    Kelompok tersebut menyatakan fam atau marga Matulessy itu tidak ada. Menurut kelompok tersebut, sejarah yang sekarang kita pegang itu janggal. Berikut ini kutipan dari tulisan kelompok tersebut:

    Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura atau Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

    Kenyataannya, fam Matulessy itu hingga saat ini masih ada. Marga atau fam ini adalah sebuah fam atau marga Maluku kuno yang berasal dari desa Ullath, Pulau Saparua. Jadi, justru sejarah versi kelompok itulah yang janggal, bukannya sejarah yang sekarang kita pegang. Bila pembaca ada yang bermarga Matulessy, silahkan kirim email atau message kepada kami sebagai bukti tambahan bahwa sejarah rekayasa kelompok itu tidak sesuai dengan kenyataan. Kelompok tersebut menyatakan bahwa sejarah respi adalah penipuan. Tapi dengan sejarah versi kelompok itu yang penuh kejanggalan, kita perlu curiga jangan-jangan justru sejarah versi kelompok itu yang menipu. "Maling teriak maling" agar publik tidak sadar bahwa dialah sebenarnya yang menipu. Ini sekedar kecurigaan kita karena adanya kejanggalan-kejanggalan dalam sejarah versi kelompok tersebut.
  2. Menyebutkan raja Maluku tidak punya marga.

    Sistem kekerabatan masyarakat Maluku adalah keluarga besar (extended family). Marga (FAM) Ambon merujuk kepada nama keluarga atau marga yang dipakai di belakang nama depan masyarakat Ambon/Maluku. Setiap nama Fam/Marga Ambon dapat diketahui asal kampung halamannya. Adalah sangat janggal bila raja Maluku yang merupakan raja adat masyarakat Maluku malah justru tidak bermarga.

  3. Mengarang marga "Lussy".

    Menurut kelompok tersebut, kata "Matulessy" berasal dari kata "Mat (Ahmad)" (nama diri) dan "Lussy" (nama marga). Digabungkan menjadi Matulessy. Tidak ditemukan marga "Lussy" di Maluku. Mungkin setelah tulisan ini dipublikasikan, nantinya akan muncul marga "Lussy" dan diaku seolah-olah telah berusia ratusan tahun. Kalaupun "Lussy" adalah nama diri, tetap saja janggal, karena itu berarti tidak ada nama marga. Hmmm padahal sistem kekerabatan orang Maluku adalah sistem keluarga besar.

  4. Menyatakan bahwa Thomas Matulessy tertangkap karena Belanda kuat setelah mendapat bala bantuan dari Batavia.

    Padahal, Thomas Matulessy tertangkap karena pengkhianatan orang dalam, bukan karena Belanda itu kuat. Pasukan Maluku itu lebih kuat dari Belanda, sehingga bila bukan karena pengkhianatan orang dalam, maka Belanda tidak akan menang.

  5. Memberi kesan seolah-olah yang berjuang melawan Belanda di Maluku adalah umat Nabi Muhammad saja.

    Padahal, masyarakat Maluku bahu-membahu bersama-sama melawan penjajah Belanda tanpa membeda-bedakan keyakinan. Contoh rekan perjuangan Thomas Matulessy dengan latar belakang keyakinannya: Philip Latumahina (Kristen), Said Parintah (umat nabi Muhammad), Anthony Rhebok (Indo-Belanda, Kristen) dan Christina Martha Tiahahu (Kristen)

Kejanggalan dalam kisah yang dimuat oleh suatu majalah dakwah itu sebenarnya dapat langsung diketahui andai pembaca mau berpikir kritis.

Selain kedua pahlawan nasional itu, masih ada lagi "korban" strategi klaim historis itu, misal Sisingamangaraja XII. Argumentasi yang kelompok tersebut ajukan sangat tidak ilmiah. Misal, karena Sisingamaraja XII berpoligami, maka tentulah dia umat nabi Muhammad. Padahal, para raja kerajaan Majapahit, Kediri, dsb juga berpoligami, lantas apakah para raja kerajaan Hindu dan Budha tersebut juga umat nabi Muhammad? Umat Nabi Muhammad yang kontra terhadap poligami banyak, sehingga tidak bisa diklaim bahwa setiap orang yang berpoligami pastilah umat nabi Muhammad.

Pahlawan nasional adalah orang yang berjuang mengusir penjajah Belanda dan Jepang serta bangsa asing lain dari bumi Indonesia demi kemerdekaan seluruh rakyat Indonesia, tak peduli rakyat itu beragama apa, selama masih Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang siap bahu membahu dengan orang-orang yang berbeda agama demi memajukan bangsanya. Pahlawan adalah seorang yang mempunyai hati nurani rakyat sebagai wujud pengamalan iman yang dianutnya. Harapan seorang pahlawan adalah kesejahteraan seluruh rakyat, bukan kesejahteraan penganut agamanya saja. Kepedulian utama mereka adalah kesejahteraan masyarakat, apapun agama yang dianut masyarakat itu. Jasa seorang pahlawan selalu lintas agama, tidak terbatas pada agamanya sendiri. Bila anda melihat seorang pahlawan tapi jasanya hanya sebatas pengikut agamanya sendiri saja, maka dapat dipastikan bahwa orang yang anda lihat itu bukan pahlawan.

Sebaiknya kita menempatkan posisi para pahlawan bangsa sebagaimana adanya mereka. Bila dia memang beragama Hindu, kita sebutlah mereka Hindu. Bila mereka beragama Budha, kita sebutlah mereka Budha. Bila mereka penganut animisme, kita sebutlah mereka animisme. Kita sebut apa adanya saja, sesuai kenyataannya saja, jangan diplintar-plintir. Berjuang menegakkan apa yang diyakini itu baik, apapun agama anda, tapi, jangan menghalalkan segala cara doooong...karena itu akan menodai cita-cita itu sendiri.

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Pahlawan Nasional: Agustinus Adisutjipto

Marsekal Muda TNI Anumerta Agustinus Adisutjipto

Pahlawan Nasional

(Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia

No. 071/ TK/ Tahun 1974, tanggal 9 November 1974)

Lahir : Salatiga, Selasa Kliwon 4 Juli 1916

Wafat : Yogyakarta, Selasa Pahing 29 Juli 1947

Makam : Yogyakarta

Agustinus Adisutjipto sempat belajar di Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoge School) di Jakarta, tetapi tidak selesai. Kemudian ia memutuskan untuk pindah ke Sekolah Penerbang Militaire Luchtvaart di Kalijati. Selesai pendidikan ia bertugas di Squadron Pengintai Udara.

Pada masa pendudukan Jepang, Adisutjipto bekerja pada perusahaan bus di Salatiga karena saat itu tidak satu pun orang Indonesia yang diperbolehkan menerbangkan pesawat. Sesudah Indonesia merdeka, ia menyumbangkan tenaga membina Angkatan Udara Republik Indonesia bersama S. Suryadarma, yang kemudian diangkat menjadi Kepala Staf AURI. Saat itu, tenaga penerbang sangat sedikit. Pesawat terbang hampir-hampir tidak ada, dan kalau pun ada sudah rongsokan. Teknisi-teknisi Indonesia berusaha memperbaiki pesawat tersebut. Tanggal 27 Oktober 1945, Adisutjipto berhasil menerbangkan sebuah pesawat. Penerbangan itu adalah penerbangan pertama yang dilakukan oleh putra Indonesia. Pada tanggal 1 Desember 1945 Adisutipto mendirikan Sekolah Penerbang di Yogyakarta, tepatnya di Lapangan Udara Maguwo, yang kemudian diganti namanya menjadi Bandara Adisutjipto, untuk mengenang jasa beliau sebagai pahlawan nasional. Di situ dididik kader-kader Angkatan Udara. Karena jasa-jasanya itu Adisutjipto disebut bapak Penerbang Indonesia.

Jabatan lain yang pernah dipegangnya ialah Wakil II Kepala Staf Angkatan Udara. Selain itu, pernah pula ditugasi ke India dan Filipina untuk mencari tenaga pelatih dan menyewa pesawat terbang. Di India, berkat bantuan Perdana Menteri Jawaharlal Nehru, ia berhasil mengadakan perundingan dengan Patnaik yang kemudian bersedia menyewakan sebuat pesawat Dakota.

Untuk kedua kalinya, bersama Abdulrahman Saleh, pada bulan Juli 1947, Adisutjipto pergi ke India. Penerobosan blokade udara Belanda menuju India dan Pakistan berhasil dilakukan. Mereka kembali membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Internasional untuk Palang Merah Indonesia, dengan menggunakan pesawat Dakota VT CLA. Pada tanggal 29 Juli 1947 waktu akan mendarat di Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta, pesawat tersebut ditembaki oleh pesawat pemburu Belanda P-40 Kittyhawk sehingga jatuh dan terbakar. Marsekal Muda Adisutjipto pun gugur. Beliau dimakamkan di Pemakaman Umum Kuncen dan kemudian pada tanggal 14 Juli 2000 dipindahkan ke Monumen Perjuangan di desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.

sumber :

  1. Arief Gunarso,S.TP.; Ensiklopedia Pahlawan Nasional. Penerbit TandaBaca, Juli 2007
  2. A. Heuken SJ; Ensiklopedi Populer tentang Gereja Katolik di Indonesia. Yayasan Cipta Loka Caraka, 1989 id.wikipedia .org

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Pahlawan Nasional: Ignatius Slamet Rijadi

Pemerintah mengangkat Brigadir Jenderal (Anumerta) Slamet Rijadi sebagai Pahlawan Nasional. Dalam upacara di Istana Negara Jumat 9/11/07, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menyampaikan anugerah Bintang Mahaputera Utama. Lalu, pada Senin (12/11/07) siang, KSAD Jenderal Djoko Santoso bertindak sebagai Inspektur Upacara pada peresmian patung Ignatius Slamet Rijadi di Jalan Slamet Rijadi, jalan raya yang membelah kota Solo, Jawa Tengah.

Sabtu (4 November 1950) sore Letkol Ignatius Slamet Rijadi memerintahkan pasukan Groep II Komando Pasukan Maluku Selatan atau KP Malsel mendekati Benteng Victoria, Ambon.

Menurut laporan intelijen, di benteng bekas VOC itu masih bertahan sisa-sisa pasukan Republik Maluku Selatan (RMS). Pada sisi lain, Pak Met, begitu panggilan akrabnya dari semua anak buahnya, juga menerima informasi, benteng itu pada Jumat siang sudah bisa direbut oleh pasukan Mayor Lukas Koestarjo dari Divisi Siliwangi.

Slamet Rijadi ada di dalam panser paling depan, dikemudikan Kapten Klees, Komandan Eskader Kavaleri. Di belakangnya, dua panser lain mengikuti. Tiba-tiba tembakan gencar berdatangan dari arah benteng, langsung menghujani pertahanan pasukan TNI. Pak Met kaget. Sementara itu, Klees langsung memerintahkan anak buahnya segera membalas tembakan. Tiba-tiba Pak Met berteriak, "Stop het veuren. Hentikan tembakan."

"Mengapa Overste?" tanya Kapten Klees heran.

Pak Met menukas, "Ini semua salah paham. Lihat, mereka semua mengibarkan Merah Putih dari dalam benteng. Pasti mereka TNI, anak-anak Siliwangi. Saya akan keluar memastikan…."

Klees berusaha mempertahankan pendapatnya, "Overste, saya bekas KNIL. Saya tahu cara bertempur mereka. Bisa saya pastikan, mereka adalah bekas KNIL yang bergabung ke RMS. Jangan hiraukan mereka, meski mereka mengibarkan Merah Putih…."

Jawaban Pak Met amat mengejutkan, "Saya Komandan KP Malsel. Lihat tembakan mereka sudah berhenti. Saya akan keluar untuk lebih memastikan, buka canopy (kubah) panser."

"Siap Overste," jawab Klees sambil menarik tungkai pembuka kubah panser. Pak Met keluar panser, tanpa memakai topi baja. Hanya membawa teropong sambil berkalungkan owen gun, senapan otomatis kesayangannya.

Apa yang dikawatirkan Klees menjadi kenyataan. Slamet Rijadi tidak pernah tahu bahwa pada Sabtu dini hari pasukan komando RMS telah menguasai kembali Benteng Victoria sekaligus mengusir keluar anak buah Lukas Koestarjo. Maka, apa yang disangka Slamet Rijadi bahwa benteng itu masih dikuasai TNI, keliru. Seorang sniper (penembak jitu) RMS dari atas Benteng Victoria Sabtu sore itu bagai menemukan durian runtuh. Dengan jelas, dia melihat Slamet Rijadi keluar dari dalam panser. Sebuah tembakan langsung terdengar, pelurunya meluncur tepat mengenai bagian perut Pak Met.

Melihat tubuh komandannya jatuh, Klees langsung memerintahkan kedua panser lain menghujani benteng dengan tembakan gencar. Tindakan itu agar bisa memberi kesempatan kepada dirinya membawa Pak Met ke garis belakang di Laha. Tubuh Slamet Rijadi langsung diangkut ke KM Waibalong yang membuang sauh di depan Pelabuhan Laha. Beberapa jam kemudian, Mayor Dr Abdullah, perwira kesehatan, memberi laporan kepada Kolonel Alex Kawilarang, Panglima KP Malsel, "Letnan Kolonel Ignatius Slamet Rijadi gugur pada sekitar pukul 11.30 Sabtu malam…."

Ganti nama

Slamet Rijadi dilahirkan di Kampung Danukusuman Solo pada Rebo Pon, 28 Mei 1926 dengan nama Soekamto. Karena semasa kecil sering sakit, namanya diganti menjadi Slamet. "...ketika di SMP Negeri II Solo banyak anak bernama Slamet. Maka oleh gurunya diberi tambahan nama, maka jadilah sampai sekarang Slamet Rijadi," kata Kolonel (Purn) Soejoto, teman main Pak Met sejak kecil, yang kemudian menjadi anak buah saat bergerilya di daerah Solo, menumpas gerombolan DI di Jawa Barat, dan dalam operasi menumpas RMS mulai dari Pulau Buru sampai ke Pulau Ambon, Maluku.

Dengan demikian, Pak Met gugur saat usianya belum genap 24 tahun. Namun, meski hidupnya amat singkat, jejak serta teladan yang ditinggalkan amat mengesankan. Dia tidak hanya seorang jago tempur, yang dilakukan secara otodidak dengan belajar dari buku dan majalah militer, oleh karena dia terjun menjadi anggota militer semata-mata untuk memenuhi panggilan revolusi sehingga bukan lewat jalur formal.

Namun, Pak Met, amat berbeda dengan para pemimpin perang lain, meninggalkan naskah tertulis yang masih bisa dipakai sampai hari ini dalam judul Pedoman Gerilya I dan II. Bahkan, berbeda dengan AH Nasution atau TB Simatupang, yang menulis bukunya sesudah perang selesai. "Pak Met menulis di tengah pertempuran, berdasarkan pengalaman yang ditemukan selama perang. Salah satu yang legendaris adalah petunjuknya, de beste verdediging ligt juist in de anvall. Pertahanan terbaik teletak pada penyerangan," kata Kolonel (Purn) Aloysius Soegianto, tokoh intelijen sekaligus bekas ajudan Pak Met.

Pasukan komando

Seusai operasi penumpasan RMS, saat Alex Kawilarang sudah diangkat sebagai Panglima Siliwangi, dia teringat gagasan Slamet Rijadi untuk membentuk pasukan komando, "...yang terampil dalam bertempur dalam semua medan sekaligus mahir menggunakan aneka macam senjata."

Kawilarang memerintakan Soegianto mencari Visser, bekas kapten pasukan komando Belanda, yang karena bercerai minta pensiun dini dan tidak mau pulang ke Negeri Belanda.

Soegianto mengungkapkan, "Visser saya temukan sudah menjadi petani kembang di Pacet dan berganti nama jadi Mohammad Idjon Djanbi. Dia lalu diaktifkan sebagai mayor dalam dinas TNI oleh Panglima Kawilarang, diminta melatih dan membentuk pasukan komando." Jadilah kemudian pasukan Baret Merah KKAD (Kesatuan Komando Angkatan Darat) yang nantinya tumbuh menjadi RPKAD, Sandi Yudha, dan kini dikenal sebagai Kopassus (Komando Pasukan Khusus) TNI Angkatan Darat. Karena itu, Pak Met juga dikenal sebagai tokoh penggagas terbentuknya pasukan komando di Indonesia.

Pak Met gugur dalam usia muda. Namun, dia telah meninggalkan jejak panjang dan sangat bermakna. Khususnya sebuah teladan dalam perjuangan menegakkan Republik Proklamasi serta menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (Kompas, 10/11/2007 oleh Julius Pour Wartawan; Penulis Biografi)

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book