Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gus Dur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 September 2010

Tak Punya Latar Belakang Presiden

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid memang unik. Dalam situasi genting dan sangat penting pun dia masih sering meluncurkan joke-joke yang mencerdaskan.

Seperti yang dituturkan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saat diinterview salah satu televisi swasta. "Waktu itu saya hampir menolak penunjukannya sebagai Menteri Pertahanan. Alasan saya, karena saya tidak memiliki latar belakang soal TNI/Polri atau pertahanan," ujar Mahfud.

Tak dinyana, jawaban Gus Dur waktu itu tidak kalah cerdiknya. "Pak Mahfud harus bisa. Saya saja menjadi Presiden tidak perlu memiliki latar belakang presiden kok," ujar Gus Dur santai.

Karuan saja Mahfud MD pun tidak berkutik. "Gus Dur memang aneh. Kalau nggak aneh, pasti nggak akan memilih saya sebagai Menhan," kelakar Mahfud.

Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=26466

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sate Babi

Suatu ketika Gus Dur dan ajudannya terlibat percakapan serius.

Ajudan: Gus, menurut Anda makanan apa yang haram?

Gus Dur: Babi

Ajudan: Yang lebih haram lagi

Gus Dur: Mmmm ... babi mengandung babi!

Ajudan: Yang paling haram?

Gus Dur: Mmmm ... nggg ... babi mengandung babi tanpa tahu bapaknya dibuat sate babi!

Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=26466

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Kaum Almarhum

Mungkinkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologi"nya itu. Padahal hal tersebut sering membuat repot para koleganya.

Tapi, ini mungkin jawaban yang benar, ketika ditanya kenapa Gus Dur sering berziarah ke makam para ulama dan leluhur.

"Saya datang ke makam, karena saya tahu. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan lagi." Katanya.

Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=26466

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Saleh Sudah Mendarat di Airport Abdurahman Wahid

Pada akhir April 2000, Gus Dur sempat ke Malang, dan mendarat di Bandara Abdurrahman Saleh. Ini mengingatkan dia pada peristiwa belasan tahun silam, ketika dia mendarat di bandara yang sama dari Jakarta, saat masih ada penerbangan regular dari Bandara Halim Perdanakusuma ke Malang.

Waktu itu Gus Dur bersama antara lain Almarhum Jaksa Agung Sukarton Marmosujono. Sebagaimana lazimnya untuk rombongan orang penting, mereka pun disambut oleh pasukan Banser NU.

Ketika rombongan sudah siap berangkat ke Selorejo, sekitar 60 kilometer dari bandara, petugas Banser melaporkan pada posko melalui handy talky.

“Halo, halo, rojer,” kata Mas Banser. “Lapor: Abdurrahman Saleh sudah mendarat di airport Abdurrahman Wahid!”

Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=26466

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Santri Dilarang Merokok

"Para santri dilarang keras merokok!" begitulah aturan yang berlaku di semua pesantren, termasuk di pesantren Tambak Beras asuhan Kiai Fattah, tempat Gus Dur pernah nyatri. Tapi, namanya santri, kalau tidak bengal dan melanggar aturan rasanya kurang afdhol.

Suatu malam, tutur Gus Dur, listrik di pesantren itu tiba-tiba padam. Suasana pun jadi gelap gulita. Para santri ada yang tidak peduli, ada yang tidur tapi ada juga yang terlihat jalan-jalan mencari udara segar.

Di luar sebuah rumah, ada seseorang sedang duduk-duduk santai sambail merokok. Seorang santri yang kebetulan melintas di dekatnya terkejut melihat ada nyala rokok di tengah kegelapan itu.

"Nyedot, Kang?" sapa si santri sambil menghampiri "senior"-nya yang sedang asyik merokok itu. Langsung saja orang itu memberikan rokok yang sedang dihisapnya kepada sang "yunior". Saat dihisap, bara rokok itu membesar, sehingga si santri mengenali wajah orang tadi.

Saking takutnya, santri itu langsung lari tunggang langgang sambil membawa rokok pinjamannya. "Hai, rokokku jangan dibawa!" teriak Kiai Fatta.

Sumber: http://forum.vivanews.com/showthread.php?t=26466

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sabtu, 28 Agustus 2010

Islam Transnasional Mengkhawatirkan

Gerakan Islam
Islam Transnasional Mengkhawatirkan
Sabtu, 28 Agustus 2010 | 20:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Gerakan kelompok-kelompok islam garis keras atau Islam transnasional di Indonesia dinilai mengkhawatirkan. Sejak memulai gerakan 10 tahun lalu, mereka terus menggelar aksi menuntut penerapan syariat islam, melakukan razia, bahkan hingga jihad didaerah-daerah konflik, terutama di wilayah Indonesia Timur.

"Membuat kita semua khawatir, jangan-jangan kalau dibiarkan mereka akan mampu ambil alih ruang publik di negara yang mayoritasnya muslim moderat," kata Noorhaidi Hasan, ahli Fundamentalis Islam, saat peluncuran buku edisi revisi Ilusi Negara Islam Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia di Kantor The Wahid Institute di Jakarta, Sabtu (28/8/2010).

Noorhaidi menilai, saat ini kelompok-kelompok Islam radikal itu masih berada di pinggir dari arus utama. Namun, suara mereka yang lantang dan keras meneriakan isu penerapan Syariat Islam membuat kekhawatiran itu tetap besar. Karena itu, pemerintah harus tegas terhadap kelompok-kelompok radikal itu agar tetap menjamin hak-hak asasi setiap warga negara.

Nuruzzaman, Ketua Cabang GP Anshor Cirebon, yang hadir sebagai pembicara, mengatakan, kelompok-kelompok garis keras terus bermunculan di wilayah Cirebon. Hasil penelitian sementara pihaknya, ada 14 organisasi Islam fundamentalis yang berdiri di Cirebon. Menurut dia, salah satu dari organisasi itu bahkan hingga menggelar pelatihan semi militer di sekolah dasar.

Contoh konrit dari aksi organisasi radikal di Cirebon yang baru terjadi, ungkap Nuruzzaman, yakni penghentian ibadah di tiga Gereja. Bahkan, menurut dia, aparat tertinggi kepolisian di Cirebon tidak mampu menghentikan aksi ketika jemaat meminta perlindungan.

"Kaum minoritas bilang tolong kami dijaga. Apa jawabannya? 'Kami tidak bisa jaga keamanan. Saya bilang kalau polisi tidak bisa jaga, banser yang jaga. Setiap hari kami jaga dan hanya dua orang banser. Setelah dijaga tidak pernah ada lagi yang stop. Ini realitas yang terjadi di Cirebon," jelasnya.

Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2010/08/28/2037505/Islam.Transnasional.Mengkhawatirkan

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Minggu, 04 Juli 2010

Pelajaran dari Gus Dur

Opini Jawa Pos [Jum'at, 08 Januari 2010

Pelajaran dari Gus Dur

Oleh: Ahmad Tohari
KANJENG Nabi Muhammad SAW pernah tidur di lantai tanah dengan hanya beralas tikar daun kurma. Maka, ada tanda-tanda guratan pada pipinya yang mulia ketika beliau bangun. Hal yang hampir sama diamalkan mantan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang pekan lalu kembali ke haribaan Sang Khaliq. Pada 1995, Gus Dur tidur dua malam di rumah saya yang sederhana di kampung. Malam pertama dia mau tidur di dipan kayu yang saya sediakan. Tetapi, malam kedua dia memilih sendiri tidur di karpet murahan yang menutup lantai ruang tengah. Gus Dur tampak santai dan tidur amat lelap. Kepalanya hanya tersangga bantal sandaran kursi. Perihal Gus Dur suka tidur di karpet sudah saya ketahui sejak lama. Ketika naik haji bersama pada 1988, saat tidur di hotel, Gus Dur memilih karpet daripada kasur kelas satu kamar hotel berbintang lima. Tapi, itu karpet kualitas super. Sedangkan saya hanya mampu membeli karpet murah yang kasar, lagi pula debunya tak pernah disedot. Kami percaya, Gus Dur melakukan semua itu dengan enak, tanpa pretensi apa pun. Tapi, istri saya menjadi tak bisa tidur dan sepanjang malam sering mengusap air mata. Saya pun merenung dalam kesadaran bahwa semua perilaku orang berilmu mengandung pelajaran. Maka, pelajaran apa yang sedang diberikan Gus Dur kepada kami? Bertahun-tahun pertanyaan itu mengusik jiwa saya. Akhirnya saya mendapatkan jawaban dan mudah-mudahan mendekati kebenaran. Dengan rela tidur di lantai, Gus Dur sesungguhnya sedang mengajari kami menyadari hakikat diri bahwa manusia sehebat apa pun sesungguhnya tidak ada apa-apanya. Kemuliaan adalah hak Allah semata. Maka, manusia, siapa pun, tidak pantas merasa mulia, tak pantas minta, apalagi menuntut dimuliakan. Jadi, semua manusia sepantasnya rela tidur di lantai karena sesungguhnya tak ada kemuliaan baginya melainkan hak Allah. Mungkin, jalan pikiran ini terlalu nyufi. Maka, saya mulai mencari jawaban di wilayah sarengat (syariat, Red). Rasanya, saya menemukan jawabannya, yakni pada rukun Islam yang pertama, syahadat. Setelah syahadat (taukhid) diucapkan fasih dengan lisan, dibenarkan dengan akal yang dipercaya dengan hati. Lalu? Seperti rukun Islam yang lain, syahadat sebenarnya menuntut implemantasi dalam bentuk perilaku nyata sehar-hari. Kalau tidak syahadat, hanya akan mewujud dalam wilayah simbol yang tidak melahirkan ihsan. Orang Islam mana yang tidak tahu bahwa syahadat adalah kesaksian bahwa tidak ada ilah (Tuhan, Red) selain Allah? Semua tahu, mengerti, dan yakin. Tapi, siapa yang sudah mengimplementasikan itu dalam kehidupan nyata? Kita memang sudah menjaga kebersihan syahadat dengan tidak menyembah berhala, tidak percaya dukun, bahkan mungkin tidak memberhalakan harta maupun kedudukan. Itu sudah hebat sekali. Namun, masih ada pertanyaan kritis yang menunggu dijawab: apakah karena sudah bersyahadat, kita tidak lagi memberhalakan diri dalam segala bentuk dan manifestasinya? Merasa diri mulia, istimewa, atau lebih ini lebih itu daripada orang lain adalah manifestasi bentuk-bentuk awal pemujaan atau peng-ilah-an diri. Tentu saja hal itu menodai keikhlasan syahadat. Sebab, hanya Allah yang sejatinya mulia, sejatinya istimewa, dan serbalebih daripada makhluk mana pun. Oleh karena itu, siapa pun yang ingin memelihara syahadatnya akan selalu bersikap tahu diri kapan dan di mana pun. Selama hampir 30 tahun saya bergaul dengan Gus Dur, sikap tahu diri itulah yang tampak dan terasa memancar dari kepribadiaanya. Dia hormat kepada yang tua, sayang kepada yang muda, dan amat bersahabat dengan teman seusia. Rasa setiakawannya yang mendalam menembus batas ras, agama, status sosial, bahkan batas kebangsaan. Dalam satu kalimat, Gus Dur adalah orang yang sangat tahu diri dan merasa dirinya biasa, sama dengan orang lain. Itulah pelajaran dan keteladanan yang saya dapatkan. Itulah cara Gus Dur mengajari saya memelihara syahadat. Caranya, tidak menganggap diri mulia atau istimewa karena keduanya adalah hak Allah. Dengan demikian, saya mengerti mengapa Gus Dur rela dan enak saja tidur di lantai rumah saya yang sederhana. Agaknya karena syahadat yang telah terhayati mencegah dirinya merasa istimewa atau merasa sebagai manusia mulia. Sementara kebanyakan kita, karena tidak menghayati syahadat, sering merasa diri mulia atau terhormat, atau bahkan menuntut kehormatan. Padahal, sikap seperti itu jelas mengurangi mutu kesaksian bahwa tidak ada ilah selain Allah. Wallahu a'lam. *). Ahmad Tohari, budayawan

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sabtu, 03 Juli 2010

PBB Beri Penghormatan untuk Gus Dur

PBB Beri Penghormatan untuk Gus Dur

Kamis, 7 Januari 2010 17:19 WIB | Antara News

New York (ANTARA News) - Masyarakat internasional yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terutama sekretaris jenderal organisasi itu Ban Ki-moon, menyampaikan penghormatan dan penghargaan kepada mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang meninggal pada 30 Desember 2009.

Ungkapan penghormatan bagi sosok yang menjabat sebagai Presiden ke-4 RI, periode 20 Oktober 1999-24 Juli 2001, tersebut mengalir melalui Perwakilan Tetap RI untuk PBB di New York.

PTRI yang berlokasi beberapa blok dari Markas Besar PBB itu selama tiga hari, yaitu 4-6 Januari, menyediakan Buku Duka Cita yang ditempatkan di Perpustakaan Abdurrahman Wahid di gedung PTRI New York.

Di perpustakaan itu diletakkan foto Gus Dur, bendera Merah Putih yang dipasang setengah tiang, serta bunga.

Perpustakaan itu diresmikan langsung Gus Dur pada 5 September 2000 di sela-sela kunjungannya sebagai Presiden RI ke New York dalam rangka menghadiri Sidang Majelis Umum PBB tahunan.

Menurut Kuasa Usaha Ad Interim PTRI-New York, Duta Besar Hasan Kleib, ucapan duka cita dari Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon disampaikan melalui sekretaris kabinetnya, Vijay Nambiar.

Sekjen PBB mencatat bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang membuat Indonesia terkenal di seluruh dunia.

"Gus Dur akan dikenang untuk ketakwaan, kesederhanaan dan visi besarnya. Ia menjadikan bangsa Indonesia dihormati di seluruh dunia karena semangat demokratisnya," demikian seperti ditulis Vijay Nambiar atas nama Sekjen PBB.

Hasan Kleib mencatat setidaknya ada empat hal yang banyak dinyatakan berbagai pihak di kalangan PBB tentang kontribusi Gus Dur terhadap Indonesia dan dunia, yaitu upayanya memajukan penghormatan HAM; peningkatan proses demokrasi; harmonisasi antar-agama; dan pluralisme di Indonesia.

Sementara itu, seorang pejabat tinggi PBB yang pernah mengenal secara pribadi sosok Gus Dur, yaitu Wakil Sekjen PBB urusan Politik B. Lynn Pascoe, juga mendatangani Gedung PTRI New York.

Lyn Pascoe, yang pernah menjabat sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia periode Oktober 2004-Februari 2007, menulis: "Presiden Gus Dur merupakan mercu suar kebijaksanaan dan toleransi bangsa Indonesia dan dunia. Saya merasa sangat terhormat pernah mengenal dan bekerja sama dengan beliau".

Penghormatan bagi Gus Dur juga diberikan oleh perwakilan negara-negara anggota PBB dari berbagai kawasan, termasuk sembilan negara sahabat sesama negara ASEAN, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Kamboja dan Myanmar.

Para wakil tetap negara-negara ASEAN itu langsung mendatangi PTRI New York untuk menyatakan duka cita serta mengapresiasi kontribusi yang telah diberikan Gus Dur.

Wakil Tetap Singapura Vanu Gopala Menon, misalnya, menulis "Pak Abdurrahman Wahid akan selalu dikenang sebagai sosok yang menjunjung tinggi harmonisasi antar-keyakinan serta membangun dasar Indonesia menjadi negara demokrasi yang bergairah seperti sekarang.

"Beliau adalah ulama yang disegani dan merupakan reformis sejati. Indonesia kehilangan salah satu putera terbaiknya. Sumbangsih dan peninggalan Pak Wahid akan dikenang oleh Indonesia dan teman-temannya di seluruh dunia."

Negara tetangga Indonesia lainnya, yakni Australia, melihat Gus Dur selain sebagai penjunjung semangat toleransi, juga sebagai sosok dengan karakter unik.

Perwakilan tetap Australia untuk PBB, Gary Francis Quinlan, melihat Gus Dur sebagai sosok yang memiliki pemikiran terbuka dan bersikap santai.

Gus Dur dinilai unik karena canda yang dilontarkannya namun juga karena keingintahuan, optimisme serta komitmennya terhadap perlindungan sipil dan penegakkan demokrasi.

"Ia dihormati di kawasan dan dunia global," tulis Quinlan.

PTRI New York menyampaikan surat pemberitahuan tentang meninggalnya Gus Dur ke Sekretariat PBB pada 30 Desember 2009.

PBB saat ini beranggotakan 192 negara, termasuk Indonesia.

Lebih 70 pihak termasuk petingggi PBB lainnya, seperti para wakil Sekjen PBB, utusan khusus Sekjen PBB serta wakil tetap maupun kuasa usaha ad interim negara-negara anggota PBB, secara langsung menyampaikan ucapan duka cita mereka.

Ucapan duka cita dan penghormatan bagi Gus Dur juga datang dari Israel, anggota PBB yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Dalam Buku Duka Cita, Kuasa Usaha Ad Interim Israel Daniel Carmon menulis, "Presiden Abdurrahman Wahid adalah negarawan dunia, pemimpin dan promotor dialog antar-agama dan kebudayaan. Upayanya membawa perdamaian adalah sesuatu yang harus dihargai dan diingat. Dunia membutuhkan pemimpin-pempimpin seperti Presiden Wahid!".

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book

Sekjen OKI: Gus Dur Pendukung Kuat OKI

Sekjen OKI:

Gus Dur Pendukung Kuat OKI

Rabu, 6 Januari 2010 19:10 WIB | Antara News

Jeddah (ANTARA News) - Mantan Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan pendukung kuat Organisasi Konferensi Islam (OKI), kata Sekjen OKI Professor Ekmeleddin Ihsanoglu, di Kantor KJRI Jeddah, Rabu.

Sekjen OKI berkunjung ke KJRI Jeddah dan menyampaikan ucapan duka cita atas wafatnya mantan Presiden ke-4, KH. Abdurrohman Wahid, kata Dharmakirty SP, Pelaksana Fungsi Pensosbud KJRI Jeddah kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Dalam ucapan dukanya yang disampaikan langsung kepada Konjen RI Jeddah Gatot Abdullah Mansyur di ruang kerjanya, ia mengatakan bahwa almarhum merupakan salah seorang tokoh yang bukan saja dikagumi oleh warga Indonesia namun juga oleh umat Islam dunia.

Ia menjelaskan bahwa Sekjen OKI itu menyebutkan bahwa mantan Presiden RI keempat itu juga telah meletakkan fondasi yang solid atas tegaknya demokrasi, berjuang keras untuk kebaikan bangsa Indonesia dan juga sebagai pendukung kuat OKI.

Untuk itu atas nama pribadi dan lembaga pihaknya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada pemerintah Indonesia, keluarga besar almarhum dan juga warga Indonesia, katanya.

Ucapan belasungkawa atas wafatnya Presiden RI ke-4 juga datang ke KJRI Jeddah dari berbagai pihak antara lain dari Bank Pembangunan Islam dan para diplomat asing di wilayah Jeddah.

Ucapan belasungka tersebut tertulis dalam buku condolence yang disediakan KJRI Jeddah selama tiga hari kerja sejak hari Minggu yang lalu.

Sementara itu sejak wafatnya Presiden RI ke-4 ini, masyarakat Indonesia di Jeddah telah melaksanakan shalat ghaib dan tahlil bersama tiap setelah maghrib dan puncaknya akan diadakan peringatan 7 hari wafatnya Gus Dur di Balai Nusantara, Wisma Konjen RI Jeddah Rabu malam ini (6/1/2010).(*)

Related Articles:



This Related-Post-By-Category Widget by Hoctro | Jack Book